KEKHAWATIRAN isu SARA masih akan mewarnai pilkada serentak yang diikuti 171 daerah pada bulan Juni nanti tetap membayangi benak sebagian besar warga yang tinggal di sejumlah kota besar.
Hal itu tercermin dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Kompas terhadap 774 responden berusia mnimal 17 tahun pada 14 dan 15 Februari di 15 kota besar di Indonesia.
Sebanyak 60,2 persen responden khawatir mobilisasi isu SARA dalam pilkada serentak nanti akan memperkecil peluang kemenangan bagi calon yang diserang, 32,6 persen tidak khawatir.
Sebanyak 72,6 persen responden khawatir mobilisasi isu SARA akan menyulut kebencian antarpendukung calon, 21,3 persen tidak khawatir, sementara 73 persen khawatir akan memicu konflik terbuka antarpendukung calon dan 21,2 persen tidak khawatir.
Sejauh ini suasana kampanye pilkada serentak 2018 yang dimulai 15 Februari lalu belum dirasakan oleh publik, terutama mereka yang akan menentukan pilihan, sedangkan adu gagasan antarcaon juga belum tampak.
Mobilisasi isu SARA belum terasa massif sehingga dinamika atau kondisi politik di daerah yang mengikuti pilkada masih kondusif.
Jika ada kekhawatiran yakni peristiwa beruntun penyerangan tokoh agama atau ulama oleh orang-orang yang disebut tidak waras atau gila.
Kejadian terakhir adalah kasus kekerasan terhadap KH Abdul Hakam Mubarok, pengasuh Pondok Pesantren Karangasem, Paciran, Lamongan (Minggu, 18/2), diduga juga dilakukan oleh orang tidak waras.
Dalam kejadian sebelumnya, pimpinan Pondok Pesantren Cicalengka, Bandung KH Umar Basri (27/1) dianiaya seorang yang diduga juga tidak waras sehingga mengalami luka-luka, dan terhadap tokoh organisasi Persatuan Islam HR Prawoto sampai meninggal.
Kejadian lainnya berupa intimidasi terhadap tokoh agama Budha di Tangerang dan penyerangan terhadap umat dan pemuka agama Katholik di Gereja Santa Lidwina, Sleman, DI Yogyakarta. Di Tuban, Jatim sebuah masjid dirusak orang yang diduga mengalami gangguan jiwa.
Selain isu SARA, pilkada serentak 2018 juga diwarnai isu politik uang (money politics) tercermin dari beberapa bupati yang dicokok KPK, diduga terlibat rasuah untuk menggalang dana kampanye.
Ayo para calon, tampilkan program dan gagasan anda dalam pilkada!





