MATAHARI sepenggal galah bersinar di ufuk timur, Kampung Alak terlihat sepi di Sabtu (10/3/2018). Sebuah pembatas jalan, di pintu masuk tertulis sebuah grafiti “Gang Neraka.”
Yah, gang itu adalah pintu masuk dari Lokalisasi Pekerja Seks Komersial (PSK) legal tertua di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Karang Dempel atau lebih dikenal dengan KD, konon lokalisasi ini sudah ada sejak tahun 1990.
Di kiri-kanan jalan masuk ke gang itu, tempat-tempat karaoke masih tutup dan lokalisasi itu berada di gang-gang di belakang gedung-gedung karaoke itu. Mirip seperti barak, di kiri kanan berdiri rumah-rumah petak tempat para PSK tinggal dan beroperasi. Namun untuk masuk wilayah itu harus melewati sebuah gerbang yang dibuka di pagi hari dan dikunci di dini hari.
Tidak jauh dari gang tersebut di dinding sebuah rumah petak yang hanya mempunyai satu kamar dan satu kamar mandi yang bergabung dengan dapur, tertulis “Anda Memasuki Kawasan Wajib Pakai Kondom”. Di depan kamar itu, bagi yang belum ada tamu sang PSK duduk di kursi sambil merokok. Dengan memakai pakaian seadanya, ia berusaha menarik perhatian setiap tamu laki-laki yang berseliweran. Namun bagi yang sudah ada tamu, mereka berada dalam kamar dengan pintu terkunci rapat.
Menurut Vincent salah seorang petugas pengawas di lokalisasi itu, rata-rata PSK sudah berumur, sebagian besar berusia 50 tahun dan bahkan ada yang di atas 60 tahun. “Sudah nenek-nenek, tapi masih mau berkerja melayani hidung belang. Sudah kita kasih pulang tapi mereka balik dan balik lagi,” kata Vincent dengan logat timur yang kental.
Dan ketika ditanyakan kepada salah seorang PSK, sebut saja namanya Kembang, 53 tahun, sudah puluhan tahun ia berkerja menjadi pemuas nafsu laki-laki di Lokalisasi itu, dia tidak bisa pergi karena tidak bisa membayar hutang-hutangnya kepada rentenir yang kian hari bunganya terus menumpuk. Sementara untuk bertarung di luar lokalisasi ia tidak bisa dan tidak siap mental. Menjadi PSK baginya sudah menjadi pekerjaan yang gampang dilakukan dan menghasilkan. Ia tidak susah-susah namun bisa menghasilkan uang, akhirnya hal itu membuat Kembang kembali dan kembali lagi ke Gang Neraka itu.
“Ada 4 titik Lokalisasi yang ada di Alak ini dengan jumlah PSK mencapai 200 orang,” jelas Vincent yang mengambil wilayah tersebut dari pemilik awal yang sudah almarhum setahun lalu.
Di lokalisasi KD ini, tamu tidak memilih teman kencannya dengan melihat foto-foto mereka, namun mereka dapat langsung melihat ke lorong dari kamar ke kamar dan menawar langsung setiap PSK yang dia mau. Cocok harga maka hubungan berlanjut dan kalau pengen pindah ke kamar lain juga boleh asal cukup uang untuk membookingnya.
Dan tidak ada seorang pun yang mengkoordinir mereka, di sana mereka hanyalah anak kos yang bebas menerima tamu siapa saja dan dari mana saja. Setiap minggu mereka harus membayar sewa kamarnya sekira Rp200.000. Kalau ia tidak membayar maka mereka akan berhutang dan harus dilunasi di minggu besoknya atau keluar dari sana dengan hutang yang harus tetap dilunasi.
Nah kondisi inilah, yang dimanfaatkan oleh rentenir untuk meminjamkan uang dengan bunga berlipat. Jadi kalau sepi pelanggan, koperasi berjalan itulah yang meminjamkan uang untuk melunasi yang harus dia cicil setiap hari. Kalau itu pun tidak terbayar, maka hutang akan berbunga dan terus berbunga. Semakin sulitlah bagi mereka untuk keluar dari pekerjaan itu.
“Pasaran lagi sepi, tamu tidak banyak. Terpaksa banting harga,” kisah Kembang dengan air mata berlinang.
“Sekali kencan hanya puluhan dan tidak sampai ratusan,” imbuhnya.
Dia mengakui terkadang dia tidak mampu membayar uang kos, maka koperasi berjalan itulah yang jadi penolong baginya. Kalau ada rejeki lebih ia bisa bayar uang kos dan bayar hutang serta ia bisa mengirim ke kampung untuk anak-anak dan cucunya di Jawa.
Sebagian besar mereka yang berkerja di KD, mempunyai masalah ekonomi di kampung. Bahkan seperti Kembang dia datang dari Jawa tidak berniat untuk menjual diri. Ia ditawari orang untuk berkerja menjadi asisten rumah tangga. Tapi setelah sampai di sana ia terjebak harus berurusan dengan dunia hitam itu karena modal dari kampung sudah besar dan tak jarang sudah punya hutang di kampung.
Kembang sendiri sudah punya anak dan anaknya sudah dewasa bahkan teman Kembang ada anaknya yang sudah sarjana dan menjadi guru di kampungnya. Ketika ditanya apa pekerjaannya di rantau jawabnya ya tetap asisten rumah tangga.
Setiap orang yang menjadi PSK di KD memiliki kisah sendiri, dari pelarian karena ditinggal suami sampai pada masalah ekonomi dan tuntutan hidup membayar hutang. Semuanya ada, dan bahkan di kampung atau di tempat lain anak-anaknya menjadi orang terpandang. Namun mereka tidak mau merepotkan anak-anaknya dan menanggungnya sendiri kondisinya.
Terus apakah ia tidak takut azab Allah dan hari pembalasan? Kembang mengaku semua PSK muslim takut dan sadar kerjaan mereka dilarang agama, makanya semuanya aktif di majelis taklim setiap minggu. Dan malam hari mereka terkadang tahajut dan meratap sampai pagi meminta pertolongan ilahi. Tapi, ketika siang hari, kehidupan kelamnya kembali lagi hingga dini hari.
Terus kenapa pula ikut majelis taklim dan sholat tahajut kalau harus kembali lagi, Kembang menjawab hanya untuk penyeimbang. “Mengikuti setiap pekerjaan buruk dengan perkerjaan baik. Agar catatan amalnya tidak hitam semua. Tapi ada putih juga,” ungkapnya. Bersambung





