Pasca Direbutnya Afrin Oleh Turki

Pasukan elit Turki berbaret merah maroon, OKK, tulang punggung Operasi Ranting Zaitun untuk memerangi milisi Kurdi (YPG) di Afrin, Suriah.

PASUKAN Turki dengan keunggulan mesin perangnya, dalam Operasi Ranting Zaitun (Olive Branch) untuk membasmi milisi Kurdi (YPG) di wilayah perbatasannya dengan Suriah, Afrin, sudah di ambang kemenangan.

Dilaporkan, satuan komando Turki didukung tank-tank dan bombardemen dari udara, walau bergerak lambat akibat perlawanan sengit lawannya, Jumat (9/3) lalu, berhasil merebut kota Jandairis, basis utama milisi YPG.

YPG bersama milisi perlawanan Suriah (FSA) walau telah berupaya bertahan habis-habisan didukung cuaca buruk di tengah musim dingin dan berlindung di balik medan perbukitan yang menguntungkan, kewalahan juga menghadapi serbuan pasukan Turki yang dilancarkan sejak 20 Januari lalu.

YPG putus asa menanti tibanya bantuan dari pasukan Amerika Serikat, mitra mereka yang sebelumnya bahu-membahu melawan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Agaknya, AS enggan membantu YPG karena harus berhadapan dengan Turki, sesama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan mitranya dalam berbagai konflik di Timur Tengah, misalnya dalam Perang Teluk, AS menggunakan pangkalan udara Incirlik, Turki sebagai basis operasinya.

YPG, dengan nada putus asa juga mengharapkan bantuan dari rezim pemerintah Bashar al-Assad yang didukung Rusia, walau selama ini hubungan YPG dengan pemerintah Suriah cukup sensitif dan rezim al-Assad menjaga jarak dari kelompok minoritas itu.

“Afrin (Pasukan YPG, Kurdi-red) memerlukan bantuan. Kami siap berdialog dengan pemerintah (Suriah), “ seru Ilham Ahmed, pejabat senior Kurdi di Suriah utara.

Sebelumnya Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan juga telah mengingatkan pemerintah Suriah untuk tidak mencoba-coba menghalangi pasukannya yang sedang melancarkan Operasi Ranting Zaitun di Afrin.

Di front lainnya, pasukan pemerintah Suriah didukung perlindungan pesawat-pasawat tempur Rusia, Kamis (8/3) melancarkan serangan masif ke kota Hammuriyeh, Saba, dan Jisreen di Ghouta timur bagian selatan.

Ketiga kota tersebut selama ini dijadikan benteng utama kelompok perlawanan dalam konflik berkepanjangan melawan rezim petahana Bashar al-Assa yang meneruskan kepemimpinan mendiang ayahnya, Hafez al-Assad.

Palang Merah Internasional (ICRC) dilaporkan terpaksa menunda pengiriman bantuan ke kota yang terkepung itu karena semakin gencarnya pertempuran.

Ratusan warga sipil tewas, sebagian masih tertimbun di reruntuhan bangunan yang porak-poranda dihujani artileri berat dan bombardemen dari pesawat-pesawat jet tempur Rusia.

Sesuai Rresolusi PBB No. 2401, diserukan gencatan senjata selama 30 hari untuk memberikan kesempatan bagi warga sipil keluar dari Ghouta timur dan petugas kemanusiaan ICRC masuk, namun kedua belah pihak saling tuding, lawannya melakukan pelanggaran.

Konflik Suriah bermula dari gejolak politik domestik pada 2011 untuk menggulingkan rezim Hafez al-Assad yang sudah berkuasa lebih 30 tahun, namun kemudian berkembang menjadi perang proksi melibatkan kekuatan global (AS dan Rusia) serta regional (a.l. Turki dan Iran).

Sekitar 330.000 orang terbunuh dalam konflik berkepanjangan itu, jutaan lainya mengungsi ke negara tetangga atau menyeberang ke daratan Eropa untuk mencari kedamaian dan kehidupan normal, ribuan tewas dalam dalam perjalanan di tengah laut.

Entah sampai kapan, tragedi di Suriah akan berujung. Yang jelas, peristiwa ini hendaknya menjadi pembelajaran berharga bagi bangsa Indonesia, untuk melawan upaya memecah belah yang hasilnya cuma kesengsaraan bagi rakyat. (AP/AFP/Reuters/NS)

Advertisement