Anak Jaman Makmur

Kenduri di kampung, makin ke sini semakin praktis, cukup pakai besekan.

BAGI kalangan oposisi, sekarang ini rakyat susah cari makan. Siapa bilang? Di Asmat, Papua, ngkali. Sejak Orde Baru membangun negeri, tahun 1980-an ekonomi anak negeri mulai menggeliat. Lihat saja anak-anak kampung. Mereka tak lagi tertarik sisa suguhan ketika tamu pulang. Buah mangga dan jambu yang jatuh dari pohonnya juga dibiarkan berserakan. Padahal bagi bocah generasi 1970-an dan sebelumnya, itu surga bagi mereka.

Tahun 1960-an, khususnya di Pulau Jawa, masih ada budaya antri minyak, antri beli beras. Pemerintahan Orde Lama memang belum sempat membangun negara, karena harus konsentrasi melawan para pemberontak yang mengancam desintegrasi bangsa. Ada PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia), ada DI/TII, Permesta, APRA (Angkatan Perang Ratu Adil), MMC (Merapi Merbabu Complex) bahkan AOI (Angkatan Oemat Islam).

“Alhamdulillah Presiden Sukarno bisa menyelesaikan semua itu. Kelompok pemberontak itu berhasil ditumpas, bahkan para gembongnya dihukum mati sebagaimana Kartosuwiryo (DI/TII), atau dr Smoukil (Permesta). Angkatan Perang Ratu Adil sudah lenyap, tinggal rokok “Adil” di Purworejo tahun 1960-an. MMC di lembah Merapi-Merbabu juga tumpas, yang ada kemudian SGM di Yogyakarta, pabrik susu makanan bayi tahun 1970-an.

Sebelum Orde Baru membangun negara, makanan memang susah. Anak-anak kampung jarang makan daging ayam kecuali tetangga menggelar kepungan atau bancakan selamatan. Ikan gabus atau lele goreng hanya bisa dinikmati ketika tawu di kali. Ada memang dijual di pasar, tapi tak semua orang mampu membelinya.

“Anak kampung bawaannya lapar melulu. Ketika bapak pergi kenduri, tak berani main jauh-jauh, takut nanti berkat atau nasi kenduri tak kebagian. Ketika di rumah ada tamu, anak-anak berjaga-jaga di balik pintu. Begitu tamu pergi, sisa hidangan langsung diserbu. Maka sering kejadian ketika anak-anak itu berebut makanan, tiba-tiba si tamu balik kembali gara-gara korek api ketinggalan. Nah, rahasia pun terbongkar.

Bahkan pernah terjadi di Solo tahun 1972-an. Sebuah keluarga muda menjamu teman-temannya. Rupanya anak-anak tuan rumah di dalam selalu monitor hidangan yang tersaji di meja tamu. Begitu hidangan itu dibuat licin tandas oleh para tamu yang rakus, di dalam anak itu langsung menangis, “Kok dientekke….. (kok dihabiskan).”

Bocah sebelum tahun 1970-an, pagi-pagi suka mencari gogrokan (buah jatuh) jambu atau mangga di kebun orang. Atau juga cari sisa ubi jalar yang habis dipanen. Kisah anak-anak nyolong jeruk, juga sering terdengar. Ada pula malam hari ramai-ramai uthut (potong padi) di sawah orang, lalu dibarter dengan makanan kecil di warung. Begitulah kisah kriminal anak-anak kampung.

Tapi setelah Orde Baru membangun negeri, perekonomian rakyat menggeliat. Bocah tahun 1980-an tak lagi tertarik sisa hidangan tamu, karena sudah banyak makanan di rumah. Buah mangga dan jambu yang gogrok, dibiarkan berserakan di bawahnya, tak ada lagi yang tertarik untuk memakannya.

Makin ke sini anak-anak semakin makmur, karena membanjirnya makanan modern termasuk yang impor. Bocah dulu minum limun sebuah kemewahan, anak sekarang minum Coca Cola dan Sprite sudah hal biasa. Anak dulu makan gethuk, anak sekarang hobinya makan pizza, hamburger bahkan ayam goreng Kentucky.

Anak-anak era gombalisasi ini, apakah masih kenal blanggreng (singkong goreng) Solo atau balok (singkong goreng) Yogyakarta? Begitu gebleg (cireng) Wates (Kulon Progo) dan growol (berbahan singkong) Purworejo? Juga bolumprit dan roti ganjel ril. Makanan tradisional itu banyak yang menghilang, terdesak menu-menu jaman makmur sekarang ini.(Cantrik Metaram)

Advertisement