NIKOLAS Maduro (55) menang lagi untuk kedua kalinya dalam pemilu Venezuela yang digelar Senin (21/5) walau kekuasaannya bakal dihadang sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat, Uni Eropa dan sejumlah negara tetangganya yang akan memperparah kondisi perekonomian negara itu yang saat ini memang sudah terpuruk.
Maduro meraih 5,8 juta suara, sementara rival terdekatnya Henry Falcon hanya mampu mengumpulkan 1,8 juta suara dalam pemilu yang hanya diikuti 46 persen warga dengan hak pilih berkat gencarnya aksi boikot yang dilancarkan oleh kelompok oposisi utama.
Presiden AS Donald Trump mengingatkan, pemerintahnya tidak akan tinggal diam di saat Venezuela runtuh akibat pemilu manipulatif tersebut, apalagi jika hal itu membuat pederitaan rakyat negeri itu berlanjut, sedangkan Wapres AS Mike Pence menilai pemilu tersebut penuh tipudaya dan merupakan agenda politik palsu yang hanya bertujuan melanggengkan kekuasaan Maduro, sementara Menlu AS Max Pompeo menganggap pemilu tidak sah dan negaranya tidak akan mengakuinya.
Komentar miring tentang kemenangan Maduro juga dilontarkan pimpinan negara tetangga, Presiden Chili Sebastian Pinera yang menyebutkan, pemilu Venezuela tidak memenuhi persyaratan minimal suatu negara demokratis, sementara ungkapan senada juga disampaikan pemerintah Panama, namun dua negara di Amerika Selatan yang sama-sama berhaluan sosialis, Kuba dan Salvador mengirim ucapan selamat pada Maduro.
Sebaliknya di hadapan pendukungnya usai pehitungan suara, Maduro berjanji akan meneruskan revolusi dan memprioritaskan program pemulihan ekonomi setelah lima tahun terpuuk akibat resesi.
Krisis ekonomi parah melanda Venezuela setelah kematian Presiden Hugo Chavez, akibat kanker dalam usia 58 tahun pada 5 Maret 2013 dan tongkat kekuasan kemudan diambil alih Nicolas Maduro, yang saat itu menjabat wakil presiden.
Sejak dulu Chavez memfokuskan seluruh sumber daya di dalam negeri untuk menggenjot produksi minyak yang digunakan untuk mengimpor berbagai produk konsumtif sehingga membuat negeri itu terbelit hutang.
Sekitar 95 pesen pendapatan ekspor Venezuela bersumber dari ekspor minyak sehingga saat harga minyak dunia anjlok Venezuela kelangkaan devisa, sementara inflasi tahunan mencapai ratusan persen dan nilai mata uang bolivar anjlok sampai seratus persen dalam setahun terakhir ini saja.
Pemerintah pun merespons dengan memangkas impor untuk kebutuhan pokok seperti sayuran dan kebutuhan medis demi menghindari kebangkrutan akibat utang luar negeri dan mencetak uang lebih banyak sehingga menyebabkan inflasi parah. Ekonomi yang terjun bebas ini telah memperburuk kondisi sosial di negara itu.
Agaknya kekuasaan Maduro bakal tidak bertahan lama akibat gejolak di dalam negeri dan tekanan internasional yang akan meruntuhkan perekonomiannya. (AP/AFP/Reuters)





