YOGYAKARTA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) tidak lagi menyebut letusan Merapi pada Kamis pagi tadi sebagai letusan freatik.
Kepala BPPTKG, Hanik Humaida mengatakan dengan adanya awan pijar merah menunjukkan adanya material yang dari dalam, sehingga bisa disebut sebuah awal menuju proses erupsi magmatis.
Mengacu kepada petugas PGM dan BPBD Kabupaten Magelang, letusan menghasilkan hujan abu dan pasir yang menuju ke barat daya. Mulai Desa Tegalrandu, Sumber, Dukun, Ngadipiro, Banyubiru, Muntilan, Mungkid, Menayu, Kalibening dan Salaman.
“Melihat kondisi Gunung Merapi terkini, maka tingkat aktivitas masih dalam kondisi waspada atau level II, dan radius tiga kilometer dari puncak tidak diperkenankan untuk aktivitas penduduk,” kata Hanik, dikutip Republika.
Hanik menambahkan, untuk mengurangi dampak abu, masyarakat yang beraktivitas di luar ruang diimbau menggunakan masker. Serta, masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Merapi diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan dan mengantisipasi dampak abu vulkanik.





