
JAKARTA — Difabel merupakan kelompok rentan yang selalu dipersepsikan sebagai orang yang lemah dan tak berdaya. Tak heran jika dukungan, bantuan dan penyaluran sumbangan untuk kelompok difabel didominasi oleh pendekatan karitatif dalam bentuk santunan. Padahal kaum difabel, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, juga punya potensi dan kapasitas yang bisa didayagunakan untuk memberdayakan diri sendiri, membantu kaum difabel lainnya, bahkan menolong masyarakat umum yang tidak mengalami cacat fisik dan mental.
Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, menyatakan bahwa NU (Nahdlatul Ulama), sebagai organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia, memiliki perhatian besar terhadap problematika keumatan, tak terkecuali para difabel. Hal ini sejalan dengan amanat Muktamar NU ke-33 di Jombang untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan perekonomian Nahdliyin. Pada perhelatan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar (Munas-Konbes) NU tahun 2017 di Lombok, satu dari sekian topik yang disoroti adalah problematika yang dialami penyandang disabilitas, khususnya mengenai konsep fikih yang bias terkait kaum difabel.
“Para difabel harus disentuh dan diperhatikan. Mereka tidak cukup disantuni, tapi juga diberdayakan agar bisa mandiri bahkan berguna bagi orang banyak,” kata Kiai Said.
Sebagai bentuk implementasi atas concern NU terhadap para difabel, maka NU Care-LAZISNU sebagai lembaga sosial-keagamaan yang bergerak dengan mengoptimalkan dana Zakat, Infak, dan Sedekah umat berupaya mendorong dan mengembangkan ekonomi warga NU, salah satunya melalui program Difabel Berdaya.
Program ini diarahkan untuk memenuhi tujuan pemberdayaan difabel yang diamanatkan UU No. 8 Tahun 2016, yakni “sebagai upaya untuk menguatkan keberadaan Penyandang Disabilitas dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan potensi sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi individu atau kelompok Penyandang Disabilitas yang tangguh dan mandiri.”
Ketua NU Care-LAZISNU M. Sulton Fathoni, menyatakan bahwa dalam setahun terakhir ini lembaganya fokus melakukan pemberdayaan ekonomi kepada para difabel di Kabupaten Blora, yang tergabung dalam komunitas Difabel Blora Mustika (DBM). Pemberdayaan yang dilakukan oleh NU Care-LAZISNU berupa penyaluran alat produksi, pelatihan internet marketing, dan pelatihan produksi batik dengan mendatangkan pengrajin-pengusaha batik yang berpengalaman.
“Strategi pemberdayaan difabel melalui fasilitasi dan penguatan kelompok difabel ini jauh lebih efektif dan berdampak luas dibandingkan program penyantunan semata, ” katanya.
Komunitas DBM yang berdiri sejak tahun 2011, saat ini telah memiliki dan memberdayakan 700 difabel melalui pengembangan kerajinan batik. Kini, para difabel di Blora itu berhasil memproduksi 20 motif batik tulis dan 25 batik cap khas Blora. Tidak hanya itu, mereka para difabel juga mampu memberdayakan ekonomi masyarakat non difabel melalui berbagai pelatihan dan usaha batik. Ghofur (33), salah seorang pendiri DBM, memang berharap agar komunitasnya bisa menjadi pelopor permberdayaan bagi para penyandang disabilitas untuk bisa hidup mandiri. Berkat keuletan dan optimisme, pada awal tahun 2018, Ghofur bersama anggota Komunitas DBM lainnya berhasil berjumpa langsung dan mengenalkan karya batiknya kepada Presiden RI Joko Widodo.
Sulton menambahkan, kini komunitas DBM pun tengah mengembangkan JPZIS (Jaringan Pengelola Zakat, Infak, Sedekah) NU, dengan beberapa programnya seperti santunan anak yatim dan pemberian beasiswa bagi siswa kurang mampu.
“Itulah yang NU Care-LAZISNU sebut sebagai inspirasi, dan menjadi semangat dan tema besar dalam program Ramadhan NU Care-LAZISNU 2018, yakni Ramadhan Berbagi dan Menginspirasi: Lebih dari Sekadar Berbagi,” katanya.
Manajer Fundraising NU Care-LAZISNU Nur Rohman menyatakan, selain program Difabel Berdaya, NU Care-LAZISNU juga mengembangkan beberapa program inispiratif lainnya selama Ramadhan, di antaranya: (1) Ngaji di Lapas; (2) Santunan Yatim dan Dhuafa; (3) Bedah Rumah Ibadah; (4) Gerakan Rumah Ibadah Beriman; (5) Pelayanan Kesehatan; (6) Charity Ramadhan, dan; (8) Sayembara Kisah Inspiratif. NU Care-LAZISNU juga menggalang ZIS masyarakat untuk mendukung program-program tersebut, di antaranya melalui aplikasi Koin (kotak infak) NU, jual beli sambil berdonasi via Goodly.id, pemanfaatan crowdfunding kitabisa.com, serta melalui skema caused related marketing dan uang kembalian bekerja sama dengan beberapa perusahaan. Melalui strategi yang inovatif, NU Care-LAZISNU menargetkan penghimpunan ZIS secara nasional sebesar Rp 500 miliar selama Ramadhan dengan target penerima manfaat 3 juta orang. – Relis




