JADI- tidak berlangsungnya pertemuan bersejarah yang akan dilakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un bagaikan menebak ending atau ujung film serial drama.
Asa komunitas dunia mengenai bakal terwujudnya perdamaian di Semenajung Korea nyaris sirna setelah Presiden Trump secara sepihak tiba-tiba membatalkan rencana pertemuannya dengan Presiden Kim yang semula dijadwalkan bakal digelar di Singapura, 12 Juni.
Alasan Presiden Trump, peluang untuk melakukan dialog, sementara tertutup karena ulah Presiden Kim yang dinilainya menunjukkan kemarahan dan permusuhan terhadap AS walau di akhir surat yang dilayangkannya, Trump masih berharap, Kim akan mengubah sikapnya dan kembali ke meja perundingan.
Angin segar perdamaian bertiup saat Kim mengutus adik perempuannya, Kim Yo Jong mendampingi atlit-atlit negaranya yang berlaga di Olimpiade Musim Dingin di PyeungChang, Korsel, Februari lalu, padahal pemerintah kedua bangsa serumpun itu yang masih dalam status perang sejak 1953 sebelumnya saling kecam dan melancarkan propaganda negatif antara satu dan lainnya.
Yo Jong dan delegasinya disambut hangat oleh tuan rumah, sehingga kemudian berbalas kunjungan tim kesenian Korsel termasuk grup musik K-pop Red Velvet yang kedatangannya di Pyongyang juga disambut hangat Kim dan dielu-elukan rakyatnya.
Kim melakukan lawatan luar negeri pertamanya ke China pada 25 – 28 Maret dan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dan kemudian kembali melakukan kunjungan mendadak pada 8 Mei untuk berkonsultasi mengenai wacana perdamaian dengan Korsel.
China adalah negara pelindung utama Korut, baik secara politik di forum-forum internasional maupun pemberi dukungan ekonomi di tengah kesulitan ekonomi Korut akibat sanksi embargo dari PBB dan sejumlah negara terkait uji-uji coba rudal balistik dan program nuklirnya.
China, bagi Korut selain tetangga baik, juga memiliki sejarah hubungan panjang, terutama saat negara itu mengorbankan puluhan ribu nyawa prajuritnya yang berada di belakang Korut dalam Perang Korea (1951- 1953).
Arah menuju terwujudnya semakin menuju titik terang dengan digelarnya pertemuan antara pimpinan Dinas Rahasia AS (CIA) yang kini menjadi menlu, Mike Pompeo dengan Kim Jong Un di Pyongyang, April lalu, dilanjutkan dengan pertemuan bersejarah antara Presiden Korsel Moon Jae-in dan Kim di wilayah demiliterisasi (DMZ) di Desa Panmunjon (27/4).
Untuk membuktikan keseriusan komitmennya bagi perdamaian, Korut meledakkan fasilitas nuklirnya di Punggye-ri Jumat lalu (25/5) disaksikan belasan wartawan asing termasuk dari AS, China dan Korsel.
Presiden Kim, pasca pembatalan rencana pertemuan oleh Presiden Trump, secara mendadak melakukan pertemuan diam-diam dengan mitranya, Presiden Korsel Moon Jae-in di Panmunjon, Sabtu lalu (27/5) dan menurut Moon, saat itu Kim tetap menyatakan komitmennya untuk melakukan perlucutan program nuklirnya dan keinginannya bertemu Trump.
Presiden Moon sendiri menyadari masih ada sikap saling curiga antara AS dan Korsel yang menjadi ganjalan dibukanya dialog. Di satu pihak AS belum yakin, Korut akan bersungguh-sungguh menghentikan program nuklirnya, sebaliknya, rezim Korut belum sepenuhnya mempercayai AS terkait jaminan keamanan yang akan diberikannya.
AS sendiri menuding China, secara diam-diam mempengaruhi Kim Jung Un untuk tidak tunduk pada AS, dan menurut pengamat diduga karena negara tirai bambu itu khawatir akan “ditinggalkan” jika Kim melakukan manuver sendiri untuk bernegosiasi langsung dengan penguasa AS dan Korsel.
Sedangkan Guru Besar Studi Korut dari Universitas Donguk di Seoul, Kim Jong-hyun memuji langkah Kim dan Moon yang bergerak cepat dengan menggelar pertemuan empat mata untuk mengatasi krisis akibat pembatalan pertemuan oleh Trump.
Namun pertanyaannya, apakah pertemuan benar-benar jadi digelar, dan jika jadi, apakah ada hasil kongkretnya bagi perdamaian, atau masih sekedar retorika? Tidak ada yang bisa memastikannya. (AP/AFP/Reuters/NS)





