SUASANA sidang di sitinggil Kerajaan Ngastina siang itu tampak begitu hening, Prabu Duryudana beserta Patih Baladewa serius sekali membicarakan tentang berdirinya negara baru, Gilingwesi. Mengingat letak kerajaan baru itu terlalu berdekatan, mereka kuatir bahwa negara Gilingwesi menjadi ancaman bagi Kerajaan Ngastina.
Prabu Baladewa yang terkenal sebagai wayang tak sabaran, mengajukan usul radikal. Bagaimana seandainya negara itu diserang saja terlebih dahulu, daripada kedahuluan. Sayang segenap peserta sidang tak seluruhnya setuju. Ketika diadakan voting, yang sepaham dengan Prabu Baladewa cuma Adipati Karno saja, Sedangkan yang menolak Prabu Duryudana, Dursala, Durna, Dursasana, termasuk Duran-Duran group musik dari Inggris!
Mereka menyarankan agar menunggu saja perkembangan selanjutnya. Sebab sampai saat ini belum ada informasi Gilingwesi mau pamer kekuatan dan mencaplok kerajaan Ngastina.
“Kita lihat saja situasinya. Kalau Gilingwesi sudah berani bikin pangkalan militer di sini, baru kita serbu…,!” tegas Prabu Duryudana.
“Akur! Boleh hati panas tapi kepala harus tetap dingin.” Potong Patih Sengkuni.
Semua peserta sidang mengangguk-angguk. Dan ketika Prabu Suyudana meneriakkan kata “setuju,” peserta sidang yang tadinya duduk terkantuk-kantuk langsung saja ikut berteriak lantang: setujuuuuuu!” Persis anggota DPR.
Tapi sebelum sidang ditutup, bagian resepsionis melaporkan bahwa ada tamu mau menghadap. Prabu Duryudana mempersilakan masuk. Tamu itu mengaku utusan dari Kerajaan Gilingwesi, bernama Patih Ontowasesa. Lagak dan goyanya benar-benar sok, walaupun dipersilakan duduk tetap saja berdiri. Kaca mata hitamnya tak juga dilepas. Bajunya hem panjang digulung, sementara celana yang dikenakan cuma sebatas dengkul, agaknya meniru gaya pengusaha Bob Sadino almarhum!
“Sorry ya kalau saya tak mau duduk. Bukan karena bisulan dan penyakit wasir, tapi dari sononya memang begitu. Tolong nih diterima ada surat dari boss gue…..!” ujar Patih Ontowasesa sambil menyerahkan surat beramplop air mail itu.
Selesai membaca surat tersebut, Prabu Duryudana mengerutkan dahi. Begitu pula Patih Sengkuni dan Pandita Durna.
Gilingwesi, 1 Juni 2018.
Kepada
Yth. Prabu Duryudana
di Hastina,
Dengan horraat,
Bersama surat ini saya menugaskan Patih Ontowasesa, untuk mengimbau Prabu
Duryudana agar mengakui kedaulatan negeri Gilingwesi yang baru saya didirikan.
Lebih dari itu, untuk menuju negara yang adil makmur, saya minta Kerajaan
Ngastina berintegrasi saja dengan Gilingwesi.
Kalau nggak jangan menyesal kerajaan ini saya serbu habis- habisan!
Hormat saya :
Prabu Tuguwasesa
Raja Gilingwesi.
Prabu Baladewa dari Mandura yang ikut membaca surat bernada menantang tersebut, langsung spanengnya naik. Penyakit hypertensinya kambuh.
“Hai Ontowasesa, kau belum pernah didublag (dijejali) miras oplosan ya? Enak saja mau menguasai Ngastina. Bilang kepada rajamu, sampai kapan pun negeri ini tak akan tunduk. Mengertiiiii….?” kata Prabu Baladewa keras, sambil mencekal kerah baju Patih Ontowosesa.
Seandainya tidak dihalang-halangi oleh Patih Sengkuni, barangkali Patih Ontowasesa sudah jadi bergedel dihajar raja Mandura itu. Namun sebagai duta negara yang mempunyai kekebalan diplomatik, patih Gilingwesi yang slonong boi itu segera dipersilakan pulang sambil menunggu berita selanjutnya yang akan dikirim ke Gilingwesi lewat email!
Sepeninggal utusan Gilingwesi, Prabu Baladewa dan segenap keluarga Kurawa mempersiapkan diri untuk mendahului serangan ke Kerajaan Gilingwesi. Tapi baru saja pasukan bergerak, di daerah Mauk mereka bertemu dengan pasukan Gilingwesi yang dipimpin oleh Patih Ontowasesa. Pertempuran pun terjadi. Agaknya prajurit Ngastina jarang latihan perang, cuma beberapa jam saja berhasil didesak mundur. Komandan-komandan mereka, Baladewa, Adipati Karna, berhasil ditawan dan diekstradisi ke Gilingwesi
Patih Ontewasesa yang berjaya terus mendesak maju,sehingga akhimya berhasil masuk ke.dalam istana Kerajaan Ngastina. Prabu Duryudana sewaktu akan ditangkap hidup-hidup melarikan diri.Dengan luka tembak di kaki dia terbirit-birit masuk hutan ditemani Patih Sangkuni, sementara Banowati istrinya minta bantuan ke Kerajaan Ngamarta.
“Bagaimana Paman Patih, untuk menghindari pengejaran prajurit Gilingwesi sebaiknya kita mengungsi saja ke Timur Tengah!” saran Prabu Duryudana.
“Jangaaaaan! Siapa yang nanggung biaya hidupmu di sana….?” jawab Sangkuni lesu.
Sementara istri Prabu Duryudana berangkat ke Ngamarta pakai bis malam, di kerajaan Ngamarta sendiri saat itu sedang dilanda keprihatinan yang dalam. Formasi Pandawa saat itu dalam keadaan tidak lengkap. Tanpa alasan yang jelas sudah beberapa bulan lamanya Werkudara pergi dari istana Jodipati, meninggalkan Arimbi istrinya.
Kata Dewi Arimbi yang pagi itu datang ke Ngamarta, sebelum pergi menghilang, Werkudara memang sibuk mengurus umroh berbiaya murah meriah. Akibat terbius usaha yang tak masuk akal tersebut, Werkudara benar-benar menelantarkan keluarganya. Pasangan yang dulu ideal dan jadi percontohan, kini ribut melulu.
“Yang paling menjengkelkan, ketika saya mau ambil gaji di kantornya, katanya gaji Mas Werkudara sudah dibon untuk 5 bulan….!” keluh Arimbi sambil menangis terisak-isak.
“Jangan-jangan korban Abu Travel juga dia.” Komentar Sadewa.
Prabu Puntadewa, Prabu Kresna, Harjuna, Nakula dan Sadewa cuma bisa mengusap dada. Berbagai cara telah diupayakan mencari Werkudara, tetapi tak juga ketemu. Melalui iklan di koran, di radio swasta niaga bahkan medsos, telah pula diumumkan, tapi tak ada juga yang melihat di mana Werkudara berada.
Belum juga selesai membicarakan raibnya Werkudara, datanglah Banowati sambil menangis. Mendengar kabar bahwa Duryudana dikudeta dan lari ke hutan, keluarga Ngamarta terkejut. Saat itu juga mereka berangkat ke Ngastina, untuk merebut kerajaan peninggalan leluhurnya.
“Tolongin deh suami gue, kasihan dia terlantar di hutan. Bagaimana bisa hidup, simpanannya di bank dibekukan semua….!” ratap Banowati mantan pacar Arjuna itu.
Iring-iringan Keluarga Pandawa yang menncarter bis Hiba Utama Full AC di tengah jalan ketemu Duryudana dan Patih Sengkuni. Nasib mereka begitu ngebelangsak. Sepatunya pada jebol, baju tercabik-cabik duri hutan. Keduanya kemudian dipersilakan bergabung dalam rombongan.
Setelah Pandawa turun tangan menyerbu dengan gampang Patih Ontowasesa dan anak buahnya bisa ditaklukkan. Mereka yang lari terbirit-birit kembali ke Gilingwesi terus dikejar. Giliran kini Prabu Tuguwasesa dan Bagawan Kapiwara mencoba menahan serangan keluarga Ngamarta yang dibantu oleh keluarga Kurawa.
Tapi sungguh luar biasa, keluarga Pandawa kali ini mati kutu menghadapi perlawanan Prabu Tuguwasesa. Gatutkaca, Setyaki, Harjuna letoy semua menghadapmya. Beruntung Prabu Kresna tahu gelagat, sehingga dengan segala siasatnya pejabat-pejabat Gilingwesi bisa dikalahkan. Prabu Tuguwasesa yang tadinya tahan pukulan, tak lain Werkudara yang telah menghilang selama ini. Bagawan Kapiwara ternyata adalah Kapi Anoman dari Kendalisada, sementara Patih Ontowasesa yang sok dan tak tahu sopan-santun itu tak lain adalah Ontosena anak Werkudara hasil perkawinan dengan Dewi Urangayu.
“Eh kamu, Werkudara, pergi berbulan-bulan tanpa pamit. Lihat itu rumahmu, listriknya sampai disegel….!” ledek Prabu Kresna.
Mereka pun bersalaman penuh mesra. Acara dilanjutkan mencari Prabu Baladewa dan Adipati Karna yang ditahan musuh. Ternyata meskipun namanya tahanan, ketika di-temukan Prabu Baladewa dan Adipati Kama segar-bugar saja. Sebagai tahanan politik mereka memang diperlakukan istimewa. Boleh menikmati makanan apa saja, kecuali HP televisi dan koran. (Ki Guna Watoncarita)



