
WALAU kehidupan dan lowongan pekerjaan kian sulit, sebagian pemudik balik pasca Idul Fitri 1439 H akan mengajak anggota keluarga untuk mengadu nasib bersama mereka di kota-kota besar terutama Jakarta.
Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta menyebutkan, pasca lebaran tahun lalu, ada 70.752 pendatang baru di ibukota atau naik 2,89 persen dibandingkan pasca lebaran tahun 2016 sebanyak 68.783 orang dan hal sama terjadi di sejumlah kota-kota besar lainnya seperti Bandung, Makassar dan Surabaya yang jumlah warganya meningkat rata-rata 10 persen pasca lebaran.
Sementara menurut data BPS, separuh dari jumlah penduduk Indonesia saat ini tinggal di kawasan perkotaan, sedangkan pada 2035 jumlah itu diperkirakan naik sampai 67 persen.
Urbanisasi ke kota-kota besar sulit dihindari jika ada faktor pendorong dari desa atau kota-kota asal pendatang seperti sulitnya kehidupan dan sempitnya kesempatan kerja, sebaliknya adanya daya tarik yang menjanjikan di kota-kota besar.
Di pihak lain pertumbuhan urbanisasi yang tinggi di kota-kota besar yang belum diimbangi tata kelola dan prasarana yang memadai selain tidak menguntungkan, juga menjadi beban.
Jajak pendapat Litbang Kompas pada 2 dan 3 Juni ’18 terhadap 521 responden berusia min. 17 tahun di 16 kota besar menyebutkan, bidang yang masih terbuka bagi pendatang di kota besar tempat tinggal mereka yakni buruh pabrik (27,1 persen), pelayan toko (22,8 persen), asisten rumah tangga (13,6 persen), wirausaha (12,1 persen), karyawan (3,1 persen), administrasi (2,7 persen) dan buruh bangunan (1,5 persen).
Sebanyak 20,8 persen pemudik akan mengajak anggota keluarga untuk tinggal bersama pasca lebaran, sebaliknya 75,6 persen tidak, sementara menjawab pertanyaan lainnya 51,4 persen responden menyebutkan, di tempat tinggal mereka masih mudah mencari pekerjaan, sebaliknya 45,3 persen menjawab tidak.
Hampir separuh atau 43, 2 responden menganggap kehadiran pendatang baru seteah lebaran akan lebih membebani kota tempat tinggal mereka, 30,7 persen menganggap menguntungkan dan 16,3 persen menilai tidak ada pengaruhnya.
Pemerataan pembangunan terutama prasarana dan prasarana umum yang diharapkan akan memicu hadirnya industri dan kegiatan usaha di daerah memang harus terus diupayakan agar warga di kota-kota kecil atau pedesaan tidak berbondong-bondong hijrah ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
Mari kita dukung siapapun calon pemimpin yang fokus dan “concern” untuk memikirkan kesejahterakan rakyat di seluruh penjuru negeri ini , tidak sekedar dalam janji kampanye.




