Melempar Batu Cuma Iseng?

Kaca mobil Honda Freed pecah akibat pelemparan batu dari jembatan penyeberangan orang Jalan Tol Jakarta Merak, Kecamatan Cikande, Serang, Banten.

MELEMPAR batu di jalan tol, rupanya mulai ngetrend. Setelah terjadi di tol Cikampek, tol Jagorawi, kemudian menyusul di tol Tangerang. Salah satu korban tewas di tol Cikampek, dan lain-lainnya menderita luka parah. Sejumlah pelakunya berhasil dibekuk, umumnya kalangan remaja. Alasan, hanya iseng. Iseng? Sebegitu rendah prikemanusiaan mereka, tindakan yang mengancam jiwa seseorang kok dikatakan hanya iseng. Jangan-jangan ini bentuk kecemburuan sosial generasi pengangguran.

Sekitar tahun 1974-an, istri Bupati Brebes (Jateng) Sartono Gondosuwandito, tewas dilempar batu saat mobilnya melintasi jalur pantura dalam perjalanan menuju Jakarta. Batu sebesar endhas maling itu menimpa kaca depan dan langsung kena dada Ibu Bupati. Tak begitu jelas motifnya, perampokan atau perbuatan iseng para joblik (sekelas preman)  yang kurang kerjaan.

Yang jelas, aksi pelemparan batu di jalan tol kini mulai marak, jika tak mau disebut ngetrend. Kali pertama terjadi di tol Cikampek, di daerah Pondok Gede, Bekasi. Saeful Mazazi (46), yang bawa mobil tujuan Tegal, tanggal 5 Juni 2018 malam mengalami nahas pas di jembatan Jatibening. Tahu-tahu mobilnya dilempar batu orang tak dikenal. Sempat dibawa ke RS, tapi tak lama kemudian meninggal, gagalah rencana mudik lebih awal.

Pelemparan berikutnya terjadi 11 Juni malam di Jagorawi, dari atas jembatan Malaka, Ciracas. Yang jadi korban pelemparan juga bernama Saiful, tapi ini Brigjen TNI. Hari berikutnya, Selasa (12/6) dini hari, mobil berpelat F-1046-HW yang dikemudikan oleh AG Bagus juga dilempari batu. Dua anak muda yang diduga jadi pelakunya sudah ditangkap.

Giliran di tol Tangerang-Merak pelemparan batu terjadi tanggal 27 Juni malam, tepatnya di KM 4, Kecamatan Cikande, Serang, Banten. Empat orang yang terluka karena pelemparan itu terdiri atas tiga warga Serang dan satu dari Jakarta Timur. Mereka mengalami luka di bagian lengan dan wajah. Luka karena serpihan kaca yang pecah akibat terkena lemparan batu.

Kecuali yang di JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) Jatibening, semua pelakunya tertangkap. Ternyata para pelakunya, 2 di Ciracas dan 5 di Cikande, adalah para remaja. Dalam pemeriksaan mereka mengakui, semua dilakukan karena iseng belaka setelah ngobrol bersama teman-teman.

Melempar dengan batu segede helm, dengan sasaran pera pengendara mobil, itu hanya dilakukan secara iseng? Di mana rasa perikemanusian mereka? Apakah saat sekolah tak belajar Pancasila? Apakah saat mau melempar tidak berfikir, bahwa keisengan ini bisa mengancam keselamatan jiwa seseorang. Afala takkilun (apakah kalian tidak berfikir)?

Ngerumpi tanpa juntrung bersama teman-teman, adalah perilaku para pengangguran. Orang bijak pun mengatakan, ngaggur itu bantale setan. Maksudnya adalah, ketika orang sedang nganggur tanpa kesibukan, bisa muncul ide-ide jahat akibat dorongan setan. Tahu kan, setan itu paling demen mengajak orang ke jalan sesat. Sesatnya orang di simpang susun Semanggi paling-paling sampai ke Blok M atau Grogol. Tapi kalau sesat diajak setan, sampailah ke…..neraka!

Jangan-jangan para remaja itu bukan sekedar iseng, tapi bentuk kecemburuan sosial. Mereka mengirikan, kenapa orang lain bisa hidup sukses, punya mobil bagus, bukan sekedar model roti tawar (minikab). Sedang dirinya, seumur-umur tetap miskin, tanpa pekerjaan jelas, sekolah juga mogol (berhenti di tengah jalan).

Punya rasa iri itu positif, karena itu mendorong seseorang untuk maju, ingin sukses sebagaimana orang yang diirikan. Tapi jika keirian itu terhenti dengan menyabot atau mengganggu kesuksesan seseorang, itu namanya dengki. Jika ingin sukses harus berusaha, jangan hanya berpangku tangan, thenguk-thenguk nunggu gethuk. (Cantrik Metaram)

Advertisement