
OPERASI penyelamatan 12 remaja anggota kesebelasan sepakbola amatir Wild Boars bersama sang pelatihnya, setelah bergumul dengan maut, berakhir gemilang mengevakuasi seluruh anak yang terperangkap 18 hari dalam goa Tham Luang, Thailand.
Empat anak berhasil dievakuasi setelah 11 jam menyelami lorong-lorong berlumpur sepanjang 4 km, Minggu (8/7), empat anak lagi diselamatkan pada hari berikutnya, Senin (9/7), tiga anak pada Selasa pagi (10/7) dan yang terakhir satu anak dan pelatihnya berhasil dikeluarkan malam harinya.
Yang juga cukup mengagumkan adalah respons spontan warga dunia untuk ikut bergabung memberikan keahlian, peralatan atau apa saja yang mereka miliki untuk menyelamatkan bocah-bocah tersebut yang semula hanya sekedar iseng menghabiskan waktu menyusuri lorong goa setelah latihan sepakbola usai.
Begitu peristiwa itu diviralkan oleh media sosial maupun situs berita resmi ke seluruh penjuru dunia, bantuan mulai mengalir dan tidak kurang 50 penyelam profesional dari manca negara siap bergabung untuk melengkapi tim utama terdiri dari 13 penyelam asing dengan reputasi kelas dunia dan tiga anggota pasukan khusus SEAL dari AL Thailand, didukung lagi oleh 40 penyelam satuan elite tersebut.
Tawaran bantuan juga datang dari perusahaan pompa air berkekuatan besar untuk menyedot air lumpur yang menutupi sebagian ruas lorong goa, juga dari milyarder AS Elon Musk yang berjanji akan mengirimkan “kapsul” selam buatan pabrik roket miliknya.
Dari tayangan TV, tampak seorang anak yang terperangkap di goa tersebut dimasukkan dalam kapsul, kemungkinan buatan pabrik Elon Musk.
Ungkapan empati juga datang misalnya dari tim sepakbola terkemuka Inggeris yang berjanji akan mengirimkan jersey untuk dibagikan pada seluruh anak-anak tersebut, juga pimpinan Persatuan Sepakbola Dunia (FIFA) yang menawarkan mereka untuk menyaksikan final Piala Dunia 2018 di Moskow antara kesebelasan Perancis melawan Kroatia yang akan digelar, Minggu ini (15/7).
Mario Sepulbeda, seorang dari 33 petambang Chili yang diselamatkan setelah 69 hari berada di bawah tanah akibat runtuhnya tambang yang digali pada 2010 juga ikut memberikan dorongan semangat bagi ke-13 korban yang terperagkap di goa tersebut.
“Saya tidak meragukan. Pemerintah Thailand pasti akan melakukan segala upaya yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan mereka. Saya yakin akan berhasil. Semoga Tuhan memberkati, “ ujarnya dalam pesan video yang diunggah di twitternya @SuperMarioChile.
Kontribusi dokter dan juga penyelam kelas dunia asal Australia Richard Harris yang membatalkan liburannya untuk segera bergegas ke Thailand begitu mendengar peristiwa itu juga tidak bisa diabaikan atas keberhasilan operasi penyelamatan. Betapa tidak, ia menyabung nyawa menyusuri lorong-lorong goa sepanjang empat Km yang sebagian sempit dan tertutup lumpur untuk sampai ke titik kumpul para korban.
Dialah yang merawat korban hingga hari terakhir dan memutuskan giliran anak-anak itu untuk dievakuasi bersama dua penyelam dari Inggeris dan tiga anggota SEAL Thailand.
“Pahlawan sebenarnya adalah anak-anak itu dan anggota satuan SEAL Thailand, “ kata Harris merendah untuk menjawab pujian yang disampaikan PM Australia Malcom Turnbull melalui skype. Seorang (mantan) anggota SEAL Thailand tewas (6/7) akibat kehabisan oksigen saat kembali dari ruang goa di titik kumpul anak-anak yang terjebak itu.
Sang pelatih
Yang juga pantas dijadikan “hero” tentunya juga sang pelatih sepakbola Ekkapol Chantawong (25) yang dengan sabar mengayomi dan memompa semangat anak-anak asuhannya sehingga tetap tenang dalam ketidakpastian serta menahan lapar di tengah kegelapan goa.
Ironisnya, Ekkapol yang berasal dari etnis Thai Lue, penghuni wilayah “segitiga emas” Thailand, Myanmar, Laos dan China termasuk seorang dari 480.000 lainnya yang tidak memiliki warga negara (stateless).
Ekkapol, calon bhiksu yang dikenal sebagai sosok rendah hati, berperilaku baik dan pecinta alam bebas ini memilih mengurus neneknya sambil melatih sepakbola kesebelasan amatir setempat. Melalui tim penyelamat, ia juga meminta maaf kepada para orang tua anak-anak yang terperangkap itu dan berjanji untuk melindungi mereka.
Jasa dan keluhuran budinya, diharapkan mampu mengubah sikap pemerintah Thailand untuk memberikan status kewarganegaraan baginya.
Solidaritas tidak saja ditunjukkan masyarakat dunia, tetapi penduduk setempat yang merelakan sawahnya digenangi air yang disedot dari goa, bahkan membuat ratusan ternak bebeknya mati, ojek yang menawarkan ongkos gratis ke dan dari lokasi bencana atau layanan pijat bagi anggota tim penyelamat dan penjual es krim yang menggratiskan dagangannya.
Di tengah konflik dan peperangan yang masih berkecamuk di bagian lain bumi ini, solidaritas, kesetiakawanan dan kerjasama antarbangsa dan negara yang ditunjukkan dalam peristiwa terjebaknya anak-anak Thailand itu di goa Tham Luang sesuatu yang sangat membanggakan dan perlu dipupuk terus.
Sementara bagi Indonesia, semoga peristiwa dramatis ini ikut membangkitkan semangat persatuan dan solidaritas sesama bangsa yang majemuk ini terutama di saat-saat menghadapi kesulitan dan berbagai persoalan bersama.




