YOGYAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menerima laporan adanya 1.200 kepala keluarga di 12 desa mengalami kesulitan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo Ariadi mengatakan 12 desa yang warganya mengalami kesulitan air bersih, yakni Desa Banjaroya, Banjarharjo, Banjararum, dan Banjarasri (Kecamatan Kalibawang). Kemudian Desa Giripurwo, Purwosari, Jatimulyo, Pendoworejo (Kecamatan Girimulyo). Selanjutnya Desa Salamrejo di Kecamatan Sentolo, Desa Tangjungharjo di Kecamatan Nanggulan dan Desa Sidoharjo dan Purwoharjo di Kecamatan Samigaluh.
Ia memperkirakan jumlah warga terdampak kekeringan akan terus bertambah. Hal ini dikarenakan beberapa desa yang menjadi langganan kekeringan, seperti di Desa Hargowilis, Hargorejo dan Kalirejo di Kecamatan Kokap belum ada laporan. Namun, sudah ada beberapa bantuan air bersih masuk ke sana.
Ariadi mengatakan Kecamatan Kokqp masuk dalam peta kerawanan kekeringan. Namun pemerintah kecamatan masih melakukan identifikasi.
“Saat ini, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) masih melakukan tindakan penanganan terhadap desa-desa yang berpotensi kesulitan air bersih,” katanya.
Dia mengatakan saat ini hanya tersedia sekitar 150 tangki bantuan dari program tangungjawab sosial perusahaan tertentu (CSR) serta anggaran dari APBD DIY sekitar 100 tangki. Namun begitu, distribusi saat ini dilakukan untuk hasil bantuan CSR sebanyak 50 tangki ke berbagai titik wilayah terdampak oleh Tagana sedangkan bantuan dari APBD DIY dimungkinkan baru bisa didistribusikan pada Agustus nanti.
“Distribusi air bersih saat ini diprioritaskan untuk wilayah-wilayah yang sudah mengajukan permohonan bantuan,” katanya, dilansir Antara.





