Antisipasi Kecelakaan Goa Perlu Dilakukan

Indonesia yang dikaruniai ratusan goa perlu melakukan antisipasi terjadinya kecelakaan di dalam goa dengan menyiapkan SDM dan peralatan untuk penyelamatan korban sebelum bencana tiba

INDONESIA yang dikarunia ratusan goa alam perlu merumuskan cara-cara penyelamatan korban kecelakaan jika sewaktu-waktu terjadi musibah seperti dialami 12 remaja tim amatir sepakbola Wild Boars dan pelatihnya yang terjebak selama 18 hari di goa Tham Luang, Thailand sejak 23 Juni lalu walau akhirnya berhasil diselamatkan oleh tim penyelam profesional dalam operasi lintas bangsa yang dramatis dan penuh risiko.

Walau tidak dipublikasikan secara luas, kecelakaan akibat aktivitas di dalam goa yang menelan korban tercatat paling tidak terjadi di sejumlah goa sejak 2004.

Dua orang meninggal akibat air bah di goa Gudawang, Kec. Cigudek, Bogor (21 April 2004), hal sama tejadi pada empat korban yang tewas di goa Masigit di Kp. Kutamariem, Desa Mulyasejati, Kec. Ciampel, Karawang (5 Maret 2012), dua warga tenggelam di goa Pindul, Desa Bejiharjo, Kec. Karangmojo, Kab. Gunung Kidul, Yogyakarta, tiga anggota Himpunan Kegiatan Speleologi (kegoaan) Indonesia (HIKESPI) meningal akibat terjebak banjir di goa Luweng Serpeng, Dusun Serpeng, Desa Pacarejo, Kec. Semanu, Gunung Kidul (19 Maret 2013).

Dua peziarah, seorang diantaranya tewas dan seorang patah punggung akibat terpeleset di goa Langse, Dusun Gabuk, Desa Giricahyo, Kec. Purwosari, Kab. Gunung Kidul (2 Maret 2014), dua wisatawan jatuh dan meninggal dunia di goa Sinjanglawang, Dusun Parinenggang, Desa Jadimulya, Kec. Langkaplancar, Kab. Pangandaran (24 Juni 2014), seorang warga meninggal akibat terperosok di goa Luweng Ombo, Desa Kalak, Kec. Donorogo, Kab. Pacitan (19 Des. 2014).

Seorang warga terperosok dan meninggal di goa Luweng Songotel, Desa Kepek, Kec. Saptosari, Kab. Gunung Kidul (22 Okt. 2015), seorang meninggal di goa Lawa, Desa Harjawinangun, Kec. Balapulang, Kab. Tegal (14 Juli 2016), seorang warga Inggeris meninggal di goa Mampu, Desa Cabbeng, Kec. Dua Boccoe, Kab. Bone, (30 Agustus 2016), enam mahasiswa Muhammadiyah mengalami hyperventilasi (kurang oksigen) saat menyusuri goa Lo-Bangi, Desa Kedungsalam, Kec. Donomulyo, Kab. Malang (5 Maret 2017).

Betapa sulitnya aksi penyalamatan korban terperangkap di dalam goa ditunjukkan dalam operasi yang dilakukan puluhan penyelam kelas dunia dan pasukan khusus SEAL AL Thailand dengan berbagai opsi termasuk dengan kemungkinan mengebor dinding goa atau menguras air dan lumpur yang memenuhi ruang goa dengan pompa berkekuatan tinggi.

Penyelamatan juga berpacu dengan tibanya musim hujan yang bakal meningkatkan debit ar di dalam goa.

Opsi pertama dengan mengirimkan belasan penyelam yang para remaja itu menyelam dan menggunakan alat selam kemudian memandu mereka keluar dari dalam lorong goa yang berjarak empat KM dari mulut goa diambil dan berakhir dengan sukses untuk mengeluarkan seluruh anak-anak bersama pelatih sepakbola mereka, walau seorang relawan, mantan pasukan katak Thailand tewas karena kehabisan oksigen saat berusaha keluar goa setelah menemukan lokasi dan menemui para korban di dalam goa.

Operasi penyelamatan korban terperangkap di goa jauh lebih rumit dari penyelamatan kecelakaan di lokasi terbuka, mulai dari penemuan korban, kondisi gelap di lorong goa, minimnya oksigen, terkadang sebagian atau seluruh lorong tertutup banjir atau lumpur dan kemungkinan tidak terduga lainnya tergantung karakteristik masing-masing goa.

Sebelum bencana terjadi, aksi mitigasi mulai dari pelatihan bagi anggota SAR atau kelompok pencinta goa dan pengadaan segala peralatan yang diperlukan harus dilakukan.

Advertisement