
SIAPA bilang, melangitnya harga telur di Indonesia sejak H-7 Idul Fitri lalu tidak ada korelasinya dengan Piala Sepakbola di Moskow yang berakhir dengan kemenangan kesebelasan Perancis atas kuda hitam Kroasia dengan skor 4- 2, Minggu (4/7).
Kok bisa? Dalam teori ekonomi, pembentukan harga ditentukan oleh equilibrium atau keseimbangan antara faktor permintaan dan penawaran (Demand and Supply).
Menteri Perdagangan Enggartiato Lukita di Jakarta, Selasa (6/7) lalu mengemukakan, permintaan telur yang selain diolah langsung juga menjadi salah satu bahan pembuat berbagai kue lebaran, terus merangkak naik karena anjloknya pasokan telur mengingat banyak peternakan ayam petelur yang meliburkan pekerjanya untuk berlebaran.
Selain itu, menurut dia, terjadinya depresiasi mata uang dollar AS terhadap rupiah, juga ikut mengatrol biaya produksi telur yang sebagian besar komponennya seperti pakan ayam, obat-obatan dan bibit (grand parent stock – GPS) masih diimpor, ditambah lagi cuaca ekstrim di sentra-sentra peternakan ayam akhir-akhir ini.
Harga telur ayam yang normalnya sekitar Rp22.000 per-Kg, merambat naik sejak sepekan menjelang Idul Fitri (15/6), dan bahkan dalam dua pekan terakhir ini di sejumlah wilayah di P.Jawa berkisar antara Rp27.000 hingga Rp30.000, bahkan di beberapa tempat seperti di Makassar dan Kupang antara Rp40.000 hingga Rp50.000.
Selain suasana lebaran, lanjutnya, konsumsi telur meningkat di tengah event Piala Dunia di Moskow terutama menjelang final dimana banyak digelar acara nonton bareng (nobar).
“Sambil nobar, pemirsa sering menyantap mie instant pakai telur atau ‘internet’ (indomie, pakai telur dan kornet), “ ujarnya setengah bergurau.
Tentu tidak ada kaitannya pula, lonjakan harga telur dengan kemenangan kesebelasan Perancis karena ayam-ayam jantan di Indonesia sedang ikut bereuforia merayakan kemenangan kesebelasan Perancis yang bersimbulkan ayam jantan (le coq) itu.
Siapa diuntungkan?
Sementara Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mempertanyakan siapa yang diuntungkan jika harga telur naik? “Pedagang jelas rugi, karena pembeli sepi, begitu juga peternak karena harga pakan naik sehingga biaya produksi juga naik” , tuturnya.
Menurut dia, di dalam tata niaga perunggasan , kuota impor Day old Chicken-DOC (anak ayam), grand parent stock (GPS) atau bibit dan pakan ayam memang diatur pemerintah dan dilakukan oleh sejumlah perusahaan importir yang ditunjuk.
Sedangkan menurut Menteri Pertanian Amran Sulaiman, produksi telur saat ini sekitar 1,7 juta ton sebenarnya masih surplus sekitar 10.000 ton dari angka permintaan, namun ia mengakui, persoalan ada pada mata rantai produksi yang harus dibenahi.
Masalahnya apakah pengaturannya terus dikontrol dan transparan? Jika terjadi pelanggaran atau “moral hazard” di antara importir, equilibrium atau keseimbangan harga akan terganggu sehingga berdampak pada harga telur.
Ketidaksinkronan antarpejabat terkait, misalnya Menteri Pertanian yang menganggap persediaan telur sudah cukup, sebaliknya Menteri Perdagangan menganggap kran impor perlu dibuka karena stok dianggap masih kurang, juga kadang-kadang menimbulkan kebingunan di pasar.
Indonesia pada 18 Agustus sampai 2 September akan menjadi tuan rumah pesta olahraga terakbar se-Asia, Asian Games ke-18 yang akan dihadiri sekitar 185.000 tamu asing termasuk 11.000 atlit dan 4.400 ofisial dari 45 negara dan 170.000 suporter yang dikhawatirkan juga akan meningkatkan konsumsi telur, belum lagi suporter dalam negeri yang akan menggelar nobar dari 40 cabang olahraga yang diperlombakan.
Guna mencegah meningkatnya konsumsi telur secara berlebihan yang ujung-ujungnya membuat harga telur semakin mahal, mungkin perlu diterbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perpu) terkait larangan penggunaan telur dalam mie instan saat nobar event-event Asian Games, atau kewajiban bagi kontingen atau para pendukung masing-masing dari luar negeri untuk membawa telur sendiri-sendiri?




