Rupiah Terus Terpuruk sampai Titik Terendah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun ke titik terlemah sepanjang masa Rp17.180 per dolar AS (foto: stok ist)

NILAI tukar rupiah kembali mencatat rekor terlemah sepanjang masa ke level Rp17.180 per dolar AS pada pukul 09.15 WIB, Jumat (17/4), melemah 42 poin atau 0,25 persen dari perdagangan sehari sebelumnya.

CNNI melaporkan, mayoritas mata uang di kawasan Asia bergerak di zona merah. Yen Jepang melemah 0,16 persen, baht Thailand melemah 0,12 persen, yuan China melemah 0,03 persen, peso Filipina melemah 0,18 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,01 persen.

Sebaliknya, Dolar Singapura menguat 0,01 persen dan dolar Hong Kong melemah 0,02 persen pada pembukaan perdagangan pagi ini, sedangkan, mata uang utama negara maju kompak berada di zona merah.

Tercatat euro Eropa melemah 0,06 persen, pound-sterling Inggris melemah 0,10 persen, dan franc Swiss melemah 0,01 persen, sedangkan dolar Australia juga melemah 0,08 persen, dan dolar Kanada melemah 0,09 persen.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah akan melemah terhadap dolar AS, merespon data pekerjaan yang rebound karena klaim angka pengangguran AS lebih kuat dari perkiraan.

“Namun pernyataan Trump mengenai kesepakatan gencatan senjata Israel-Lebanon bisa membatasi perlemahan, ” uajrnya.

Sedangkan, sentimen domestik, menurut dia, masih negatif tertekan oleh fundamental ekonomi dan downgrade prospek ekonomi oleh Bank Dunia dan IMF baru-baru ini,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Jumat (17/4).

Hari ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp17.100 per dolar AS – Rp17.200 per dolar AS. Sebelumnya, nilai tukar rupiah mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah pada level Rp17.142 per dolar AS pada pukul 10.40 WIB, Selasa (14/4). Kala itu rupiah tercatat turun 37 poin atau 0,22 persen dari posisi pembukaan awal.

Proyeksi Bank Dunia
Proyeksi Bank Dunia (World Bank) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 : 4,7% (lebih rendah dari perkiraan 2025 yang sebesar 5,11%).

Penyebab Melambat: Hambatan dari kenaikan harga minyak, serta potensi capital outflow dan pelemahan rupiah akibat tekanan global.

Sentimen Pasar: Investor cenderung risk-off, namun terbantu oleh pendapatan komoditas dan investasi pemerintah.

Perbedaan Pandangan: Pemerintah Indonesia dinilai lebih optimistis (di atas 5%) dibandingkan proyeksi Bank Dunia yang lebih konservatif.

Sementara itu, lembaga lain seperti ADB memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi, yaitu 5,2% pada 2026.

Di tengah situasi global yang tak menentu, efisiensi melalui proritas alokasi anggaran dan juga pencegahan kebocoran perlu dilakukan lebih serius lagi. (CNNI/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here