BANGLADESH – Satu tahun sudah pengungsi Rohingya bertahan di kamp-kamp sementara di Bangladesh selatan, satu tahun pula penderitaan itu terkenang kembali.
Masih akrab dalam kenangan mereka penindasan brutal tentara Myanmar terhadap kelompok minoritas Muslim di negara bagian Rakhine yang menyebabkan mereka kabur ke Bangladesh selatan mencari perlindungan.
Lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan militer melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada 25 Agustus 2017.
Amena Khatun (45), mengatakan kepada Anadolu Agency tentang serangan mengerikan pada keluarganya.
“Mereka membunuh putra sulung saya di depan mata saya ketika mereka membakar rumah dan mengambil sapi kami,” kata Khatun.
Dia kehilangan segalanya tetapi menyimpan harapan untuk kembali ke rumahnya di Myanmar.
“Ini bukan negara saya. Mereka memberi kami tempat tinggal dan makanan tetapi kami ingin hidup di tanah kami sendiri,” katanya, dia mengaku tidak tahu kapan repatriasi akan dimulai dan bagaimana proses itu akan berlanjut.
Dia mengatakan dia tidak ingin pergi ke kamp pengungsi atau kamp konsentrasi di negara bagian Rakhine di bawah kendali ketat Myanmar.
Kekhawatiran serupa mencengkeram ratusan ribu orang Rohingya di Bangladesh karena penindasan terhadap Rohingya masih berlangsung di Myanmar satu tahun sejak serangan mengerikan dimulai.
Tindakan keras terhadap warga sipil Rohingya diluncurkan menyusul serangkaian serangan yang diduga dilakukan oleh Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) di 24 kantor polisi dan pos terdepan di distrik Muangdaw di negara bagian Rakhine utara.
ARSA mengklaim serangan itu sebagai tanggapan atas serangan, pembunuhan dan penjarahan oleh tentara yang dikerahkan ke daerah itu setelah kematian tujuh warga desa pada awal Agustus 2017.
Pemerintah melanjutkan kebrutalannya dan mengabaikan kecaman dari seluruh dunia.
Seperti dilansir Anadolu Agency, operasi militer mengakibatkan warga sipil dibakar hidup-hidup, pembunuhan–termasuk perempuan dan anak-anak–dan menembaki warga sipil yang mencoba melarikan diri ke daerah perbatasan.





