RAMA TAMBAK

Prabu Rama meminta Hanoman mengetes kekuatan jembatan Setubanda.

DASAMUKA memang penjahat kelamin tiada duanya. Dalam benaknya yang terbayang cuma selangkangan melulu. Bini sudah ombyokan masih juga mencuri istri orang. Maka kasihan sekali nasib Ramawijaya, baru seminggu jadi pengantin harus ngaplo (bengong), kembali kedinginan saban malam.  Jikalau Rahwana beriktikad jadi maling beradab, kan bisa ambil itu janda nganggur kalangan artis. Ada Maia Estanti, Sarah Azhari, atau pedangdut Kristina. Benar, mereka bukan titisan Widowati, tapi kan pasti kenal dengan Widyawati!

Berdasarkan laporan Anoman, Prabu Rama jelaslah sudah bahwa Dewi Sinta berada di Ngalengkadiraja. Dewasa ini putri Manthili tersebut disimpan di taman Argasoka, ditemani Trijatha, anak Gunawan Wibisono. Demikian merana Dewi Sinta, istri Prabu Rama ini kini dilaporkan menjadi wanodya yu kuru aking, gelung rusak wor lan kisma, ingkang iga-iga kaeksi (tubuh kurus kering, rambut terjuntai ke tanah).

“Wah, kasihan sekali Dewi Sinta. Harus segera dijemput pakai helikopter, tuh.” saran Patih Sugriwa, setelah mendengar paparan Anoman.

“Helikopter yang mana lagi? Orang helikopter dan pesawat banyak yang jatuh gitu,” jawab  Prabu Ramawijaya pesimis. Bagaimana nggak patah semangat, anggaran alutsista (alat utama sistem persenjataan) dari Suralaya semakin diperkecil.

Patih Sugriwa manggut-manggut sambil potong kuku pakai gigi,  demikian juga Lesmana dan Gunawan Wibisono. Bahkan adik Prabu Dasamuka tersebut sebentar-sebentar mengusap-usap perban tebal di kepalanya, mengingatkan orang pada Mochtar Ngabalin jubir Istana.

Maklum, dua hari lalu baru saja dia dihajar habis-habisan oleh si kakak kandung lantaran terlalu memuji-muji Prabu Rama. Usai jadi korban KDK (Kekerasan Dalam Keluarga) Gunawan diusir dari Ngalengka, lalu diberi suaka Ramawijaya sekaligus diberi posisi wantimraj (dewan pertimbangan raja). Di tempat barunya Gunawan Wibisono tinggal di rumah kontrakan daerah Menteng….Pulo.

Hari itu mustinya Prabu Ramawijaya bersama para prajurit kera Pancawati telah mesanggrah (tinggal sementara) di Maliawan, di pesisir pantai. Nun jauh di seberang sana terlihatlah sayup-sayup negeri Ngalengkadiraja.  Prabu Rama ingin sekali segera menyusul ke Ngalengka, ketemu istri. Tapi karena tak bisa terbang, apa mungkin berenang saja? Itu juga tak mungkin, karena meski bisa berenang, tapi hanya  gaya batu. Akhirnya Prabu Rama hanya bisa mengutuk diri sendiri, kenapa sekali hidup saja kok demikian menderita. Bini cuma satu kok dicolong orang!

“Ini sih biang keroknya. Kenapa kamu menghalangi perjalananku?” omel Prabu Rama kepada laut, cari kambing hitam. Lalu  panah Guwawijaya segera dilepaskannya, siuuuuut…..jleb!

Percuma saja Patih Sugriwa dan Arya Balik (Wibisana) mengingatkan, karena panah tersebut keburu menghunjam ke samodra nan luas.  Lalu, tiba-tiba airnya memanas dan bergolak plekuthuk-plekuthuk….. mirip lumpur Lapindo di Sidoarjo. Segenap ikan penghuni samodra, kalang kabut  kepanasan. Bahkan Sanghyang Baruna dewanya ikan pun sekarang hanya ngliga (telanjang dada) macam Capres Prabowo.

Sanghyang Baruna marah betul. Tapi untuk demo melawan arogansi titisan Wisnu nggak berani, sehingga dia menegur Prabu Rama dengan penuh sopan santun. Apa lagi Rama dikenal sebagai tokoh yang janma limpat seprapat tamat (cepat tanggap).

“Prabu Rama kan titisan Wisnu, tapi kenapa Anda kerepotan hanya untuk menyeberang ke Ngalengka. Ngomong saja pada Bethara Guru, minta jembatan seperti Holtekam di Papua, tentu dikabulkan,”  saran Sanghyang Baruna.

“Aduh, iya ya. Maaf kakang Baruna, kebuntuan emosiku menyebabkan anak buahmu menderita karenanya.”

Panah Guwawijaya segera ditarik dari samodra, air laut beserta penghuninya kembali tenteram, harga AC di sana normal kembali. Prabu Rama segera telepon mis call (ngirit – Red) ke kahyangan, mengontak Bethara Guru, minta bantuan jembatan. Setelah didisposisi Sanghyang Tunggal,  jembatan sacipta dadi (sekali jadi) segera dikirim. Celakanya, meski ini jembatan hibah, baik cecunguk di kahyangan maupun Pancawati kerjasama membengkakkan anggaran hingga puluhan milyar. Prabu Rama sama sekali tak tahu permainan ini.

Kata Bethara Guru, jembatan hibah ini dijamin kuat muatan berapa ribu ton. Tapi berdasarkan pengalaman, takut menjadi Jembatan Kutai Kertanagera jilid II, Prabu Rama memerintahkan Anoman untuk mengetes kekuatannya. Maklum, penguasa Pancawati ini sangat pro rakyat, sehingga tak ingin para kawula jadi korban jembatan bermasalah.

“Wahai Anoman, coba ditest jembatan Setubanda ini. Layak pakai nggak. Jangan sampai prajurit kita jadi korban dewa-dewa korup di kahyangan,” ujar Prabu Rama.

“Kalau dilihat dari data-data teknis, semuanya oke boss.”

Jembatan hibah ini sebetulnya sangat handal. Tapi sang Ramadayapati malu jika tak mampu mengalahkan kehebatan jembatan Setubanda. Maka dengan menggunakan ajian Maundri yang dikombain dengan Wungkal Bener, bagian tengah jembatan hibah tersebut langsung digenjot dengan sekuat tenaga. Sekali gagal, dua kali langsung jebol dan patah. Truk dan bus yang nyerobot lewat langsung kecebur, byurrrr…..

Para pemulung segera menyerbu. Bukan menolong para korban, tapi mengamankan besi-besi baja itu untuk dikilokan. Hanya dalam tempo beberapa jam, besi-besi itu sudah raib, tinggal dua beton tiang pancang yang menjadi saksi bisu atas kesombongan Anoman.

“Wah, kok makmum Jembatan Kukar juga ya? Udah, minta lagi jembatan hibah yang baru sana,” saran Sanghyang Baruna lagi.

“Ah, malu. Dibantu sekali kok minta lagi, memangnya gua cowok apaan?” jawab Prabu Rama sambil melirik Anoman. Yang dilirik hidungnya kembang kempis, bangga berhasil menghancurkan jembatan made in Suralaya. Aku kok!

Prabu Ramawijaya beserta para petinggi Pancawati segera menggelar rapat paripurna. Seiring dengan gagasan Wibisono, prajurit kera yang bisa terbang dipersilakan masuk Ngalengka lewat jalur udara. Namun bagi pasukan kera invantri,  segera dibuatkan jembatan tradisional berbentuk tanggul (tambak). Untuk menghemat anggaran, tidak dibangun oleh kontraktor, tapi cukup lewat Proyek Padat Karya, agar kera-kera Pancawati tak selalu bergantung pada BLT (Bantuwan Langsung Telas).

Dipimpin Anoman dan Anggada sebagai pimpro, pembangunan tambak Setubanda dimulai. Beribu-ribu kera kerja siang malam, dengan uang  lembur lumayan. Kayu-kayu ditebang, gunung-gunung dijebol untuk membendung samodra. Bebatuan segede gajah dilempar ke dalam laut. Namun banyak juga kera nakal. Hanya angkut batu 5 gerobak, ngakunya 10 gerobak.  Mandornya diam saja, karena diberi bagian juga.

“Bagaimana? Ramawijaya mulai membangun tambak Setubandha? Dancukkkk!” Prabu Rahwana di Ngalengka marah-marah, saat dilapori patih Prahastho lewat HP.

“Benar Gusti, bahkan banyak raksasa Ngalengka jadi TKW (Tenaga Kerja Wayang) gelap di sana,” ujar Patih Prahastho.

Prabu Dasamuka pusing tujuh keliling. Hingga hari ini dia belum berhasil merayu dan menyetubuhi Dewi Sinta di  taman Argasoka. Kok sekarang masuk pula laporan ancaman baru buat Ngalengkadiraja. Demikian marahnya Prabu Dasamuka, dia lalu menendang pot bunga, hingga berantakan. Sambil banting pintu, dia mengumpat gaya khas  almarhum dalang Enthus dari Tegal, “Ramawijaya pancen asu…..! Untunga tak ada UU ITE, sehingga  bebas membully orang. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement