JAKARTA (KBK) – Sejak digulirkan tahun 1994 Kurbanesia telah banyak menebar manfaat. Kini di 25 tahun keberadaannya, Kurbanesia kembali menyalurkan amanah donatur sebanyak 18.558 ekor setara kambing ke 34 provinsi dan 5 negara. Mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya 12.500 ekor.
Manager Program Ekonomi Dompet Dhuafa Kamaludin menuturkan Kurbanesia tidak hanya kegiatan kurban semata, melainkan juga pemberdayaan kepada para peternak. Dari tahun 1994 kini Dompet Dhufa telah berhasil mencetak 62 mitra usaha ternak di seluruh Indonesia dengan jumlah penerima manfaat sekitar 1000 orang dimana 30 persen di antaranya sudah mandiri.
Terkait Tebar Hewan Kurban (THK) di Lombok, Kamaludin mengatakan Dompet Dhuafa menyalurkan 203 sapi. Guna memudahkan distribusi, tim THK berkolaborasi dengan tim dari Disaster Manajemen Centre (DMC) yang sudah berada di Lombok menangani korban gempa.
“Kami tinggal memgkoneksikan mitra mandiri kami di Lombok untuk menyalurkan sapi ke lokasi bencana. Ini lah fungsi lain dari THK. Kita jadi bisa jadi cepat merespon bencana melalui momen Idul Adha,”kata Kamaludin dalam acara Diskusi Publik Kurbanesia Bangkitkan Kemandirian Peternak Indonesia, di Jakarta (6/9).
Selain kesejahteraan dan alas an kemanusiaan, Kurbanesia juga bertanggung jawab untuk meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan kemampuan penerima manfaat di dunia peternakan.
Praktisi Ternak Koperasi Mitra Mandiri Dompet Dhuafa Syaiful mengatakan, di luar standar syariah kunci keberhasilan peternak agar dapat melahirkan hewan kurban yang bagus adalah selektif dalam hal bobot minimum.
“Bobot minimal 23 kilogram dan kalau 22,9 kilogram itu tidak lolos dan tidak boleh dikurbankan,” terang Syaiful.
Syaiful berujar hasil akhir mutu ternak akan sangat berdampak pada peningkatan ekonomi mitra. Itu terjadi karena ketika ternak yang dirawat tak terserap THK, pun akan tetap bernilai jual tinggi saat dilepas ke pasar luar. Di sisi lain pelatihan dan pendampingan kepada mitra juga tak kalah penting.
Zain Mitra Ternak binaan Dompet Dhuafa asal Malang mengaku takjub dengan pemberdayaan program Kurbanesia Dompet Dhuafa. Dengan adanya THK Zain menjadi dapat kepastian pasar untuk menjual kambingnya. Ia tak lagi takut harga dipermainkan oleh tengkulak.
“Lebih hebat lagi bila bicara daging. Kami menggunakan cara fermentasi yang diajarkan selama pendampingan, daging kambing bisa rasa daging sapi,” jelas Zain yang kini memelihara 400 ekor kambing.
Sementara itu, berkat Kurbanesia Zein beserta kelompoknya menerima tanah wakaf seilai Rp 18 miliar. Tanah tersebut dulunya kerap digunakan Zein untuk menggembalakan kambingnya.





