NANTI malam kebo Kraton Surakarta Kyai Slamet akan jalan santai bersama kirab pusaka sambut tahun baru Islam 1440 H. Ini bukan menandingi Jalan Sehat Umat Islam yang digelar Minggu pagi sebelumnya. Hanya waktunya saja berdekatan. Jalan santai kerbau Kyai Slamet digelar rutin setahun sekali, sedangkan Jalan Sehat Umat Islam hanyalah insidentil tapi penuh muatan politik, sehingga polisi sempat melarangnya.
Kebo Kyai Slamet sudah biasa jalan santai ke berbagai wilayah kota Solo, bahkan sampai luar kota hingga Boyolali, Klaten, Sragen atau Sukoharjo. Mereka beriringan, dan karena warnanya yang khas bule, penduduk langsung tahu bahwa itu kerbau “kramat” dari Kraton Surakarta. Penduduk pun takkan berani mengganggunya, apa lagi menangkap dan menggelonggongnya untuk dijual ke tukang jagal.
Kyai Slamet Cs suka kelayapan ke mana-mana, jalan santai tanpa peduli dengan pergantian raja, apa lagi tagar ganti presiden. Bagi mereka ganti suasana lebih penting, karena rupanya jenuh juga bila sepanjang waktu hanya berkeliaran di Alun-alun Kidul kraton. Yang menarik dan susah diterima akal, meskipun pergi melulu macam Bang Toyib, menjelang pergantian tahun baru hijriah kebo-kebo kraton itu bisa selalu ada di kandangnya, Alun-alun Kidul. Padahal jelas mereka tak kenal HP dengan SMS-nya, apa lagi WA lewat smartphone.
Kebo ini aslinya kebo keturunan peninggalan Sinuwun Pakubuwono II di abad ke 18. Dari situs Keraton Nusantara disebutkan, kebo Kyai Slamet merupakan hadiah dari Kyai Hasan Beshari Tegalsari Ponorogo kepada Paku Buwono II. Kerbau itu diperuntukkan sebagai cucuk lampah (pengawal) dari sebuah pusaka keraton yang bernama Kyai Slamet saat beliau pulang dari mengungsi di Pondok Tegalsari. Kala itu terjadi pemberontakan pecinan (Geger Pecinan) yang membakar Istana Kartasura (1742).
Karena bertugas menjaga dan mengawal pusaka Kyai Slamet, maka masyarakat menjadi salah kaprah menyebut kebo bule ini sebagai Kebo Kyai Slamet. Saat ini kebo bule keraton berjumlah 12 ekor. Namun kebo bule yang dipercaya sebagai keturunan asli Kyai Slamet sendiri hingga saat ini hanya tersisa enam ekor. Mereka adalah Kiai Bodong, Joko Semengit, Debleng Sepuh, Manis Sepuh, Manis Muda, dan Debleng Muda. Yang menjadi pemimpin kirab biasanya adalah Kyai Bodong, karena dia sebagai jantan tertua keturunan murni Kyai Slamet.
Enam ekor disebut keturunan murni, karena mereka dan induk-induknya tidak pernah berhubungan dengan kerbau kampung. Tapi yang 6 ekor lainnya, agaknya mereka punya KIL (Kerbau Idaman Lain) di luar Kraton, sehingga bisa kawin dengan kerbau sembarangan. Maka tak mengherankan bentuk kulitnya tak lagi bule, tapi sudah berwarna hitam sebagaimana kerbau pada umumnya.
Boleh percaya boleh tidak, kirab malam 1 Suro itu sendiri keberlangsungannya sangat tergantung “kemauan” dari kebo Kyai Slamet. Sebab, adakalanya kebo keramat itu baru keluar dari kandang selepas pukul 01.00. Kirab pusaka ini sepenuhnya memang sangat tergantung pada kebo Kyai Slamet. Bahkan pernah terjadi, karena kaget oleh kilatan lampu blitz wartawan dan pengunjung, kerbau Kyai Slamet kabur dan tak ikut dalam prosesi kirab pusaka.
Jika saatnya tiba, biasanya tanpa harus digiring kawanan kebo Kyai Slamet akan berjalan dari kandangnya menuju halaman keraton. Kemudian bergabung dengan kirab pusaka Kraton. Rute jalan santai Kyai Slamet adalah: depan kori Kamandungan, Pagelaran, Bundaran Gladag, perempatan Bank Indonesia, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi dan kembali ke keraton. (Cantrik Metaram)





