Akurnya Nazarudin-Setnov

Setya Novanto dan M. Nazarudin nampak rukun, tiada dendam antara keduanya.

UNGKAPAN lama mengatakaan, orang yang senasib sepenanggungan, bisa menjadi akur. Ternyata itu memang tak terbantahkan. Setidaknya ini fakta yang dipergoki komisi Ombudsman ketika sidak ke LP Sukamiskin, Bandung, beberapa hari lalu. Di sana disaksikannya, betapa para eks anggota DPR dan Ketua DPR, bisa rukun ngobrol satu meja. Itulah para napi korupsi, M. Nazarudin dan Setya Novanto (Setnov).

Awalnya mereka memang sama-sama anggota DPR. Yang satu dari Demokrat (M. Nazarudin) dan satunya lagi Golkar (Setnov). Mereka memang teman sepermainan di Senayan, maksudya sama-sama “bermain” proyek. Cuma bedanya, M. Nazarudin terlalu cepat masuk penjara, secepat redupnya dia punya karier. Sedangkan Setnov, lebih belakangan KPK sehingga dia cukup lebih lama berkiprah kumpulkan uang dari Senayan.

Nazarudin – Setnov sama-sama jadi politisi yang pernah menjabat sebagai Bendum (Bendahara Umum) partai. Karena sama-sama mengatur keuangan partai, lama-lama mereka tahu juga bagaimana cara mencari uang. Tepatnya, cara kaya sistem 50 jam, tapi bukan karya Sutan Sulaiman sebegaimana belajar Bahasa Inggris.

Nazarudin begitu cepat membangun karier politisinya, tapi begitu cepat pula selesai. Sedangkan Setnov, dimulai dari jadi pengusaha dulu, kemudian dekat dengan politisi, mulailah dia merapat ke Senayan lewat Dapil NTB. Dari anggota biasa, ketua fraksi dan kemudian Ketum Golkar.

Setelah masuk penjara duluan, gara-gara proyek Wisma Atlet Jakabaring Palembang dan Hambalang Bogor,  M. Nazarudin omongannya sering menyeret-nyeret nama Setya Novanto. Kini keduanya sama-sama jadi penghuni LP Sukamiskin. Tapi nampaknya akur-akur saja, tiada dendam di antara mereka. Agaknya mereka berprinsip, mati satu mati semuanya!

Beberapa hari lalu Ombudsman sidak ke LP Sukamiskin Bandung. Di sel mewah eks Ketua DPR itu dipergoki Setnov sedang ngobrol santai bersama M. Nazarudin. Keduanya ketawa-ketiwi, tiada dendam di antara mereka. Padahal, Setnov ikut masuk LP Sukamiskin salah satunya juga “berkat” ocehan M. Nazarudin.

Terlepas dari kontroversi sel mewah eks Ketum Golkar tersebut, M. Nazarudin sepertinya merupakan “kamus berjalan” untuk para praktisi korupsi orang-orang Senayan. Dia tahu saja siapa yang bermain. Maka setelah dipenjarakan KPK, M. Nazarudin pernah bilang, “setiap ada proyek pasti ada nama Setnov di situ.”

Lantaran informasi awal dari M. Nazarudin, KPK mulai menelateni. Ternyata banyak juga yang benar. Maka hasilnya, berawal dari benjolan kepala segede bakpao isi kacang ijo, Setya Novanto pun berhasil divonis 15 tahun penjara dan kini dengan tenang menghuni LP Sukamiskin.

Mengingatkan akan iklan Benyamin dulu, tentunya M. Nazarudin begitu ketemu sohibnya di DPR dulu, akan menyapa, “E, ketemu lagi!” Legalah M. Nazarudin terpidana 13 tahun penjara itu. Sama-sama korupsi uang negara, ya harus sama-sama masuk penjara. Bila boleh pinjam filosofinya kraton Mangkunegaran Solo, itu namanya: tiji tibeh alias mati siji mati kabeh (mati satu mati semuanya).

Jika masuk penjara karena didzolimi orang –seperti pengakuan kebanyakan korban OTT– mestinya Setnov jadi dendam pada M. Nazarudin. Tapi ternyata tidak. Seperti saat Ombudsman ke selnya Setnov, ternyata di situ  M. Nazarudin sedang silaturahmi sahabatnya satu kompleks. Maklumlah, kini keduanya senasib dan sepenanggungan.

Keduanya masih bisa ketawa-ketiwi, sekedar melupakan hari-hari panjang tanpa kebebasan. Diratapi, disesali dengan mengurung diri, percuma saja karena itu justru merusak badan dan jiwa. Mereka tak mau bernasib seperti rekannya di DPR, Sutan Bhatugana, mati ngenes di LP Sukamiskin karena tidak mau menerima kenyataan. (Cantrik Metaram)

 

 

 

Advertisement