TSUNAMI Aceh 26 Desember 2004 masih membekas dalam ingatan kita, tiba-tiba 28 September 2018 kembali terjadi di Sulteng. Daerah Donggala dan Palu luluh lantak Jumat sore, setelah terjadi gempa 7,4 SR dan disusul datangnya tsunami. Hingga Senin 1 Oktober hari ini, tercatat sementara korban tewas sebanyak 942 orang dan yang luka-luka 799, sementara yang hilang 99 orang. Rumah yang rusak mencapai 655.733 dan jumlah pengungsi tercatat 59.400 jiwa.
Sepanjang sejarah republik, dua kali Indonesia diterjang gempa-tsunami satu paket, yakni di Aceh dan Sulteng ini. Pernah juga kecil-kecilan terjadi di Banyuwangi dan Pangandaran Ciamis. Tsunami Aceh merupakan cobaan pertama pemerintahan SBY-JK, dan tsunami Sulteng menimpa pemerintahan Jokowi-JK. Yang menarik, mengapa kok pas Wapresnya JK? Ini semua memang takdir Allah Swt, manusia tinggal menjalani saja tanpa bisa menghindar.
Negara yang jadi langganan tsunami adalah Jepang, sehingga dari sana pula istilah itu muncul. Tsu artinya pelabuhan dan nami adalah gelombang, sehingga arti mudahnya gelombang yang menghantam pelabuhan. Padahal dalam prakteknya, bukan pelabuhan saja yang menjadi sasaran. Daerah wisata pantai pun bisa dihajarnya, bila gelombang laut yang besar itu berkenan mampir ke situ.
Secara garis besar, tsunami adalah akibat gerakan vertikal pada lempeng yang berupa patahan/sesar. Patahan ini menyebabkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang dalam fase ini dinamakan gempa bumi. Karena adanya gempa bumi ini pula keseimbangan air di atasnya terganggu sehingga terjadi gerakan gelombang besar menuju pantai dan kemudian meluluhlantakkan daerah yang diterjangnya.
Kalau dalam perspektif pemikiran orang Jawa tempo doeloe, mungkin tsunami itu ibarat baskom besar berisi air. Ketika terjadi goncangan pada dinding baskom tersebut, airnya kocak (bergerak) ke sana kemari. Ini sama dengan pemahaman orang Jawa jadul, bahwa gempa itu sesungguhnya bumi yang disangga oleh naga dengan ekornya. Ketika naga itu kecapekan, maka ekornya digerak-gerakkan mengusir keju (capek), dan bumi pun bergoyang karenanya.
Tsunami hadir tidak melulu oleh gempa bumi ber-SR tinggi. Letusan gunung yang luar biasa dahsyat bisa juga menyebabkan tsunami. Contohnya ketika terjadi letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda 26 Agustus 1883, kota Banten dan Merak luluh lantak disasar tsunami, begitu juga kota-kota di pantai Lampung, Sumatera. Tercatat 36.000 jiwa menjadi korban.
Pulau Jawa wilayah selatan memang rawan tsunami. Pasalnya terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif utama dunia, yaitu Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia. Dalam kurun waktu 27 tahun (1990-2017) setidaknya telah terjadi 166 gempa bumi merusak dan 16 di antaranya memicu terjadinya tsunami, serta telah menyebabkan lebih dari 277 ribu korban jiwa.
Sejarah mencatat, sejak awal abad ke 20, pantai selatan Jawa telah dilanda oleh 20 kali kejadian tsunami yang dipicu oleh goncangan gempa bumi. Wilayah yang pernah dilanda tsunami tersebut adalah Pangandaran (1921, 2006), Kebumen (1904), Purworejo (1957), Bantul (1840), Tulungagung (1859), Jember (1921) dan Banyuwangi (1818, 1925, 1994).
Pada dekade 1990an dan 2000an, dua tsunami besar melanda Banyuwangi (1994) dan Pangandaran (2006). Tsunami Banyuwangi dipicu oleh gempa bumi dengan magnitudo 7.2 dan menyebabkan 377 orang meninggal. Sementara itu tsunami Pangandaran yang menyebabkan 550 korban jiwa dipicu oleh gempa bumi skala Mw7.7 yang menghasilkan gelombang tsunami dengan tinggi 1-6 m dan jarak landaan 100-400 meter. (Cantrik Metaram).





