Dicari! Pemimpin Sadar Bencana

Lebih 1.200 korban tewas dan sekitar 660.000 bangunan luluh-lantak diterjang gempa disusul tsunami di Palu dan Donggala (28/9). Tindakan mitigasi untuk mengurangi risiko korban jiwa dan harta benda mutlak dilakukan.

GEMPA bumi berkekuatan 7,4 SR disusul tsunami yang menerjang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9) pukul 18.02 Wita sejauh ini telah merenggut lebih 1.450 nyawa dan diperkirakan masih ada korban-korban lagi yang tertimbun di bawah reruntuhan bangunan atau tersapu gelombang.Sekitar 60.000 bangunan terutama rumah-rumah warga luluh lantak dan rata dengan tanah.

Kapan persisnya bakal terjadi gempa sampai kini belum bisa diprediksi, namun sensor tsunami (buoy) dan seismometer untuk memonitor getaran bumi sudah terpasang di sejumlah lokasi, begitu pula wilayah-wilayah subduksi dan sesar yang berpotensi gempa juga sudah dipetakan.

Sayangnya, 21 buoy beharga tujuh ratusan milyar rupiah yang diperoleh dari hibah tersebut kabarnya raib dicuri orang, sedangkan 170 seismometer yang ada terlalu sedikit untuk memonitor seluruh wilayah rawan gempa di negeri ini. Sebagai perbandingan, Jepang dengan wilayah yang lebih kecil, mengoperasikan 4.000 seismometer.

Pusat Studi Gempa Nasional 2017 mengungkapkan, Sesar Palu-koro salah satu dari 48 sesar atau sumber gempa di Pulau Sulawesi yang menurut catatan sejarah, memicu sejumlah gempa yang merusak di kawasan itu.

Sulawesi sendiri yang terbentuk dari tiga tumbukan lempeng besar Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik, merupakan pulau yang amat dinamis dan dibelah banyak patahan aktif.

Sebagian gempa Sulawesi yang terjadi sejak 1820 hingga 2018 memacu tsunami, sedangkan Selat Sulawesi sudah 19 kali diterjang tsunami yang seluruhnya berasal dari aktivitas gempa di patahan Palu-Koro, zona subduksi di utara Sulawesi dan sesar Pater-Noster di Selat Makasar.

Walau gempa bumi tidak bisa diprediksi tibanya secara pasti, bisa dipastikan, wilayah yang pernah dilanda gempa bumi sebelumya, dipastikan bakal terkena lagi, begitu pula tsunami.

Setelah gempa besar, biasanya terjadi gempa susulan yang kekuatannya cenderung lebih kecil, walau bisa juga gempa besar diikuti gempa besar lagi seperti terjadi di Lombok baru-baru ini atau disebut fenomena doublet dimana gempa sebelumnya memicu runtuhnya bidang gempa di sebelahnya.

Pengetahuan praktis pada warga tentang perlindungan diri saat terjadi gempa juga harus terus disosialisasikan, seperti berupaya berlindung di bawah benda-benda berstuktur kuat seperti meja atau tempat tidur, atau segera keluar begitu ada peluang saat berada di bangunan rawan gempa.

Jika laut tiba-tiba surut atau terjadi gempa diharapkan agar segera menjauh dari pantai atau mencari tempat di ketinggian untuk menghindari bahaya tsunami. Warga juga harus memastikan struktur bangunan rumahnya masih aman pasca gempa walau tidak mengalami keruakan atau masih tegak.

Perbandingan Kesiapan Jepang

Sementara Kabag Seismologi Tehnik BMKG Dadang Permana mengakui, sistem peringatan dini gempa dan tsunami yang diterapkan Indonesia tidak jauh berbeda dengan Jepang, walau dari sisi alat-alat sensor, selain teknologinya jauh lebih maju, juga lebih banyak jumlahnya.

Menurut dia, alat-alat pendeteksi gempa dan tsunami langsung terhubung dengan media, sehingga peringatan bahaya langsung dan secara otomatis bisa disebarkan pada seluruh masyarakat yang berada di lokasi potensi ancaman bencana.

“Dalam waktu dua menit, warga sudah bergerak melalui jalur-jalur evakuasi yag sudah dirancang menuju titik kumpul di lokasi-lokasi aman yang juga sudah ditentukan,” ujarnya.

Jadi menurut dia, selain pengenalan tentang bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami termasuk di kurikulum sekolah-sekolah, penyiapan jalur evakuasi dan titik kumpul sudah harus disiapkan sebelum bencana terjadi.

“Selain itu, simulasi bencana juga harus dilakukan secara rutin. Di Jepang dilakukan setiap bulan, “ tuturnya.

Semuanya akhirnya kembali terpulang pada keseriusan para pemangku kepentingan, khususnya pemerintah pusat dan pemda untuk lebih serius melakukan mitigasi bencana demi menekan risiko kerugian, baik nyawa maupun harta-benda jika terjadi bencana alam.

Jangan sampai, kegiatan mitigasi bencana hanya sekedar proyek untuk menghabiskan anggaran, juga agar bantuan sampai ke tangan korban, tidak seperti yang terjadi pada bencana-bencana sebelumnya, apalagi ditilep untuk kepentingan pribadi seperti dana bantuan gempa Lombok oleh oknum anggota DPRD Kota Mataram berinisial HM baru-baru ini.

Wawasan lingkungan dan sadar bencana harus melekat pula pada sosok calon presiden dan wakil presiden serta wakil-wakil rakyat pada Pemilu serentak 17 April 2019 nanti, mengingat posisi negeri ini yang berada di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).

Advertisement