Palu Rawan Gempa, Peneliti BMKG Usulkan Ibu Kota Sulteng Dipindahkan

Lebih 1.200 korban tewas dan sekitar 660.000 bangunan luluh-lantak diterjang gempa disusul tsunami di Palu dan Donggala (28/9). Tindakan mitigasi untuk mengurangi risiko korban jiwa dan harta benda mutlak dilakukan.

JAKARTA – Peneliti gempa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr Muzli mengusulkan agar ibu kota Sulawesi Tengah dipindah dari Palu ke tempat lain.

Menurutnya Palu sangat rawan gempa dan riskan,  dan disamping penuh garis patahan, juga ada di atas endapan sedimen berupa batuan lunak yang tebal.

Muzli menjelaskan Palu berada di garis sesar Palu Koro, yang merupakan patahan aktif yang memanjang sekitar 500 kilometer mulai dari Selat Makassar sampai Pantai Utara Teluk Bone.

Selain itu, wilayah Palu merupakan area batuan lunak yang bisa dilihat secara kasat mata melalui Google Map, dan bisa diketahui seberapa tebalnya endapan sedimen tersebut.

“Warnanya putih kalau dilihat dari Google Map, itu juga menunjukkan topografinya rendah.”

Bahayanya, endapan sedimen tebal membuat rentan terjadinya likuifaksi atau pencairan tanah.

“Likuifaksi terjadi karena Palu merupakan daerah batuan lunak atau sedimen. Jadi ketika gempa terjadi, menyebabkan permukaan tanah retak dan menyebabkan air permukaan bercampur dengan endapan sedimen, yang kemudian menjadi lumpur,” katanya, Selasa (9/10/2018), dikutip Antara.

Menurut dia, endapan sedimen yang tebal di Palu tersebut juga menyebabkan banyaknya bangunan yang rusak pascagempa berkekuatan 7,4 SR yang terjadi pada Jumat (28/9./2018) lalu.

Advertisement