Kampanye Belum Sentuh Rakyat

Saling hujat dan bully masih mewarnai debat antara tim sukses atau pendukung kedua kubu paslon capres dan cawapres dalam kampanye Pilpres 2019, bukannya mengedepankan program dan gagasan.

HINGAR-bingar kampanye Pilpres 2019 disesaki narasi saling serang antara kubu kedua paslon yang berkontestasi dan malah sering berargumentasi tanpa nalar sehingga terkesan membabi-buta membela kandidat yang didukungnya.

Mayoritas ( 84,2 persen) responden dari kubu Jokowi- Ma’ruf Amin (01) menjawab “tidak tahu” visi, misi dan paslon yang berlaga pada Pilpres 2019 dan hanya 15,8 persen menjawab “tahu”, sedangkan di kubu Prabowo-Uno (02) 87,7 persen menjawab “tidak tahu” dan hanya 11,6 persen “tahu”.

Jajak pendapat yang digelar harian Kompas tersebut (Kompas 15/10) , diikuti 457 responden berusia minimal 17 tahun dan digelar di 16 kota besar di Indonesia pada 10 dan 11 Oktober lalu.

Lebih membuat miris lagi, sebagian besar (76 persen) responden kubu pendukung Jokowi- Ma’ruf juga tidak mengetahui program penting atau menarik yang ditawarkan, sedangkan selebihnya (24 persen), a.l menilai pembangunan instruktur (12 persen), pembangunan ekonomi dan kesra (5,9 persen) , peningkatan layanan kesehatan (2,2 persen).

Jumlah responden dari kubu Prabowo-Uno yang tidak mengetahui program yang penting dan menarik bagi mereka lebih banyak lagi (84,1 persen), sedangkan sisanya a.l. menilai perbaikan ekonomi dan kesra (8,8 persen), penciptaan lapangan kerja (2,4 persen) dan penghapusan kerja alih daya (1,1 persen).

Sebanyak 45,1 persen responden (kedua kubu) menilai, persoalan ekonomi (a.l. stabilitas rupiah dan lapangan kerja) adalah hal paling mendesak, disusul isu kesra 27,6 persen (kemiskinan, pendidikan dan kesehatan), kemudian penegakan hukum (KKN dan narkoba) 16,2 persen.

Sedangkan menjawab pertanyaan apakah isu negatif terkait paslon yang didukung akan mempengaruhi pilihan mereka, 36,5 persen responden menjawab “ya”, 31,7 persen menjawab “mungkin” dan 10,3 persen “tidak tahu”.

Sejak kampanye dimulai 23 September lalu, jurkam masing-masing di medsos, media utama atau debat live di TV terutama dari kubu yang berdasarkan polling berada di “bawah angin”, berusaha mencari sisi-sisi negatif atau gelap yang ada di pihak lawan.

Kasus Ratna Sarumpaet
Masih beruntung, polisi bergerak cepat membongkar rekayasa kebohongan Ratna Sarumpaet seolah-olah ia mengalami penganiayaan oleh beberapa orang yang tentu saja pelaku dialamatkan ke kubu capres dan cawapres yang satunya, padahal wajahnya bengap karena ternyata ia baru menjalani operasi plastik.

Jika saja kasus Ratna tidak keburu terungkap, polemik bisa saja bakal terus berkembang dan berujung pengerahan massa besar-besaran untuk menjatuhkan lawan seperti terjadi sebelumnya dan pada gilirannya bisa menjerumuskan bangsa ke ambang perpecahan.

Walau kedua capres dan cawapres telah mengikrarkan kampanye damai, di lini di bawahnya, petinggi partai pengusung atau pendukung, nyatanya tim-tim sukses dan massa pendukung agaknya belum terbiasa atau mungkin belum mampu untuk beradu gagasan dan program.

Saling hujat , “bullying” dan sumpah serapah di medsos lebih parah lagi, padahal seharusnya mereka sadar, yang dilakukan mencederai nilai-nilai budaya dan merendahkan citra bangsa ini dan mengancam persatuan.
Belum lagi, selain rendahnya mutu kampanye, publik juga mencemaskan, politik uang masih bakal marak di Piplres dan Pilkada serentak 17 April 2019 nanti.

Walau di bawah “mendung dan awan kelabu yang berarak panjang” , salah satunya ditunjukkan oleh perilaku berkampanye saat ini, rakyat masih berharap, bakal menyaksikan terpilihnya presiden dan wakil presiden serta wakil-wakil rakyat yang amanah, jujur, pekerja keras dan kompeten. (NS)

Advertisement