SEJAK tahun 1974 dunia penerbangan Indonesia mengalami 34 kali musibah, dengan 1.613 penumpang tewas. Klimaksnya terjadi 29 Oktober lalu, ketika pesawat Lion Air JT 610 jatuh di perairan Ujung Krawang, dalam penerbangan Jakarta-Pangkalpinang. Penumpang bersama awak sebanyak 189 orang jadi korban. Pertanyaan pilu pun terpaksa muncul, Lion Air pelopor penerbangan bertarif murah meriah. Tapi kenapa pada akhirnya nyawa orang kok menjadi demikian murah?
Sebelum era reformasi, pesawat terbang sebagaimana Garuda Indonesia, Mandala dan Sempati Airlines, adalah angkutan mewah bagi rakyat kebanyakan. Tak semua orang mampu menikmati. Soalnya tarifnya kelewat mahal. Tahu 1974, Jakarta – Solo tiketnya berharga Rp 18.000,- ketika emas 1 gram Rp 500.000,- Lalu tahun 1982, Jakarta – Yogyakarta sudah menjadi Rp 45.000,- Begitulah, semakin bertambah tahun harganya semakin mahal saja.
Maka bagi anak kampung yang tentunya “tampang ndeso”, bila mendengar dengung pesawat di langit lepas, cukup buru-buru keluar rumah lalu muka menengadah ke atas, melihat pesawat itu terbang nampaknya dengan pelan. Lalu mulut kecil itupun bersenandung lagu-lagu parikan, “Montor mabur diyane mati, sing nang ndhuwur sing ngati-ati…..!” Lalu bersama temannya mereka berkhayal, pada saatnya nanti akan baik pesawat. Sekian tahun kemudian ada yang bisa kesampaian, tapi banyak pula sekedar cita-cita sampai maut menjemput.
Tapi setelah era reformasi, tepatnya sejak tahun 2000, hadirlah maskapai penerbangan berbiaya murah, bernama Lion Air, milik pengusaha Rusdy Kirana. Maskapai berlogo singa terbang ini banting harga sehingga terjangkau kantong tipis rakyat kecil. Maka tampang-tampang ndeso tak lagi minder naik burung besi.
Taun 2004-an, Lion Air berani pasang tarif promo Rp 150.000,- untuk penerbangan Yogya-Jakarta. Bahkan sekarang ini, Lion Air berani pasang tarif Rp 100.000, untuk penerbangan Jakarta-Singapura. Namanya tarif murah meriah, sehingga fasilitas dalam penerbanga dikurangi. Tak ada snack dan minuman, paling-paling permen. Itupun lama-lama hilang.
Beruntunglah orang Indonesia sebagai konsumen penerbangan banyak yang berprinsip “yang penting sampai”. Karenanya minimnya fasilitas tak menjadi masalah. Karena murahnya itu pula, meski Lion Air sering mendelay pesawat, tak bikin kapok penumpang.
Dipelopori Lion Air, maskapai yang lain pun ikut-ikutan “banting harga”. Meski bertarif murah maskapai tetap untung. Sebab bagi yang tahu liku-liku dan tehnik penerbangan, harga bisa dibuat murah sebab BBM avtur itu hanya digunakan saat mau take of maupun landing. Di langit lepas, pesawat sebetulnya melayang begitu saja, karena kecepatannya didorong oleh kekuatan angin.
Tapi ironisnya, sejak lazim penerbangan murah meriah, sering terjadi kecelakaan. Adam Air misalnya, nyungsep di perairan Majene, Sulawesi Barat 1 Januari 2007. Penumpang berikut awaknya sebanyak 102 orang tewas. Di Bandara Adisumarmo Solo 30 Nopember 2004, Lion Air slip dan tewaskan 26 penumpang. Di Bandara Ngurah Rai (Bali), Lion Air mendarat di laut 13 April 2013, untung tak ada korban jiwa. Dan terakhir 29 Oktober 2018, Lion Air jatuh di perairan Ujung Krawang, tewaskan 189 penumpang dan awaknya.
Maka sejak tahun 1974 hingga sekarang, di Indonesia telah terjadi 34 kali kecelakaan penerbangan dengan 1.613 penumpang tewas. Orang pun bertanya dengan pilu, sejak banyak tiket pesawat murah, kenapa nyawa manusia juga demikian murah? (Cantrik Metaram)





