Rusaknya Indikator Kecepatan, Penyebab Jatuhnya JT 610?

Kerusakan instrumen airspeed indicator diduga salah satu pemicu kecelakaan Lion AIr No. penerbangan JT 610 di lepas pantai Karawang (29/10) menewaskan 189 awak dan penumpangnya.

PENYEBAB pasti jatuhnya pesawat Boeing B737 MAX8 Lion Air nomor penerbangan JT 610 bersama seluruhnya 189 awak dan penumpangnya di lepas pantai Karawang (29/10) baru bisa diketahui dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).

Namun hasil temuan awal tim penyelidik yang dilakukan KNKT bersama Badan Keselamatan Transportasi AS, pihak Boeing dan dukungan tim Australia mengungkapkan, instrumen indikator kecepatan (Airspeed Indicator – AI) dalam empat penerbangan terakhir dari 19 penerbangan yang direkam rusak.

AI adalah instrumen penting untuk mengukur kecepatan pesawat terbang selain altimeter (pengukur ketinggian terbang), rate of climb (kecepatan pesawat menanjak) dan penunjuk tekanan di kabin pesawat.
Penyimpangan yang terjadi pada instrumen penunjuk kecepatan terbang bisa berakibat pilot atau copilot mengambil keputusan keliru dalam mengendalikan pesawatnya.

Dalam tulisan terdahulu (30/11) penulis menduga pesawat JT610 menukik dalam kecepatan 370 knot (685 km) dan pecah berkeping-keping saat menyentuh permukaan laut 13 menit setelah tinggal landas dari Bandara Soekarno-Hatta , Cengkareng, Senin (29/10) pukul 06.20 WIB.

Dugaan itu didasari dari bukti, serpihan pesawat dan properti penumpang dan awak,baik yang mengapung maupun berada di dasar laut berkedalaman 31 meter tersebar pada radius sempit, hingga dugaan pesawat meledak di udara akibat bom atau penyebab lainnya kemungkinan bisa dikesampingkan.

Salah satu bukti lainnya, mesin masih hidup saat pesawat membentur permukaan air terlihat dari kondisi mesin yang rontok, terlepas dari cangkangnya, sehingga tampak berupa onggokan bilah-bilah, kompresor, turbin, ruang pengapian dan knalpot.

Jika itu terjadi, bisa dibayangkan yang dialami penumpang dan awak, karena pesawat yang menukik pada kecepatan itu menghasilkan gaya grafitasi (g) sampai 14 g, padahal daya tahan manusia hanya sampai 3 atau 4 g.

Dengan gaya gratifikasi di atas 4 g, orang akan kehilangan kesadaran (Lost of Conscius) karena darah akan turun ke bawah mengikuti gaya tarik bumi sehingga pasokan darah ke otak minim, kemampuan jantung memompa juga melemah.

Sejumlah Pertanyaan
Yang perlu didalami lebih lanjut untuk menguak misteri jatuhnya JT610: “Apa yang dilakukan tim teknisi pesawat untuk memperbaiki instrumen AI yang tidak berfungsi menurut catatan dalam logbook yang ditulis pilot?

Apakah teknisi sudah menindaklanjuti temuan yang tercatat di logbook?.
Jika ya, apa yang sudah dilakukannya. Apakah dengan perbaikan itu, instrumen yang rusak benar-benar sudah kembali berfungsi?
Jika tidak dilakukan perbaikan, apakah kerusakan AI tidak termasuk kategori “pesawat dilarang terbang” atau “no go item”?

Apakah hanya pilot pada penerbangan terakhir sehari sebelumnya (28/10) rute Denpasar -Jakarta yang menemukan kerusakan instrumen AI seperti yang terekam dalam FDR dan kemudian mencatatnya di logbook pesawat?

Bagaimana dengan pilot penerbangan sebelumnya, yakni pada rute Menado – Denpasar (pada hari yang sama, 28/10), begitu pula pada penerbangan rute Jakarta – Menado (27/10). Apakah kedua pilot juga menemukan kerusakan AI dan mencatatnya di logbook dan apa saat itu juga diperbaiki?

Instrumen pesawat penumpang, apalagi yang mutakhir seperti Boeing B737 MAX8, berlapis-lapis, saling dukung, dan khusus terkait AI, kabarnya ada tiga, satu di sisi pilot, satu di sisi copilot dan satu lagi di tengah. Apakah ketiga-tiganya rusak atau tidak berfungsi?

Penyelidikan awal berdasarkan rekaman FDR sejauh ini baru membuka rekam gerakan pesawat (latitude) atau lintang dan longitude (bujur) mulai dari lepas landas dari Bandara Soeta hingga hilang kontak di atas lepas pantai Karawang yang datanya persis dengan hasil pantauan radar.

FDR, salah satu bagian kotak hitam (black box), merekam 1.800 parameter pesawat (a.l. performance mesin dan berbagai fungsi instrumen pesawat), sementara CVR, juga bagian penting black box yang merekam pembicaraan pilot dengan copilot dan pengawas lalulintas udara (ATC), belum ditemukan.

Tim gabungan 900 personil dari KNKT, Basarnas, Denjaka Marinir dan Kopaska TNI-AL, Bakamla dan KPLP dan BPPT didukung sekitar 30 kapal laut dan dua heli sampai hari ke-10, Rabu (7/11) masih terus berupaya mencari sisa serpihan pesawat, benda-benda lain serta VCR yang penting untuk mengetahui penyebab musibah.

Hasil rekaman FDR, dan juga CVR (bila ditemukan) yang akan diputar di hadapan perwakilan Boeing, Badan Keselamatan Penerbangan AS (NTSB) dan KNKT diharapkan akan menguak kepastian penyebab jatuhnya pesawat Lion JT610.

Investigasi yang transparan dan profesional karena melibatkan NTSB, KNKT dan tim pabrik (dari Boeing) diharapkan akan menguak tuntas penyebab kecelakaan JT 610.

Berbagai kemungkinan, mulai faktor manusia (pilot), malfungsi peralatan atau instrumen, lemahnya pengawasan regulator (Kemenhub), kelalaian operator (Lion Air) sampai penyimpangan produk diharapkan terkuak jika investigasi menyeluruh selesai. (NS)

Advertisement