
JAKARTA – Yanti (12), salah seorang remaja yang bekerja sebagai pengupas kerang di kampung Nelayan wilayah Muara Angke, Jakarta Utara menyimpan harapan ingin menjadi seorang dokter meski dia telah putus sekolah.
“Yanti cuma ingin jadi Dokter, agar bisa sembuhkan adek Yanti yang juga masih bayi. Kasihan kalau lagi sakit demam dan kejang,” ucap Yanti lirih.
“Dulu itu aku tinggal sama nenek di Indramayu. Berhenti sekolah kelas dua SD, pindah ke Jakarta, dan langsung kerja ini (pengupas kerang). Ya buat bantuin orang tua,” tambahnya.
Selepas putus sekolah, setiap hari, Senin hingga Jum’at, Yanti menjalankan rutinitas duduk di antara jutaan kerang yang harus dikupasnya satu-persatu, selama enam hingga delapan jam perharinya.
Ditengah kerja kerasnya, Yanti masih menyelipkan keinginan untuk dapat sekolah kembali.
Selain Yanti, banyak juga anak-anak lain di kawasan Muara Angke, Pengasinan, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, yang sejak kecil, putus sekolah dan kehilangan hak bermainnya sebagai anak.
Dengan upah rata-rata Rp 45,000,- per-orang setiap harinya, mereka ikut membantu bekerja sebagai pengupas kerang sejak pagi, siang, bahkan hingga sore.
“Paling banyak aku pernah dapat Rp 60 ribu kak,” jelas Yanti, kepada tim Dompet Dhuafa, Selasa (6/11/2018).
Ia mengungkap, bahwa upahnya tersebut diberikan kepada orang tuanya, dibelanjakan untuk barang jualan seperti kerupuk, dan ditabung jika masih ada sisa. “Sekarang tabunganku sudah banyak, ya ada sekitar lima ratus ribuan lah, hehe,” canda Yanti.
Meski tidak dapat sekolah seperti anak lainnya yang beruntung, kini Yanti ikut belajar paket di YRAP (Yayasan Rumpun Anak Pesisir) setiap hari Sabtu dan Minggu.
“Karena kalau hari biasa (Senin hingga Jum’at) Yanti kerja. Setelah pulang kerja, Yanti bantu cuci baju di rumah. Habis itu baru deh sambil baca-baca buku sebelum tidur, sambil mimpi bisa jadi Dokter,” ungkap Yanti, masih dengan penuh optimis.




