
PERANG Ngalengka–Pancawati berhenti, Prabu Rama segera memboyong Dewi Sinta ke Ngayodya, “bulan madu” gelombang kedua! Sebagai ucapan terima kasih atas perjuangannya angkat senjata melawan Ngalengka, petinggi Pancawati seperti Sugriwa, Lesmana, Anoman, diberi posisi layak. Sugriwa misalnya, tetap menjadi patih, Lesmana yang anti wanita, ditunjuk menjadi Mentri Pariwisata & Ekonomi Kreatif. Di Ngayodya kini dia tengah sibuk dibangun gedung “Sapta Pesona” yang berbentuk mirip “organ tunggal” kaum lelaki.
Yang bikin repot justru Kapi Jembawan. Sejak revolusi Pancawati dia memang sudah tua, tampang Pancawati-nya kentara sekali. Karenanya ketika mau diberi posisi Ketua MA, diprotes rakyat. Umur sudah 70 tahun begitu, dikhawatirkan pikun dalam memutus perkara. Makanya sekarang Jembawan hanya diberi posisi Mentri Veteran. Semua urusan taman pahlawan dan uang pensiun veteran Perang Ngalengka, dialah yang membayari. Tapi ya itu tadi, karena mata sudah mulai kabur, uang Rp 20.000,- sering dikira Rp 2.000,- Akibatnya negara sering nombok.
“Demi pengetatan anggaran, sekarang Jembawan dipromosikan sebagai Ketua Veteran Pejuang Pancawati (VPP) saja,” usul Patih Sugriwa kepada Prabu Ramawijaya.
“Nggak tega saya. Biar saja dia berhenti secara alami. Diingu sakmatine ….!”, ujar Prabu Ramawijaya berbisik-bisik.
Memang begitulah watak Prabu Ramawijaya, gak tegaan. Maka biarpun masih banyak pejabat Ayodya yang malas setor LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara), hanya dibiarkan saja. Justru demikian perhatiannya pada Kapi Jembawan, kini dia ditawari untuk menikah, sehingga posisi Ketua Darma Wanita Kementrian Veteran tak terlalu lama kosong. Ternyata Jembawan tetap tidak mau, dengan alasan sudah tak berminat. Namun anehnya, di ruang kerjanya dia hobi buka situs porno di internet. Ih, munafik!
Sudah tiga bulan Prabu Ramawijaya mengemudikan negeri Ngayodya yang telah ditinggalkan selama 5 lima tahun. Namun Dewi Sinta belum juga tenang di istana keputren Ngayodya. Dia tak cocok dengan servis para pelayan istana. Dulu di Taman Argasoka, Dewi Trijatha selalu bisa menghibur dirinya. Kini, para pelayan kebanyakan tuntutan doang. Gaji sudah dinaikkan sesuai UMR baru Rp 4,2 juta, tapi kerjanya banyak ngerumpi dan main HP. Lihat tuh Limbuk – Cangik, gajinya habis buat beli pulsa.
“Sinuwun, saya mohon Dewi Trijatha ditarik ke sini saja. Hanya dia yang cocok melayani saya,” ujar Dewi Sinta di suatu pagi, habis keramas katanya.
“Apa dimas Wibisono mengizinkan? Lalu, status keemigrasiannya bagaimana? Sebagai turis kan dilarang merangkap bekerja,” Prabu Rama memberi pencerahan.
Untung saja Prabu Wibisono petinggi Ngalengka sekarang, tetap berhubungan baik dan menghormati Prabu Rama. Beliau tak berkeberatan putrinya ditransver ke negeri Ngayodya, asal statusnya bukan dianggap TKW (Tenaga Kerja Wayang). Prabu Rama tentu saja tak berkeberatan, bahkan nantinya Dewi Trijatha mau dipromosikan sebagai Menteri Urusan Wanita, lalu namanya ditambahi jadi Mien Trijatha. Soalnya dalam keseharian logat bicara Dewi Trijatha medhok banget, aksen dan tampang Ngalengka-nya sangat terasa.
Kabar bakal kehadiran Dewi Trijatha di Ngayodya menjadi sorotan pers. Ada yang mendukung, tapi ada juga yang mbengung (protes). Yang oposisi menganggap, kehadiran Trijatha sama saja menutup potensi SDM dalam negri. Kenapa “babu” saja musti impor? Lalu bagaimana dengan nasib Tukinem–Ngatini dari Slogoimo (Wonogiri), bila peluang kerjanya diserobot asing? Di samping itu, Trijatha kan masih keponakan Dasamuka, siapa tahu kehadiranya di Ngayodya justru menjadi mata-mata?
“Bagaimana ini Sinuwun? Media massa menolak Trijatha? Takutnya dia termasuk jaringan intelejen asing,” ujar Patih Sugriwa sambil nenteng koran Kompas.
“Jangan under istimate-lah! Baru impor Trijatha saja diributkan, bagaimana kalau saya nekad beli pesawat kerajaan?” jawab Prabu Rama sewot, masak soal pelayan saja kok dipolitisir.
Dewi Trijatha berhasil masuk Ngayodya. Jangan sampai jadi korban pembiusan di bandara, Anoman yang sudah lama kenal ditugaskan menjemput di “Bandara Dasarata”. Tak lama kemudian tampaklah Trijatha menyeret koper besar merk Polo, tapi keluar dari terminal kedatangan sambil menenteng tas kresek isi duwet. Katanya ini menu hobi Anoman. Namanya juga kera, meski telah menjadi petinggi Ngayodya masih saja gemar makan duwet.
“Lho, Anda masih ingat hobiku? Beli di mana ini?”
“Iki kiriman familiku dari Cabangbungin, Bekasi “ jawab Trijatha dalam mobil jemputan.
Dewi Sinta senang sekali bertemu kembali dengan Trijatha. Dua wanita cantik tersebut lalu bernostalgiaan. Di kala Sinta disekap di Taman Argasoka, Putri Gunawan Wibisono inilah yang selalu menghibur hati istri Prabu Rama. Andaikan saja Trijatha tak pandai-pandai merayu Prabu Dasamuka, tentunya sudah lama Dewi Sinta habis diperkaos Rahwana teroris di muka bumi.
Kapi Jembawan yang jarang baca koran, terkagum-kagum melihat penampilan putri cantik dari Ngalengka. Biasanya cuek bebek pada wanita, menyaksikan Dewi Trijatha yang putih dengan betisnya yang mbunting padi, celana kolornya mendadak tak muat. Tiba-tiba dia gandrung pada Trijatha, kepengin mengambilnya sebagai istri. Tapi meski posisinya jadi Menteri Veteran, dalam kondisi kera jompo dan penderita penyakit B-6 alias: Budheg, Beser, Buyuten, Buram, Brat-Brot (ngentutan – Red), siapa mau?
“Banyak jalan ke Roma, banyak jalan ke surga dunia….!” ujar Kapi Jembawan menghibur diri.
Di pagi nan cerah, Trijatha yang tengah santai di taman Argalawu, mendadak dipepet Raden Lesmana, yang berpenampilan lain dari biasanya. Dalam keseharian adik Prabu Rama ini kan dingin pada wanita, jaim, mendadak dia suka cag-ceg pada daerah strategis tubuh Trijatha. Sebenarnya risih juga, tetapi karena Lesmana memang tampan, lama-lama Trijatha hanyut.
“Tumben-tumbenan. Biasanya kan acuh saja,” sindir Trijatha.
“Stt, aku baru minum Irex…!” jawab Lesmana sambil terus beroperasi.
Trijatha yang baru beranjak dewasa, dirangsang oleh Lesmana yang agresip penuh inisiatip, akhirnya jadi lupa daratan. Di taman keputren, dengan bertabirkan potongan triplek, dia meladeni segala nafsu dan aspirasi arus bawah Lesmana. Tapi sial, belum juga tuntas tas tas, ketahuan oleh Anoman yang sedang patroli. Melihat keluarga raja berbuat mesum dalam pertamanan, langsung digerebeg. Lesmana yang tengah berada di “langit lapis tujuh”, mendadak dihadiahi aji maundri, sehingga berubah wujud menjadi Kapi Jembawan.
“Lho kok Lik….,” Anoman terpekik model dhalang Ki Anom Suroto-an.
“Ssst, jangan bilang-bilang ya!” pesan Jembawan kerepotan membetulkan celana.
Gemparlah kraton Ngayodya. Maunya Prabu Rama kabar tersebut dipeti eskan saja, tapi kadung masuk breaking news di Metro TV. Koran-koran yang sedari dulu anti Trijatha, menulis judul headline segede gajah: Skandal Trijatha – Jembawan terbongkar, tamparan bagi Prabu Rama.
Meski pisik Jembawan jelek, Trijatha terlanjur kesengsem pada kera jompo yang bisa “kungfu” di ranjang itu. Makanya dia pasrah saja saat dinikahkan di KUA dan dapat dokumen ganda, ya buku nikah coklat-hijau, ya Kartu Nikah lengkap dengan berkode-nya. Tapi karena Prabu Gunawan Wibisono emoh menjadi wali, terpaksa menggunakan wali hakim. Namun bagi wayang oposan, perkawinan Trijatha – Jembawan dinilainya sebagai perkawinan politik Ngayodya – Ngalengka. (Ki Guna Watoncarita)


