Kriminalitas: Begitu Murahnya Nyawa

HS (23) Tersangka pembunuh Diperum Nainggolan, isteri dan dua anaknya di Pondok Melati, Bekasi (13/11). dalam rentang dua pekan (7 sd 21 Nov) , tujuh korban tewas dalam empat kasus pembunuhan di kawasan Jabodetabek

TUJUH nyawa melayang akibat empat kasus pembunuhan sadis di tempat terpisah di kawasan Jabodetabek hanya dalam rentang waktu dua pekan (7 – 21 November) dan untung, polisi bergerak cepat mencokok delapan tersangkanya.

Korbannya yakni sopir taksi daring Jap Son Tauw (68) di Kab. Tangerang, Iin Puspita (22), pemandu lagu beralamat di Mampang, Jaksel, A Fitri Setiawan alias Dufi (43) dan empat korban sekeluarga tewas di tangan HS di Pondok Melati, Bekasi.

Son Tauw yang ditemukan jasadnya di S. Ciracap, Kp. Pangadokan Cemara, Kel. Kuta Baru, Kec. Pasar Kamis, Tangerang (7/11) diduga dihabisi oleh REH (22), adiknya, RLP (20), REP (22) dan FF (17) dengan motif untuk menguasai mobil korban.

Sekeluarga terdiri dari empat orang yakni Diperum Nainggolan (38) dan isterinya Maya Ambarita (37) serta dua anaknya, Sarah (9) dan Arya (7) dibantai oleh HS (23) yang juga kerabatnya, di perumahan Pondok Melati, Bekasi (13/11).

Motif pembunuhan, diduga karena dendam kesumat, saat HS yang pernah dipekerjakan untuk mengurus kontrakan rumah milik kakak Diperum di sebelah rumahnya dikata-katai oleh suami isteri tersebut ketika ia menumpang bermalam.

Sedangkan jasad Dufi ditemukan oleh pemulung meringkuk di tong sampah di kawasan Klapanunggal, Kab. Bogor (18/11), dengan terduga pelaku MN (35) bersama seorang wanita yang belum diketahui identitasnya.

Jasad Iin Puspita ditemukan di lemari kamar kontrakannya di bilangan Mampang, Jaksel (20/11). Ia diduga tewas akibat kekerasan benda tumpul oleh dua rekan sejoli YAP (24) dan NR (17) soal pembagian uang tip yang menurut tersangka ditilap korban.

Intensitas peristiwa pembunuhan di wilayah Jabodetabek, menurut Psikolog Forensik Reza Indragiri cukup tinggi yakni 70 kasus dalam rentang sepuluh bulan terakhir ini.

Namun demikian ia meminta masyarat tidak perlu resah sepanjang performa kepolisian bisa diandalkan, sementara kriminolog Adrianus Meliala menilai, aksi kriminalitas bermuculan pasca Asian Games dan Asian Para Games, Oktober lalu bresamaan dengan melonggarnya pengawasan dari aparat kepolisian.

“Umpama balon, jika dipencet bagian tertentu, gelembungnya akan pindah ke titik lain. Begitu pula dengan kejahatan, “ ujarnya.

Sementara Psikolog Forensik Kasandra Putranto mengingatan agar warga lebih waspada, mengingat 80 sampai 90 persen kasus pembunuhan dilakukan oleh pelaku yang dikenal atau orang dekat dengan korban, bermotif ekonomi, asmara atau dendam.

Sikap tanggap polisi yang dengan cepat menemukan tersangka kejahatan tentu harus diapresiasi, namun tindakan preventif berupa pengawasan mulai dari lingkup keluarga dan hunian terutama RT/RW dan sekolah harus dilakukan.

Advertisement