GUWARSO – GUWARSI

Resi Gotama menasihati ketiga putranya untuk bertapa dengan gaya masing-masing.

RESI Gotama memang sosok wayang yang kelewat jujur. Setelah pensiun jadi pejabat di negeri Lokapala sekian puluh tahun lalu, dia pulang kampung tanpa membawa harta yang berarti. Dengan uang Taspen yang dimiliki, di Gunung Sukendra tempat asalnya dia lalu membuka perguruan ilmu kebatinan dan kanuragan (kesaktian). Lagi-lagi Resi Gotama memang bukan wayang mata duitan, meski perguruan swasta dia tak cari kesempatan mengeruk kantong mahasiswa.

“Kok nggak mungut uang gedung sebanyak mungkin, Mbah?” tanya wartawan.

“Yang menghisap darah mahasiswa biarlah perguruan negeri saja. Di sini, mahasiswa pinter bisa studi gratis,” jawab Resi Gotama.

Karena kampus tidak mata duitan, Resi Gotama dalam usia tua dewasa ini juga tetap miskin tak punya aset berharga. Maka setelah menikahi Dewi Windradi dan punya tiga anak, dia tak bisa memanjakan keluarganya. Sikecil Anjani – Guwarso – Guwarsi dulu tak pernah kenal permainan elektronik Nitendo dan sejenisnya, kecuali hanya othok-othok, gasing dan nekeran (kelereng).

Oleh karena itu, dalam hati kecilnya Resi Gotama sebenarnya bisa memahami, kenapa Dewi Windradi mau menerima pemberian mainan mahal made in kahyangan seperti “Cupu Manik Astagina” tersebut. Yang tak bisa dipahami sekaligus menginjak harga diri, kenapa untuk membahagiakan anak-anaknya Windradi harus membarter dengan tubuhnya. Ah, tapi semua sudah terlambat. Istri tercinta yang pernah diobok-obok Bethara Surya, kini sudah menjelma jadi tugu yang diam membisu.

“Wahai anak-anakku, sekarang tidak perlu sedu sedan itu…..,” kata Resi Gotama. Saking harunya, mendadak dia jadi puitis meniru penyair Chairil Anwar.

“Ya engku, eh ayahku,” jawab Anjani – Guwarso – Guwarsi serempak. Gayanya mirip Tuti-Amir –Sudin dan Muntu dalam buku Bahasaku karya BM. Nor.

“Kalian ini memang seperti binatang jalang. Daripada jadi rebutan, maka cupu manik ini biarlah hilang terbuang!” Resi Gotama masih berpuisi ala Chairil Anwar lagi.

Namanya juga masih anak-anak ABG, ketiga bocah pertapan Gunung Sukendra ini tak mampu membaca wajah ayahnya.  Bukannya diam takut, justru saat sabak elektronik “Cupu Manik Astagina” dilempar ke udara, mereka bertiga segera berlarian mengejarnya. Tanpa pamit lagi.

Guwarso – Guwarsi berlari lonjong botor (cepat sekali) berkejaran, sementara Dewi Anjani jauh tertinggal di belakang. Namun di sebelah mana jatuhnya “Cupu Manik Astagina” tak pernah jelas, kecuali keduanya tiba-tiba melihat telaga sunyi yang mirip lagunya Koes Plus. Sayangnya Guwarso – Guwarsi tak tahu, putri mana yang bunuh diri karena patah hati.

Keduanya lalu melihat gerakan air telaga blekuthuk…blekuthuk… Nah, mereka menduga bahwa di situlah “Cupu Manik Astagina” jatuh, sehingga tanpa pikir panjang Guwarso – Guwarsi terjun untuk mendapatkannya. Namun sampai bibir biru njebibir (kedinginan), benda yang dicari tak juga didapat. Justru kemudian Guwarso melihat di dalam telaga yang sama sosok kera seukuran dirinya.

“Pasti kamu yang mengambil “Cupu Manik Astagina” milikku…,” tuduhnya.

“Enak saja. Justru kamu yang mengambil itu barang, kan?” balik tuduh Guwarsi, gayanya mirip anggota DPR Sutan Batughana.

Keduanya pun berkelahi di dalam air telaga Madirda, berebut “proyek” yang sudah tidak jelas. Baik Guwarso maupun Guwarsi tak sadar bahwa keduanya memang telah berubah wujud. Baru ngeh akan apa yang terjadi, saat mereka bercermin di air telaga. Langsung keduanya menangis berangkulan. Kenapa kok berubah jadi kera? Apakah ada dewa yang salah kutuk?

Dewi Anjani datang belakangan di telaga Madirda. Meskipun tubuh berkeringat dan kotor, dia tak sampai menceburkan diri ke dalam telaga, kecuali hanya mencuci muka dan kedua tangannya. Tapi hasilnya sama, wajah dan kedua telapak tangannya berubah wujud jadi kera. Untung saja kala itu Dewi Anjani tak sampai cebok segala………

“Sudahlah adik-adikku, mari kita kembali kepada rama Resi Gotama, minta solusi. Tapi ingat, jangan sampai lewat kota, apa lagi Jakarta.” pesan Dewi Anjani serius.

“Memangnya kenapa, Mbakyu?”

“Kalian bisa ditangkap dan dijadikan Topeng Monyet….”

Trio Anjani – Guwarso – Guwarsi kembali ke Gunung Sukendra sambil menangis sepanjang jalan. Resi Gotama menyaksikan keadaan ketiga putranya yang berubah wujud pating pecotot, kaget juga. Tapi sadar itu sudah menjadi kehendak dewata,  dia hanya bisa pasrah. Ya kalau nggak pasrah mau apa lagi? Mau operasi plastik buat ketiga anaknya? Duit dari mana, dan bila dipolitisasi macam Ratna Sarumpaet siapa tanggungjawab?

“Bagaimana ini rama, kami kok jadi begini. Saya pengin berwajah cantik lagi, pengin jadi anggota DPR biar kaya,” ratap Dewi Anjani.

“Jangan anakku. Cantik, kaya, tapi bohong melulu, itu tak ada gunanya,” nasihat Resi Gotama.

Resi Gotama lalu mengheningkan cipta menurut kepercayaannya, minta petunjuk dewata. Sebagai orang suci yang sudah mungkur kadonyan (meninggalkan duniawi), solusi dari kahyangan pun segera tiba. Kata Sanghyang Betara Guru (SBG), untuk kembali ke wujud semula, tidak bisa! Tapi sebagai penebus dosa atas kelancangan Anjani – Guwarso – Guwarsi melihat isi “Cupu Manik Astagina”, mereka diharuskan bertapa.

Bertapapun tidak sembarang bertapa di tempat sepi. Guwarso harus tapa ngalong, sehingga posisi tubuhnya bergelantungan macam kalong. Guwarsi tapa ngidang, sehari-hari harus makan rumput. Sedangkan Dewi Anjani harus tapa nyanthuka, berulah seperti katak, yakni jongkok dalam kondisi telanjang bulat di tepi danau Madirda.

“Nggak bisa diganti dengan memberi santunan anak yatim, rama?” Guwarso mencoba menawar.

“Husy, ndak bisa. Ini rujukan kitabnya beda kok.” Jawab Resi Gotama.

Resi Gotama juga mengingatkan, jangan kaget bahwa gaya bertapa Guwarso yang seperti kalong atau kampret ini nantinya akan dipolitisasi di jagad nyata, termasuk juga “tapa ngodok”-nya Anjani. Dalam kancah Pilpres di Indonesia, nantinya istilah kampret akan ditabalkan pada pendukung Prabowo, dan pendukung Jokowi akan disebut kecebong, generasi pertama daripada kodok.

Dengan penuh rasa masygul, ketiga putra Resi Gotama segera melaksanakan perintah itu. Soal gaya bertapa Guwarso dan Guwarsi, tidak terlalu menarik. Tapi ini dia….., bertapa telanjang gaya Anjani sungguh bikin geger para dewa di kahyangan. Bodi Anjani yang seksi menggiurkan, Anjani tampil apa adanya, bikin Bethara Guru langsung orgasme. Maklum, sebagai petinggi dewa selama ini dia tak pernah buka-buka gambar mesum di internet, takut diekspose macam Arifinto anggota DPR dadi PKS dulu.

Kama (sperma) Bethara Guru jatuh di daun sinom di dekat Anjani bertapa. Tak menyadari bahwa daun itu telah bernoda, Anjani memakannya. Aneh bin ajaib, Anjani langsung hamil dan tak lama kemudian melahirkan kera lelaki yang dinamakan kemudian Anoman. Kata Betara Narada yang pernah membesuknya, bayi itu  sebetulnya anak Betara Guru.

“Tapi kok tak pernah ke sini, Pukulun? Di mana tanggungjawabnya?” protes Anjanji.

“Mengakui Anoman putranya, sama saja kariernya hancur.”

Memang benar, dalam sistem hukum di kahyangan Jonggring Salaka, demenan dengan makhluk ngarcapada termasuk pelanggaran berat HAM. Maka saat Anjani menggugat ke kahyangan dan SBG disidang dalam Tipisum (Tindak Pidana Mesum), atas pertanyaan Sanghyang Wenang dia menjawab lupa melulu, sambil menunjukkan surat keterangan dokter. Pendek kata, soal hubungannya dengan Dewi Anjani tak ada yang diingat, kecuali saat makan-makan saja.

“Pelupa gitu kok jadi Raja Komisi Kahyangan…..” sindir Hyang Wenang, tapi Bethara Guru yang botak itu hanya nyengir saja. (Ki Guna Watoncarita)

                                                                                                          

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement