LAVA yang dimuntahkan oleh Gunung Merapi, pukul 19.08 WIB Minggu lalu (16/12) bukanlah kejadian luar biasa yang perlu dicemaskan, apalagi intensitas dan gugurannya relatif kecil.
Menurut Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida di Yogyakarta, Senin (17/12), guguran lava mengarah pada bukaan kawah Merapi di wilayah hulu Sungai Gendol, Sleman yang terjadi sejak 22 November dimana arahnya lebih banyak ke dalam kawah atau ke arah barat laut.
Guguran lava yang mengarah ke luar kawah di sisi tenggara puncak Merapi juga berlangsung empat kali pada 23 November dengan jarak luncur sejauh 300 meter ke wilayah yang tidak ada aktivitas penduduknya.
Guguran lava, menurut dia, terjadi karena pembentukan kubah lava yang saat ini masih relatif rendah yakni antara 2.000 sampai 3.000 meter kubik per hari atau saat ini mencapai 350.000 meter kubik, padahal volume kawah Merapi diperkirakan mampu menampung sampai 10 juta meter kubik.
Sementara ini kegiatan wisata yang masih berada pada jarak di atas radius tiga kilometer seperti tour wisata dengan kendaraan jip masih diizinkan, kecuali pendakian ke puncak Merapi tidak dianjurkan.
BPPTKG untuk itu mengimbau agar masyarakat tetap tenang, tidak terpengaruh informasi-informasi di medsos hingga panik, sementara BPPTG juga akan menyampaikan informasi tentang status Gunung Merapi secara berkala.
Gunung Merapi yang berlokasi di wilayah Boyolali dan DI Yogyakarta dengan ketinggian mdpl,telah meletus sebanyak 68 kali sejak 1548. Letusan bulan November 1994 menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 nyawa.
Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus. Pada tahun 2006 Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan Kaliadem karena terkena terjangan awan panas. Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 tercatat sebagai yang terbesar sejak letusan 1872 dengan korban tewas 273 orang.
Letusan 2010 juga teramati sebagai anomali dari letusan-letusan “khas Merapi” karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20–30 km.
Walau pun sampai kini Merapi tampaknya masih aman, tetaplah waspada!





