Suriah ditinggal AS

Presiden AS Donald Trump memutuskan akan menarik pasukannya yang ditempatkan di Suriah karena tugas mereka memenangi peang melawan NIIS sudah selesai.

KEPUTUSAN mengejutkan Presiden AS Donald Trump menarik pasukannya dari Suriah selain memicu reaksi beragam di antara pihak-pihak yang bertikai dan berkepentingan, juga bakal mengubah konstelasi militer di negeri itu.

Pihak yang paling cemas tentu saja milisi Kurdi (YPG) dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dukungan AS. Pasukan Turki menyerbu basis kelompok separatis YPG di Afrin yang beroperasi di sepanjang perbatasannya dengan Suriah awal 2018, sedangkan SDF adalah kelompok oposisi yang bertempur melawan pasukan rezim pemerintah Bashar al-Assad.

Satuan Turki belum berani memasuki wilayah Manbij di sisi timur Sungai Eufrat yang dijadikan markas YPG karena di sana juga ada satuan milter AS, sementara SDF bakal kesulitan menghadapi pasukan pemerintah yang juga didukung oleh laskar Hisbollah dari Iran.

Bagi Turki dan Iran, tentu saja keputusan Trump menarik pasukannya dari Suriah disambut dengan sukacita, karena mereka akan lebih leluasa melakukan agenda masing-masing. Turki bertujuan melumpuhkan kelompok separatis Kurdi yang diwakili YPG dan Iran semakin leluasa menempatkan satuan Hisbollah.

Presiden Rusia Vladimir Putin yang negaranya berada di belakang rezim Bashar al-Assad juga menganggap keputusan Trump sangat tepat karena bisa mendorong solusi politik di negeri itu. Lebih dari itu, hengkangnya pasukan AS tentu saja bakal memperkokoh dominasi Rusia di Suriah.

Perang saudara di Suriah yang berkecamuk sejak 2011 telah menewaskan sekitar 130.000 orang, sebagian besar warga sipil dan juga menciptakan jutaan pengungsi yang tersebar di negara-negara Turki, Jordania dan sekitarnya, juga sampai ke daratan Eropa.

Presiden Trump sendiri beralasan, keputusannya menarik pasukan dari Suriah karena tugas pasukannya telah selesai memenangi perang melawan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), lagi pula, AS tidak ingin menjadi polisi di kawasan Timur Tengah.

Dalam cuitannya, Trump mengatakan, AS tidak mendapatkan apa-apa terkait keterlibatannya perang di Suriah selain mengeluarkan dana triliunan dollar dan mengorbankan nyawa pasukannya untuk melindungi pihak lain dan dalam banyak kasus, apa yang dilakukan AS tidak dihargai.

Satuan AS berkekuatan sekitar 2.000 personil ditempatkan di sejumlah wilayah di Suriah Timur guna memberikan pelatihan bagi SDF yang dibentuk pada Oktober 2015 untuk memerangi NIIS.

Israel yang juga musuh bebuyutan dan beberapa kali terlibat peran besar melawan Suriah (Perang Enam Hari pada 1967 dan Yom Kippur 1973), seperti ditulis oleh harian setempat, Haaretz, menilai keputusan Trump akan menguatkan dominasi Rusia dan Iran di Suriah.

Bagi Rusia, rezim Suriah adalah mitra utamanya dimana negara itu bisa menempatkan armada laut satu-satunya di kawasan Timur Tengah (pangkalan Tartus, Suriah), dan bagi Iran, akan memperlancar operasi milisi Hisbollah yang ditempatkan di negeri itu untuk menganggu Israel. (AP/AFP/Reuters/NS)

Advertisement