BANTEN – Seorang koki di Beach Hotel Tanjung Lesung, Joni Priantoro menjadi salah satu korban selamat dari terjangan tsunami pada Sabtu (22/12/2018) malam.
Dia mengisahkan pada malam itu dia masih sibuk menyiapkan makan malam untuk tetamu yang tengah menginap di sana. Kesibukan itu terjadi hanya beberapa jam sebelum tsunami Selat Sunda menerjang kawasan itu.
Ia mengatakan harus menyiapkan makan malam untuk 108 tamu. Sebanyak 60 orang di antaranya merupakan tamu dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Kelar melaksanakan tugasnya sebagai penyaji makanan, Joni beberes. Ia mengingat, pekerjaannya selesai pukul 21.30 WIB. Dia mengatakan ketika dia baru akan beristirahat, tetiba mendengar suara gemuruh yang sangat keras dari arah laut.
Seketika itu, orang-orang berteriak dan tampak berlarian. Mereka berseru “tsunami…. tsunami”. Joni yang panik lantas ikut berlari. Tak sampai hitungan menit, air tiba-tiba mengempas. Keadaan gelap gulita. Suara jeritan pun makin kencang.
“Air menyambar cepat. Saya hanya ingat berpegangan kabel itu,” kata Joni kepada Tempo, Ahad petang, di Kelurahan Cikadu, Banten.
Ditambahkannya, dia berada di balik kontainer dan memegang erat kabel AC. Tiba-tiba, seseorang datang memegang kakinya. Suara memelas terdengar tak lama kemudian.
“Saya ikut ya, Mas,” katanya, menirukan suara itu. Joni tak dapat mendeteksi siapa yang mengajaknya bicara. Sebab, kondisi malam itu gulita. Tak ada penerangan sedikit pun.
Dalam kondisi tergulung ombak, Joni hampir saja tertimpa container. Sebuah bilik besi melayang di atas tubuhnya. Ia tak sadar selama sekian detik. Kala membuka mata, tiba-tiba Joni telah berada di pinggir jalan aspal.
“Saya buka mata, baju saya basah, tapi saya selamat,” katanya, mengenang. Selepas sadar benar, Joni langsung mengevakuasi diri ke tempat lebih tinggi. Ia berlari melewati hutan tanpa alas kaki menuju Kelurahan Cikadu, Tanjung Lesung.
Desa beradius 7 kilometer dari kawasan pesisir itu dianggap sebagai tempat paling aman. Sebab, daerahnya berada di ketinggian.





