Tren Konsumsi Tumbuhan Liar di Jalanan, Diminati Anak Muda Inggris dan Jerman

JAKARTA, KBKNEWS.id – Tren urban foraging atau kegiatan meramu dan memanen bahan makanan liar di area perkotaan kian diminati anak muda di Jerman dan Inggris. Salah satunya, cerita dari Christian Amis di Brighton, Inggris.

Di pesisir Brighton, Christian Amis, mantan koki restoran berbintang Michelin di London—kini memilih meramu makanan dari tumbuhan dan sayuran liar yang ada di jalanan dan hutan. Ia rutin menyusuri tepi jalan, celah tembok, hingga garis pantai untuk mencari sayuran liar, herba, dan rumput laut.

“Setiap melihat ke bawah, saya melihat makanan. Saat berjalan, perhatian saya otomatis tertuju pada tanaman,” ungkap Christian mengenai kebiasaannya mengamati flora di sekitarnya seperti dilansir dari DW, Kamis (27/8/2026).

Bagi Christian, memanen bahan dari habitat aslinya memberikan kualitas rasa dan nutrisi yang jauh lebih unggul dibandingkan produk di toko. Ia kerap membawa pulang jelatang segar, marjoram liar, adas laut, hingga jamur langka.

“Saya ingin hidup mandiri tanpa bergantung pada orang lain atau supermarket. Menyenangkan rasanya tahu dari mana makanan berasal dan melihatnya tumbuh alami,” tuturnya.

Sementara itu di Berlin, Jerman, Alexis Goertz memelopori pemanfaatan tanaman liar yang dipadukan dengan seni fermentasi tradisional melalui gerakan Edible Alchemy miliknya. Perempuan asal Kanada ini mengolah aneka tumbuhan kota menjadi hidangan kaya probiotik, mulai dari roti, acar mentimun daun oak, hingga tempe dan kimchi bawang putih liar.

Alexis meyakini bahwa proses pengawetan alami ini memaksimalkan penyerapan nutrisi dalam tubuh. “Makanan fermentasi itu seperti makanan yang sudah dicerna lebih dulu… proses ini membuat nutrisi dan mineralnya lebih mudah diserap tubuh sehingga energi bisa diperoleh dengan cepat dan rasanya tetap lezat,” jelas Alexis tentang khasiat pangan olahannya.

Untuk menyebarkan kesadaran lingkungan, Alexis rutin mengadakan tur jalan kaki dan lokakarya di Berlin. Ia mengedukasi peserta mengenai keanekaragaman hayati kota sekaligus etika memanen secara berkelanjutan. “Pilih dan ambil secukupnya dengan hati-hati. Jika Anda petik daun dari pohon, petik satu per satu, jangan semuanya sekaligus agar kehidupan bisa terus berlanjut,” tegas Alexis kepada para peserta turnya.

Di Brighton, hasil ramuan Christian bahkan telah merambah ke sektor kuliner komersial lokal. Ia rutin memasok buah mahonia, herba liar, hingga serbuk adas kepada barista dan bartender setempat seperti Julian untuk diracik menjadi minuman koktail khas daerah pesisir yang otentik dan segar.

Bersama saudaranya, Christian kemudian mendirikan sebuah startup berbasis edukasi meramu di perkotaan untuk mengajarkan masyarakat cara mengolah tumbuhan liar dengan aman, seperti membuat tempura dan kari dari tanaman liar. “Yang ingin kami tunjukkan adalah bahwa meramu bahan pangan liar itu mudah dan tidak menakutkan… jika Anda taat aturan dan bertanggung jawab, Anda bisa menikmatinya sesuka hati,”* terangnya.

Gerakan meramu di perkotaan ini tidak hanya menawarkan solusi kemandirian pangan dan keberlanjutan ekologis, tetapi juga membawa dampak positif bagi kesehatan fisik serta mental para pelakunya. Lewat eksplorasi rasa yang tersembunyi di sudut-sudut kota, urban foraging membuktikan bahwa alam perkotaan menyimpan potensi pangan melimpah yang siap diolah kembali ke meja makan.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here