Mengenal Lebih Dekat Gunung Anak Krakatau

ilustrasi

JAKARTA – Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang tengah meningkat membuat Gunung Api ini menjadi salah satu Gunung yang ditakuti yang berada di Selat Sunda, karena posisinya yang berada di tengah lautan, yang juga dapat memicu tsunami.

Anak Krakatau adalah salah satu gunungapi aktif yang berada di Selat Sunda, dan muncul di diantara Pulau Panjang, Pulau Sertung dan Pulau Rakata (komplek G. Krakatau).

Dalam rilis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang diterima KBK, Jumat (28/12/2018), disebutkan jika sejak kemunculannya pada  11 Juni 1927 hingga 2011, Anak Krakatau telah mengalami erupsi lebih dari 100 kali baik bersifat eksplosif maupun efusif, dengan waktu istirahat berkisar antara 1 – 6 tahun.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga saat ini sedang ‘tumbuh’ membangun diri. Sejak erupsi tahun 2001,  Anak Krakatau aktif kembali mulai 23 Nopember 2007 sampai dengan 10 Juli 2011, dengan kejadian erupsinya yang berlangsung setiap tahun namun dengan jumlah kejadiannya erupsi eksplosif dan potensi ancamannya yang terus menurun.

Pasca perbaikan peralatan seismik tanggal 18 Nopember 2011, seismogram merekam gempa-gempa Vulkanik menerus yang jumlahnya mencapai lebih dari 6000 kejadian per hari.

Berdasarkan perubahan aktivitas kegempaan tersebut, sejak tanggal 31 Nopember 2011 pukul 24:00 WIB, status aktivitas  ditingkatkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Namun kegempaan  Anak Krakatau mengalami penurunan drastis sejak Desember 2011, hingga status aktivitas diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada tanggal 26 Januari 2012.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat beberapa kali terjadi letusan selama rentang waktu 2012-2013, dengan letusan terbesar terjadi pada tanggal 2 Nopember 2012 dengan kolom asap kelabu mencapai tinggi 1000 meter, diikuti dengan letusan strombolian dan diakhiri dengan leleran lava yang mengalir ke arah tenggara dan baratdaya.

Letusan tahun 2013 terjadi pada akhir bulan Maret dan pertengahan bulan April. Tahun 2016, letusan terjadi pada 20 Juni 2016. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian.

Aktivitas Anak krakatau kembali meningkat di bulan Desember 2018, dimana puncaknya pada  26 Desember 2018, mengeluarkan  letusan berupa awan panas dan surtseyan.

Awan panas ini yang mengakibatkan adanya hujan abu termasuk yang terekam pada 26 Desember 2018 jam 17.15 WIB. Dari Pos Kalianda, jam 12 malam melaporkan suara gemuruh dengan intensitas tinggi.

Karenanya,  sejak Kamis (27/12/2018) statusnya telah dinaikkan menjadi Siaga, warga dan wisatawan diimbau jauhi zona bahaya diluar 5 kilometer dari kawah.

 

Advertisement