
BENCANA hidrometeorologi di tengah musim penghujan yang sudah memasuki sebagian besar wilayah Indonesia mulai merenggut 23 nyawa penduduk Sulawesi Selatan, Selasa (22/1).
Dua korban tewas ditemukan warga Rabu pagi (23/1), sedangkan tiga korban lainya ditemukan tim SAR Gabungan sore hari sehingga masih tersisa 18 korban tertimbun tanah longsor di Dusun Pattiro, Desa Pattalikang, Kec. Mamuju, Kab. Gowa, Sulsel yang belum ditemukan.
Data BMKG menyebutkan, hujan lebat yang mengguyur beberapa kawasan di Kab. Gowa memang tergolong ekstrim yakni dengan intensitas 300 mm per hari.
Menurut Kasubbidang Prediksi Cuaca BMKG Agie Wandala Putera, curah hujan ekstrim di Sulsel terutama terjadi akibat fenomena Madden-Julian Oscillation – MSO (elemen variablilitas intramusiman terbesar pada kondisi atmosfir tropis) berbarengan dengan monsun Asia dan akibat terjadinya konvergensi (pusaran angin).
Material longsoran termasuk bebatuan akibat runtuhnya lereng Bukit Pattiroang yang berada di belakang dusun Dusun Pattiro menutupi separuh areal dusun dan menimbun belasan rumah penduduk.
Evakuasi bertambah sulit karena jembatan penghubung desa tersebut dengan wilayah lainnya terputus setelah turun hujan lebat, sementara lokasi longsor juga terdapat di sejumlah ruas titik jalan desa.
10 Kabupaten di Sulsel
Menurut catatan Posko Bencana Pemprov Sulsel, banjir, longsor dan angin kencang melanda 10 kabupatan/kota di Sulsel selain Gowa yakni Barru, Bantaeng, Jeneponto, Kota Makassar, Maros, Pangkep, Soppeng, Sidrap dan Wajo.
Selain korban tewas akibat tanah longsor di Desa Pattalikang, tujuh korban tewas dan sembilan belum ditemukan di sejumlah wilayah lainnya.
Sebanyak 5.828 orang terdampak bencana di sejumlah lokasi, 2.204 rumah terendam banjir dan 34 hanyut serta 15.221 Ha sawah terendam, sementara pengungsi terbanyak di Kab. Gowa (3.534 orang) tersebar di 17 lokasi.
Sejumlah wilayah terutama yang menjadi langganan banjir seperti Kec. Baleendah, Bojongsoang dan Dayeuhkolot di Kab. Bandung , dilaporkan juga siap-siap mengantisipasi bencana hidrometerologi dengan menyiapkan perahu-perahu dan peralatan evakuasi lainnya.
BMKG mengingatkan, dalam tiga hari ke depan (sampai Minggu, 27/1) hujan lebat dan angin kencang diperkirakan masih akan melanda P. Jawa, Bali, NTB dan NTT hingga Papua.
Berdasarkan rekaman bencana dalam kurun 20 tahun terakhir ini, Januari dan Februari adalah puncak terjadinya bencana hidro-metorologi berupa banjir, longsor dan putting beliung.
“Jumlah bencana terus meningkat walau intensitas curah hujan rata-rata relatif berkurang atau tetap, “ kata Kasubbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto mengingatkan.
Waspada dan waspadalah terhadap ancaman bencana hidrometerologi yang sedang mengintai!




