Si Gundul Dari Lokapala

Lagu "Gundul-gundul pacul" karya komponis RC Hardjosubroto dalam bentuk not balok.

PERNAHKAH Anda mendengar lagu “Gundul Pacul” karya RC Hardjosubroto dari Yogyakarta? Lihat saja di Youtube, ada ditampilkan berbagai versi. Salah satu liriknya berbunyi: gundul gundul pacul gembelengan, nyunggi-nyunggi wakul gembelengan….. Lagu ini mengingatkan kita dua manusia gundul gembelengan, yakni raksasa mini Sokrasana dari Lokapala dan Ahmad Dhani pemusik terkenal, presiden Republik Cinta, yang terpilih tanpa melalui Pemilu.

Kepala gundul memang sedang menjadi mode. Bila dulu yang gundul kalangan sumbah-simbah, kini anak muda jaman now juga menirunya. Untung saja tidak secara masif. Sebab jika merata di seluruh penjuru nusantara, kasihan usaha barbir atau tukang cukur, bisa gulung tikar gara-gara tak ada yang potong rambut.

Tapi berkepala gundul bisa jadi gunawan (gundul menawan), mana kala proporsional dengan bentuk tubuhnya. Jika orangnya pendek kurus berkepala gundul, disangkanya pentol korek (geretan). Padahal dijedotin tembok berkali-kali juga takkan menyala keluar api, paling-paling benjol, mencono segede bakpao isi kacang ijo.

Ada banyak motif orang tak mau pelihara rambut. Ada yang botak dari sononya, ada pula yang sekedar mode sebagaimana disebut di atas. Bisa juga karena mau praktis saja, tak ribet sebentar-sebentar potong rambut, bahkan harus cukur sampai Garut segala. Paling kasihan adalah, manakala bergundul ria karena tak punya ongkos ke tukang cukur.

Pemain bola banyak juga yang berkepala gundul, misalnya: Fabien Barthez kiper dari Prancis, Carsten Jancker striker Jerman, Zinedine Zidane gelandang Prancis, Thierry Henry penyerang dari Prancis. Yang kemudian menjadi aneh adalah, kesebelasan terlalu banyak kemasukan gol lawan, disebutnya: digunduli, padahal dijamin semua pemain bola tak ada yang basa gunting atau alat cukur.

Dari dunia perwayangan, tokoh gundul adalah Sokrasana, putra Begawan Suwandageni dari pertapan Grastina di negeri Lokapala. Dia raksasa kontet, kepala gundul yang tak seimbang, sehingga mirip penderita hidrocepalus. Dia si gundul yang suka gembelengan, omongannya pelo tapi punya kesaktian luar biasa.

Sokrasana memang punya kesaktian luar biasa. Ketika diminta memindahkan Taman Sriwedari dari Magada ke negri Maespati atas permintaan Prabu Arjuna Sasrabahu, dia tak perlu pakai kontraktor dan tender segala. Hanya dengan umak-umik sim salabim, Taman Sriwedari sudah pindah dengan sendirinya.

Semua itu dilakukan dengan tulus, demi kakak tercinta Raden Sumantri,  yang sedang melamar pekerjaan di Maespati negerinya Prabu Harjuna Sasrabahu. Sayangnya, begitu telah berhasil jadi orang penting di Maespati, Sumantri yang berganti nama Patih Suwondo itu jadi kacang lupa kulitnya. Di-SMS dan di-WA Sokrasana tak pernah dijawab, bahkan disusul langsung ke Maespati, terkesan malu punya adik raksana kontet. Disuruh pulang tidak mau, karena mau ikut sang kakak. Saking jengkelnya, Sokrasana ditakut-takuti dengan busur panah. Celakanya, panah terlepas dan tewaslah Sokrasana. Begitulah, Sokrasana nan sakti itu jadi martir kesuksesan Patih Suwondo.

Si gundul gembelengan yang lain, yang juga dianggap martir oleh sebagian kelompok, adalah Ahmad Dhani, pemusik kondang sekaligus presiden Republik Cinta. Dia pantas atau sembada gembelengan karena memang sukses dan kaya dari dunia musik. Sayangnya dia tergoda oleh dunia politik yang berat di ongkos dan terjebak pada permainan jagad medsos.

Gara-gara kebablasan dalam memainkan jari-jemarinya di HP android, Ahmad Dhani kena vonis 1,5 tahun penjara dan terpaksa masuk LP Cipinang. Itu belum selesai, PN Surabaya juga menunggu Ahmad Dhani untuk disidangkan dalam kasus pencemaran nama baik. Benar-benar tangan mencencang bahu memikul.

Seandainya dia terus fokus saja di jagad musik, album dan pentasnya selalu dinantikan orang, koceknya pun semakin tebal. Apa lagi dia kini sudah jadi presiden Republik Cinta yang bisa dijabat seumur hidup tanpa perlu pemilihan 5 tahunan. Tapi gara-gara gembelengan di dunia  medsos, akhirnya seperti lagu “Gundul-gundul pacul”, akhirnya wakul ngglimpang segane dadi sak latar; rejekinya tumpah. Bagaimana nggak tumpah, di penjara mana ada uang masuk? (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

 

Advertisement