
KONFLIK militer dua seteru bebuyutan, Israel dan Iran di Suriah berkembang terus, diwarnai saling ancam keduanya untuk saling memusnahkan hingga bisa menyeret negara-negara lain ke dalam Perang Dunia III.
Awalnya, negara Yahudi itu terusik oleh kegiatan pesawat-pesawat drone atau nirawak yang diterbangkan oleh unit al-Quds, Garda Revolusi Iran dari kawasan Bukit Hermons, bagian Dataran Tinggi Golan, Suriah yang dikuasainya.
Iran walau memiliki rudal balistik Koramshar dengan radius jelajah 2.300 Km atau mampu menjangkau wilayah Israel, menganggap akan lebih efektif menyerang Israel dari wilayah Suriah yang berbatasan langsung dengan negara Yahudi itu.
Selain jarak yang ribuan kilometer, rudal-rudal Koramshar saat memasuki wilayah Israel bisa saja dicegat sistem pertahanan anti rudal Iron Dome (Kubah Baja) Israel atau sistem rudal anti rudal Patriot dan Arrow buatan AS.
Sebaliknya, Israel sangat terancam jika Iran terus memperkuat satuan al-Quds dan Hesbollah dari perbatasan Suriah yang berada dalam jangkauan peluru meriam, roket dari sistem peluncur multi laras (MRLS) atau rudal-rudal jarak dekat yang ditembakkan.
Selain menembak jatuh beberapa drone, Israel membalasnya dengan serangan udara dan rudal ke fasilitas militer seperti gudang amunisi dan kam pelatihan milik Iran di kompleks bandara Damaskus, ibukota Suriah hingga menewaskan 12 personil militer Iran.
Tak pelak lagi, Iran pun berang, tercermin a.l. dari peringatan keras yang dilontarkan Wakil Komandan Garda Revolusi Iran Brigjen Hossein untuk membumi-hanguskan negara Yahudi itu.
“Kami akan hancurkan Israel hingga tidak ada lagi tempat untuk mengubur musuh yang tewas, “ tandasnya seraya menambahkan, 100 ribu rudal lagi siap diluncurkan Iran ke Israel dari wilayah Suriah.
Iran akan ofensif
Pejabat militer Iran lainnya, Mayjen Moh. Bagheri mengingatkan, negaranya tidak akan dalam posisi bertahan lagi, tetapi akan beralih menyerang (ofensif) jika Israel tidak menghentikan serangannya terhadap posisi-posisi pasukannya di Suriah.
Sebaliknya PM Israel Benyamin Netanyahu juga sudah menyatakan tekadnya untuk menyerang balik pihak manapun yang berusaha menganggu negaranya.
“Siapa pun yang melukai Israel, akan kami balas, “ tekadnya.
Peringatan kemungkinan eskalasi konflik bisa memicu pecahnya perang terbuka antara Israel dan Iran a.l. disampaikan oleh Direktur Intelijen Nasional AS Dan Coat, jika keduanya terus saling balas menyerang.
Sebagai perbandingan, Israel dengan bujet militer 20 milyar dollar AS (sekitar Rp280 triliun) di peringkat ke-15 kekuatan militer dunia, sedangkan Iran dengan bujet militer 14,1 milyar dollar AS (sekitar Rp191 triliun) di urutan ke-21.
Pasukan Israel berkekuatan 168.000 personil plus 550.000 cadangan, dikenal sangat terlatih dan memiliki berbagai pengalaman tempur, sedangkan Iran dengan 534 ribu anggota tentara plus 400 ribu cadangan didukung satuan Garda Revolusi.
Israel unggul dalam jumlah tank dengan 2.620 buah termasuk tank tempur utama (MBT) Merkava buatannya, dibandingkan Iran dengan 1.616 tank ex-Uni Soviet seperti T-72 dan T-62 yang relatif tua yang sebagian diremajkan.
Iran Unggul di Laut
Matra AL Iran lebih perkasa a.l. memiliki 33 kapal selam, tiga korvet dan 32 kapal patroli cepat, sedangkan Israel hanya memilik enam kapal selam dan beberapa kapal kelas korvet serta puluhan kapal paroli cepat.
AU Israel unggul dengan 242 jet-jet tempur a.l. F-15 dan F-16 dan yang terbaru F-35 “Lightning” buatan AS plus 243 aneka pesawat serang darat, sementara Iran dengan 137 pesawat tempur termasuk Mig-29 ex-Rusia, F-1 Mirage (Perancis), dan F-14 Tomcat AS yang relatif lawas.
Sebaliknya, Iran walau bertahun-tahun diembargo oleh AS dan negara-negara Barat lainnya, masih bisa mengembangkan rudal-rudal balistik yang bisa menjangkau wilayah Israel dan juga didukung sistem pertahanan udara canggih S-300 buatan Rusia.
Sedangkan Israel memayungi wilayahnya dari serangan rudal lawan dengan sistem Iron Dome atau Kubah Baja, juga mengandalkan rudal-rudal anti rudal Patriot dan Arrows buatan AS yang terbukti cukup efektif menangkal serangan rudal Scud ex-Soviet yang diluncurkan Irak dalam Perang Teluk 1 (1990).
Yang mencemaskan, Israel secara sembunyi-sembunyi diduga mengoleksi hulu ledak nuklir, sedangkan Iran dikabarkan juga sudah menguasai pengayaan uranium untuk digunakan membuat bom nuklir.
Jika terdesak dalam perang konvensional, bisa jadi Israel menggunakan nuklir sebagai senjata pamungkas, sehingga bakal menyeret kekuatan nuklir dunia lainnya, di satu pihak AS dan negara-negara anggota NATO di belakang Israel melawan Rusia dan Iran.
Bedanya, di era Perang Dingin lalu, kekuatan Uni Soviet relatif seimbang dengan AS dan NATO, sedangkan kini Rusia hanyalah salah satu dari 15 negara sempalannya. Sejumlah negara anggota Pakta Warsawa bahkan membelot, bergabung ke NATO.
Beranikah Rusia, nyaris sendirian melawan AS dan Barat?(AP/AFP/Reuters/NS).




