SEWAKTU muda, Prabu Kresna Dwipayana atau Abiyasa agaknya suka “jajan”. Bukan kalangan artis seharga Rp 80 juta, tapi hanya cewek-cewek murahan. Buktinya, ketiga anak lelakinya lahir berkebetuhan khusus. Putra sulung Destarata, bermata buta. Putra kedua, Pandu, leher berkemiringan 45 drajat alias tengeng. Yang ketiga, Yamawidura, berkaki pincang.
Maka ketika Prabu Abiyasa lengser keprabon (turun tahta) dari Kerajaan Ngastina, dari yang terbaik dari yang buruk-buruk, akhirnya pilihan jatuh pada Pandu. Sayangnya suksesi di Kerajaan Ngastina ternyata tak berlangsung mulus. Baru beberapa tahun memerintah, Prabu Pandu Dewanata meninggal akibat keisengannya membunuh rusa sedang kawin. Maka tahta kerajaan seharusnya jatuh kepada putranya lagi, yakni Puntadewa, sebagai anak sulung Keluarga Pendawa. Sayang, waktu itu anak-anak Pandu masih kecil, sehingga tampuk pimpinan untuk sementara diberikan kepada putra Destarata tertua, Duryudana, yang waktu itu memang sudah akil balig dan mimpi basah!
“Tapi ingat, bila anak-anakku Pendawa sudah dewasa, harap tahta kerajaan diserahkan kepadanya,” begitu pesan Pandu Dewanata sebelum nyawanya dibanjut (dicabut) oleh Yamadipati, malaikat Izroil versi pewayangan.
Hidup dalam kenikmatan memang sering membuat lupa. Tahu betapa asyiknya menjadi raja Ngastina, Duryudana bermaksud mempertahankan singgasana yang bukan haknya. Apalagi ibunya, Dewi Gendari, juga menyeponsori dan menghasut agar tidak mengembalikan kerajaan yang sering disebut Indraprasta itu. Destarata sebenarnya tak setuju sikap istri dan anaknya, tapi apa daya sebagai wayang buta. Maka dari itu dia lebih baik diam tak ambil pusing, karena lebih mengkonsentrasikan diri pada rencananya untuk bikin panti pijat tradisional!
Kelicikan Duryudana semakin menjadi-jadi setelah mengangkat Harya Suman atau Sengkuni menjadi patih. Dibantu oleh Pandita Durna si Menteri Paranormal dan Kebatinan, tanah Kerajaan Ngastina yang pethuk (girik) aslinya masih dipegang Keluarga Pendawa, langsung saja disertifikatkan. Mereka pikir dengan cara begitu Kerajaan Ngastina bisa dipertahankan seterusnya.
Ketika Puntadewa dan keempat adiknya sudah dewasa sehingga laik tahta, mereka menuntut haknya. Namun Prabu Duryudana beserta ke-99 adiknya memang licik. Jawabnya selalu mengacu pada ilmu ibu rumah tangga yang ditagih tukang kredit; entar-entar!
“Mas Duryudana, bulan depan Keluarga Pendawa akan kemari. Pokoknya Kerajaan Ngastina harus segera dikembalikan, sebab itu hak kami…!” begitu kata Bratasena dalam WA-nya kepada Prabu Duryudana. Nada bicaranya keras, sebab kesal dan capek terlalu sering dibohongi.
“Beres Dik, jangan kuatir. Datang saja ke sini, jangan lupa bawa kartu gaple, ya?!” jawab Duryudana mencoba mengalihkan persoalan.
Buru-buru Duryudana memanggil Patih Sangkuni di Plasa Jenar Permai dan Pandita Durna di Sokalima Indah. Mereka mengadakan sidang kilat, bagaimana cara menangkal tuntutan Keluarga Pendawa.
“Bandel juga itu anak. Cuma modal girik saja ngotot mengklaim bumi Ngastina, Tenang saja anak prabu, kita kan pegang sertifikatnya. Sampai Pengadilan mana pun nggak bakalan menang dia…!” jawab Pandita Durna optimis, demi melihat wajah-wajah cemas Prabu Duryudana.
“Tapi sertifikat sampeyan aspal, ngurusnya dulu cuma modal girik bodong, kan?” celoteh Senjaya, anak Yamawidura, yang dalam sidang itu ditugaskan untuk notulen.
“Ah, kamu anak ingusan tahu apa! Jangan mencampuri urusan wayang tua. Kuliah saja yang benar, jangan memikir-kan politik segala…!” tegor Pandita Durna keras.
Senjaya memang jujur sejujur Yamawidura ayahnya yang menjadi Jaksa Tinggi di Ngastina. Namun tokoh pincang ini cuma dianggap pupuk bawang. Meskipun pertimbangan hukum selalu dimintai, oleh keluarga Ngastina tak pernah diterapkan. Maka sebagai obsesinya, Yamawidura menyekolahkan Senjaya ke Fakultas Hukum UWB (Universitas Wiratha Bersubsidi). Dia harapkan anaknya kelak menjadi ahli hu-kum yang handal, yang tak akan diremehkan wayang.
Tanpa mempedulikan sindiran Senjaya, sidang istimewa itu terus berlangsung. Ketika bir telah habis 10 botol, ketika 5 piring goreng singkong tinggal piring-piringnya saja, sidang baru selesai. Dari sidang itu diperoleh keputusan bahwa Keluarga Pendawa akan diperdayai. Dalam Gedung Bale Sigala-gala mereka akan disuguhi biskuit yang tercemar sodium nitrit, dan kemudian dibakar agar binasa.
Hari berikutnya tender untuk pembangunan Gedung Bale Sigala-gala segera dilangsungkan. Sebagai pemenangnya adalah PT Karya Culika milik Durmogati, dengan penawaran terendah Rp 2,5 miliar. Karena mau untung lebih banyak lagi, sengaja Durmogati nyolong bestek seenak wudelnya. Kayu-kayu yang dalam bestek disebut kamper ovenan, diganti kayu Kalimantan. Atap sirap, enak saja ditukar triplek bekas beli di Jalan Perintis Kemerdekaan. Lantai yang seharusnya karpet beludru diakali pakai karpet plastik dari Pasar Kaget.
“Alaaa, yang penting kan gampang terbakar. Iya nggak, iya nggak?” jawab Durmagati ketika Patih Sengkuni selaku pengawas dan direksi proyek meninjau pekerjaan. Dan karena amplop berisi uang segepok dimasukkan dalam kantongnya, Patih Sangkuni akhirnya cuma nyengenges masa bodoh.
Tepat pada hari yang dijanjikan, Keluarga Pendawa yang terdiri Kangka (Puntadewa), Bratasena (Werkudara), Premadi (Harjuna), Pinten (Nakula), Tangsen (Sadewa) dan ibunya, Dewi Kunti, datang ke Kerajaan Ngastina dengan mencarter Grabb. Mereka datang agak terlambat karena lewat jalan kampung, maklum menghindari aturan ganjil-genap.
Prabu Duryudana dan Patih Sengkuni menyambut ramah dengan segala pakaian kebesarannya. Pandita Durna pakai jubah baru yang masih ada label harganya. Tangan kanan pegang tasbeh, tangan kiri pegang HP android.
“Adik-adik Pendawa sekalian, sebelum berita acara serah terima kerajaan ditandatangani, kita sebaiknya makan-makan dulu di Gedung Bale Sigala-gala. Maafkan bila tempatnya kurang berkenan, sebab mau sewa Bale Kartini, Bale Sidang Senayan, Balekota Blok G semuanya sudah terpakai!” basa-basi Duryudana begitu melihat reaksi Keluarga Pendawa yang kurang sreg menyaksikan bangunan asal jadi itu.
Sambil menikmati organ tunggal, pesta di Bale Sigala-gala berlangsung meriah. Setelah minum-minum, biskuit yang tercemar sodium nitrit hasil razia di pasar sengaja dihidangkan untuk Keluarga Pendawa. Maklum saja, karena putra-putra Pendawa lebih banyak di hutan, jadi tak pernah membaca koran. Maka biskuit bermerek tertentu yang dilarang dikonsumsi itu justru mereka makan secara lahap.
Beberapa menit kemudian, Tangsen teler, menyusul Pinten. Premadi, Kangka dan Dewi Kunti juga ikut klepek-klepek mbanyaki (payah). Cuma Bratasena yang hanya makan sepotong, masih bisa menguasai diri.
Melihat Keluarga Pendawa sudah teler keracunan, Pandita Durna segera memerintahkan wayang-wayang Ngastina untuk membakar Bale Sigala-gala. Bangunan yang sengaja dibuat rawan api tersebut dalam tempo sekejap rata dikuasai jago merah. Keluarga Ngastina bertepuk tangan, mereka yakin Keluarga Pendawa tamat riwayatnya.
“Tumpes kelor (tewas bersama seluruh keturunan) kau sekarang Kunti dan anak-anakmu”pekik Pandita Durna sambil meloncat-loncat sampai celananya melorot.
Senjaya mahasiswa Fakultas Hukum yang dari kemarin oposisi terhadap rencana Ngastina, kala itu berada tak jauh dari gedung bersiap-siap memberikan pertolongan. Maka begitu api membesar, dia melemparkan ajian miliknya ke api dalam gedung. Reaksinya luar biasa, tanah tempat jatuhnya ajian itu jadi berlobang cukup besar.
“Wahai Keluarga Pendawa, jangan bengong aja luh!” Mau selamat nggak, ikuti GaranganPutih itu…!” perintah sebuah suara tanpa wujud, yang sebenarnya Sanghyang Narada yang ketika itu memantau insiden tersebut dari Kahyangan Jonggring Salaka.
Benar juga, sewaktu Bratasena mengikuti arah Garangan Putih, langkahnya tiba di jalan mulus laksana MHT. Jalan tersebut berada di dalam tanah, dan ketika diikuti terus ternyata Keluarga Pendawa tiba di istana Saptapratala tempat tinggal Sanghyang Antaboga. Bersamaan dengan itu guide partikelir Garangan Putih pun menghilang.
Sanghyang Antaboga yang mengetahui segala sesuatunya sebelum kejadian tapi tak pernah beli nomer, segera menolong Keluarga Pendawa. Dengan ilmu kesaktiannya dipadu norit yang dibeli di Apotek Nagahusada, Dewi Kunti dan kelima putranya berhasil disembuhkan. Selama beberapa minggu di sana mereka istirahat. Selama itu pula Bratasena sempat menjalin kasih dan dikawinkan dengan Nagagini, putri Sanghyang Antaboga. Meskipun putri ular, bila sudah bermake up di salon, kecantikan Ira Koesna moderator debat Capres, putus olehnya.
Bila Keluarga Pendawa memperoleh kebahagiaan di kemudian hari, Keluarga Ngastina justru sebaliknya. Mereka sangat kecewa ketika api telah padam tak ditemukan jenazah Keluarga Pandawa. Walaupun di situ ditemukan 6 jenazah juga, menurut pihak Labkrim UI mereka adalah cuma penonton yang mbludhus (tanpa karcis).
“Celaka dua belas, alot juga nyawa anak-anak Pendawa. Padahal sudah saya asuransikan jiwanya…!” keluh Patih Sangkuni sambil mencabuti uban di ienggotnya yang mulai tumbuh satu-dua. (Ki Gunawatoncarita)



