Karena Donasi Anda, Disabilitas Nanang Terangkat Martabatnya, Masih Takut Berbagi ?

Nanang, 29 , Penyandang Disabilitas, penerima manfaat Institut Kemandirian Dompet Dhuafa, 2017. Foto: Maifil/KBK

KARAWACI – Nanang, 29, menggunakan motor roda 3 berkeliling di Pamarayan, Serang, Banten, ia menawarkan kepada penduduk jasa service handphone dari pintu ke pintu. Itu sudah dilakoninya sejak tahun 2017, setamat ia belajar menjadi teknisi handphone di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa (IK Dompet Dhuafa).

Ia belajar selama sebulan di IK Dompet Dhuafa, kemudian magang selama sebulan di Toko Jasa Service HP di Serang. Setelah mengikuti Aksi Bhakti Sosial Service HP Gratis untuk masyarakat dhuafa dan tertimpa bencana barulah ia diwisuda sebagai teknisi, akhirnya ia sudah percaya diri turun ke lapangan.

Kini ia bangga menjadi orang yang berguna, ia membuktikan meski ia disabilitas ia pun bisa mencari nafkah seperti rekan-rekannya yang normal lainnya. Ia anak bungsu dari 4 bersaudara, 3 kakaknya normal dan bisa mencari nafkah sendiri.

“Sekarang saya pun bisa, meski dibantu motor roda 3, saya bisa keliling dan mempunyai penghasilan sendiri,” kisah Nanang kepada KBKNews.id, ketika bertemu di acara peluncuran spirit #JanganTakutBerbagi di IK Dompet Dhuafa, Islamic Village, Karawaci, Tangerang, Kamis (21/3/2019).

Sebenarnya Nanang terlahir normal, sampai umur 3 tahun ia ceria dan bisa berlarian bersama anak-anak lainnya. Sampai suatu ketika, ia demam panas tinggi menyebabkan kakinya lumpuh dan mengecil. Demam diwaktu kecil itu mengubah jalan hidupnya sejak saat itu. Ia sudah tidak lagi bisa main petak umpat dan berlarian bersama teman-temannya.

Hari demi hari sampai umur 26 tahun, ia jalani dengan rasa sedih, cemburu dan minder. Ia sering tertekan melihat rekan-rekannya dan kakak-kakaknya yang normal. Meskipun orang-orang yang dia cemburui, sangat sayang dan mendukungnya.

Barulah suatu ketika di tahun 2017, ia lupa hari dan bulannya, ia mendapat info dari teman sesama disabilitas, kalau di Karawaci ada pelatihan untuk anak-anak pengangguran yang berasal dari dhuafa dan disabilitas.

Ia mencoba datang ke sana dan alhamdulillah ia diterima. Ia belajar teknisi di IK dan di luar waktu belajar ia shalat berjamaah, mendapatkan pencerahan lewat pengajian dan dukungan dari guru dan pelatih serta keluarga besar IK.

Karena ia disabilitas ia banyak mendapat bantuan dari keluarga besar IK. Sesama disabilitas dan peserta pelatihan saling menguatkan dan saling mendukung.

Saudaranya bertambah di IK, ia tinggal di asrama, kebutuhan harian dan makan sehari-hari juga ditanggung oleh IK.

Ia merasakan sekali manfaatnya. Ia merasa hidupnya berarti, 26 tahun yang menjadi sia-sia tidak lagi menjadikan ia sedih.

Sejak di IK ia merasa terlahir kembali, tatapannya penuh harapan. Ia sudah membayangkan masa depannya yang bermanfaat, sangat jauh berbeda ketika ia belum belajar di IK. Waktu itu, ia hanya menatap hari esok dengan penuh kemalasan, ia hanya menerima apa yang akan terjadi esok.

“Apapun yang terjadi, terjadilah. Begitu, saya dulu melihat kehidupan, sebelum belajar di IK,” terang Nanang.

Tapi kini sudah berbeda, Nanang sudah merasa ‘tegak’ sama tinggi sama yang lainnya. Meski menjadi teknisi keliling bermodal alat seadanya ia tetap percaya diri.

Ia memilih keliling karena memang belum ada dana untuk menyewa konter dan belum ada dana untuk beli komputer agar ia bisa mengupdate software handphone customer.

Namun demikian dari hasil kelilingnya saat ini, ia sudah bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp1-2 jutaan sebulan.

Ia hanya bisa membayangkan, kalau ia bergeser ke kota untuk menjadi teknisi ia akan bisa mendapatkan lebih dari sekarang. Apalagi kalau servicenya tidak lagi keliling dan sudah menggunakan komputer, sehingga ia bisa memperbaiki handphone hardware dan software. Karena saat ini ia hanya berkeliling dari desa ke desa, penghasilannya masih seadanya, karena masyarakat desa masih sedikit yang memiliki hp, kalau pun ada yang rusak karena tak ada uang untuk membeli sparepart akhirnya service tertunda menunggu dana ada.

Meskipun demikian, ia tetap bersyukur dan sekaligus bangga, karena sudah bisa mandiri dan mempunyai penhasilan sendiri. Bahkan ia pun kini sudah percaya diri, kalau ada perempuan yang mau dijadikan isteri, ia pun siap menikahi.

Inilah buah dari donasi, sekecil apapun menjadi sangat berarti, untuk itu #JanganTakutBerbagi.

Advertisement