PALASARA KRAMA

Dewi Durgandini siap menyeberangkan Palasara asal penyakit bau amisnya disembuhkan.

BERBICARA soal kecantikan, Dewi Durgandini adalah wayangnya. Wajah ayu, bodi bahenol nan geboy, sip dah! Sudah beberapa kali putri Prabu Basuketi dari Kerajaan Wirata ini main sinetron meskipun cuma figuran. Asal menjelang akhir tahun, Durgandini selalu diuber-uber wartawan foto untuk dibuat model kalender semi porno. Memang lekuk-liku tubuh wayang satu ini sangat menjual.

Namun semua ini kini tinggal masa lalu yang cuma bisa diratapi. Entah apa dosa Durgandini pada dewa di Kahyang­an, tiba-tiba saja dia dihinggapi penyakit misterius. Sepintas lalu sehat-sehat saja, tetapi bau amis dan anyir bersliweran dari tubuhnya. Segala merk deodorant, yang setia setiap saat sampai yang angin-anginan digunakan, tapi hasilnya nol besar. Begitu juga segala jenis pengobatan telah dicoba, namun tetap jauh dari kesembuhan.

“Kamar tidurnya pasangi saja waring, seperti Kali Item menjelang Asian Games dulu,” kata  hulubalang kerajaan Wirata.

“Itu resep usang Gubernur DKI, buang-buang anggaran saja.” Jawab Prabu Basuketi.

Karena putrinya madal tamba (tak bisa diobati), Prabu Basuketi menjadi putus asa. Untuk mencegah polusi udara di seantero Wirata, Durgandini kemudian diasingkan ke Bengawan Silugangga, hidup dalam sebuah perahu. Agar sembuh secara untung-untunganf namanya pun diganti menjadi Lara Amis tanpa melalui Dinas Dukcapil.

“Di tempat ini semoga penyakitmu disembuhkan Dewa, maklum di rumah sakit dengan BPJS Kesehatan, tak menolong juga. Padahal kalau kau tetap di istana, rakyat Wirata bisa menggugatku gara-gara polusi udara dari tubuhmu..,!” kata Prabu Basuketi panjang lebar dan terbata-bata, saat membawa putrinya ke tempat pengasingan.

“Tapi di Bengawan Silugangga apa ada malnya rama?” tanya Durgandini, khas anak jaman now.

Bengawan Silugangga tempat Durgandini dikucilkan, sesungguhnya memiliki sempalan atau sodetan kali yang lebih dikenal sebagai Cakung Drain. Di pinggir kali inilah Bambang Palasara dari Wukir Retawu sedang bertapa, mohon petunjuk dewa. Namanya saja laku prihatin, tentu saja dia tak sempat ke salon untuk potong rambut atau nyemir. Karenanya rambut Palasara makin panjang macam penyair yang puisinya dimuat 2-3 kali di majalah sastra.

Sepasang burung pipit yang tak mengenal etika, tanpa seizin empunya memanfaatkan rambut Palasara yang gembel itu untuk bersarang dan bertelur. Ironisnya, ketika telur-telur itu menetas, sepasang pipit induk tersebut tak pernah mau nglolohi (memberi makan). Akibatnya pipit-pipit kecil ini mencicit-cicit berkepanjangan, menimbulkan suara berisik. Bambang Palasara yang terganggu semedi-nya, terpaksa membatalkan laku prihatinnya dan mengejar sepasang pipit induk yang tak bertanggung jawab itu.

“Burung pejajaran, luh! Bikin mau, tapi ngempani ogah…!” maki Palasara sambil terus mengejar buruannya.

“Cericit, cit, cit, endi bocahe, endi bocahe!” jawab si burung dengan ocehannya, yang ternyata emprit gantil.

Saat pengejaran Palasara hampir tiba di Bengawan Silu­gangga, sepasang pipit sableng itu hampir saja tertangkap. Tapi sebelum terjamah tangan, tiba-tiba saja mereka menjelma menjadi dewa Batara Narada dan Batara Guru.

Melihat Palasara tersengal-sengal nafasnya, Batara Guru malah senyum-senyum macam guru SD baru ambil tunjangan sertifikasi 3 bulan sekaligus. Kesatria dari Wukir Retawu itu dibisiki, agar mengobati Dewi Durgandini di Bengawan Silugangga dengan minyak Jayengkaton pemberian dewa.

“Katanya minyak Jayengkaton hanya untuk bisa lihat lelembut.” Ujar Palasara.

“Dia minyak serba guna. Tapi jangan boros, ya. Soalnya di Kahyangan kemungkinan besar minyak Jayengkaton harganya mau dinaikkan…!” saran Batara Guru dan Narada sebelum pulang ke kadewatan pakai taksi.

Palasara yang biasanya cuma mengantongi minyak PPO, terlongong-longong menerima minyak Jayengkaton. Apalagi ketika membuka kemasannya berdiri bulu romanya. Di situ ada peringatan berbunyi: dilarang dipakai  dekat kamar mandi wanita, sangat berbahaya! Maklum, dengan minyak ini makhluk haluspun bisa tembus pandang.

Sesuai dengan petunjuk dewa, Palasara kemudian menelusuri Bengawan Silugangga yang nampak butek lantaran pencemaran pabrik-pabrik. Wanita yang dicari itupun akhirnya ketemu. Semula Palasara menduga perempuan itu salah satu pengungsi Timur Tengah yang terdampar di pantai Parangtritis. Apalagi bau menyengat segera menyerang hidung.

“Anda pengungsi Timur Tengah mau ke Australia ya?” tanya Palasara sopan.

“Enak aja! Gue “manusia perahu” dari Wirata, tahu?” ja­wab Durgandini ketus. Dia tersinggung lantaran Palasara menutup hidung.

Menyadari kesalahannya, pertapa dari Wukir Retawu itu minta maaf pada Durgandini. Masih dengan hi­dung yang dipencet Palasara minta izin agar bisa diseberangkan.

“Boleh sampeyan menyeberang, tapi sebagai ganti tiket, Anda harus menyembuhkan dulu penyakitku ini…!” jawab Durgandini.

“Memangnya saya paranormal? Tapi tak apalah, akan saya coba.” Jawab Palasara.

Palasara menyanggupi dan kemudian naik ke dalam per­ahu, sementara Durgandini terus mendayung perahunya ke tengah. Di atas perahu itulah pengobatan dengan minyak Jayengkaton yang dipadu de­ngan jurus-jurus paranormal, berlangsung. Luar biasa me­mang. Karena minyak ini langsung mengobati pada sumbernya, dalam tempo beberapa detik saya bau amis dan anyir di badan Durgandini melenyap, dan berganti dengan bau wangi macam sabun Lux yang dipakai oleh 9 dari 10 pemain sinetron.

Sebagai ungkapan rasa terima kasih, Durgandini segera mendekap tubuh Palasara serta menyembunyikan wajahnya pada dada bidang kesatria muda itu. Bau parfum yang merangsang, membuat Palasara lupa akan segalanya saat menghadapi Durgandini yang cantik mempesona itu. Apa yang mereka perbuat selanjutnya, tak ada yang mengetahui. Yang pasti, meskipun tiada angin tiada ombak, perahu itu nampak bergoyang-goyang dan terombang-ambing penuh irama!

“Tenang aja Dik, di sini aman, nggak ada Satpol PP!” kata Palasara menjamin.

“Tapi kalau saya hamil, jangan kabur lho sampeyan!”

Menyaksikan gaya Palasara bercinta dewa di Kahyangan menjadi murka. Dikirimnya angin topan Elnino. Hanya dalam beberapa menit badai mengamuk, perahu terbalik dan pecah. Palasara dan Durgandini yang terhempas ke sungai, buru-buru berenang menyelamatkan diri ke darat.

“Topan sialan, nggak boleh lihat wayang senang,” sumpah serapah Palasara sambil terus berenang untuk menolong istri barunya.

Sementdra dua sejoli Palasara – Durgandini mengungsi ke tempat lain, keajaiban terjadi di Bengawan Silugangga. Bibit penyakit dewi Lara Amis menjelma sebagai wayang cakep bernama Seta, sementara perahu yang pecah menjelma se­bagai kesatria semi raksasa bernama Rajamala. Demikian pula dengan dayung-dayung perahu Durgandini. Yang kanan menjelma sebagai Rupakenca dan kiri berubah wujud sebagai Kencakarupa. Yang paling kaco adalah nasib seekor kepiting besar di dasar sungai. Gara-gara mencaplok kama (mani) Bambang Palasara, 9 bulan kemudian dia melahirkan wayang perempuan yang diberi nama Dewi Rekatawati.

Bambang Palasara – Durgandini yang berhasil me­nyelamatkan diri tanpa bantuan tim SAR, kemudian meng­ungsi di bawah pohon ingas. Selama beberapa bulan mereka istirahat di sini, dengan membangun gubuk dari karton bekas beli pada pemulung. Beberapa kali mau kena gusur dan penertiban, tapi berkat salam tempel dengan oknum Satpol PP cincailah!

“Maapin Den, sebagai pemulung mana mampu ngontrak rumah,” ujar Palasara selalu.

Sesuai dengan pergeseran waktu, perut Durgandini pun juga makin bertambah besar. Saat-saat hari persalinan kian mendekat, Durgandini bertambah nelangsa perasaannya. Bagaimana tidak. Saat berpenyakit misterius, diasingkan oleh bapak-ibunya. Kini saat mau melahirkan, mana mungkin putri pejabat tinggi macam dia kok ngebelangsak dan meregang di rumah karton?

“Ambil BTN dong Mas, di Bekasi kek, di Cengkareng kek. Kan ada Rusun murah dengan DP nol rupiah” rengek Durgandini pada Palasara.

“Itu hanya di Jakarta Dik, DP-nya pun ditalangi Pemprov” jawab Palasara.

Palasara ingin memperoleh rumah istana keluarga dengan caranya sendiri. Sebagai wayang yang mantan pertapa dan ahli paranor­mal, Palasara kemudian semedi minta rumah kepada dewa. Nasibnya sedang bagus. Meskipun tanpa embel-embel ini itu, permohonannya langsung dikabulkan. Rumah karton yang mereka tempati berubah menjadi istana megah.

“Terima kasih boss, tanpa mencicil kan?” tanya Palasara.

“Nggak, cuma potong bonus!”

Karena letak istana itu di dekat pohon ingas, Palasara kemudian memberinya nama sebagai Ngastina. Sesuai de­ngan kekayaan yang dimiliki, tanah-tanah di sekitar daerah tersebut kemudian dibebaskan dengan ganti rugi yang ting­gi. Maka, akhirnya terkabullah maksud Palasara untuk mendirikan kerajaan Ngastina. Sebagai raja pertama, dia memberikan gelar atas dirinya Prabu Dipakiswara.  (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement