Tradisi Minum Jamu

Presiden Jokowi dan Wapres JK minum jamu gendongan. Biar tetap sehat, rosa-rosa macam Mbah Marijan.

 MINUM jamu adalah kiat sehat dengan anggaran hemat. Sayangnya generasi milenial sekarang banyak yang meninggalkannya. Padahal presidennya saja, Jokowi, masih gemar minum temulawak, agar tubuh tetap fit dan rosa-rosa macam Mbah Marijan. Menkes Nila F Moeloek awal-awal menjabat telah pula mencanangkan budaya minum jamu di kementriannya. Setiap rapat para peserta diberi “doping” minum jamu. Dengan minum jamu diharapkan rakyat tetap sehat, karena sebagaimana pepatah: jika rakyat sehat negara kuat!

Sejak kecil sebenarnya masyarakat kita sudah biasa diperkenalkan dengan jamu. Bayi-bayi pedesaan di Jawa, sering diberi jamu oleh simbok atau emaknya dengan istilah dicekoki. Apa itu cekok? Cekok adalah ramuan jamu yang sudah ditumbuk halus, dicampur air, dibungkus kain lalu diperas pada mulut si bayi. Bayi itu akan menangis, tapi menjadi sehat karenanya.

Sebagai putra Jawa, bisa dipastikan Jokowi ketika bayi juga dicekoki oleh ibunya. Kebiasaan itu terpelihara hingga kini, sehingga sebelum menjalani aktivitas sehari-hari dipastikan minum temulawak. Berkat minum jamu tradisional itu tubuh tetap fit meski harus banyak rapat dan blusukan ke mana-mana.

Bayi sekarang masih adakah yang diberi cekok oleh emak, simbok, atau ibunya? Sudah tak ada lagi, karena tak mau ribet. Generasi sekarang termasuk bayi kelahiran 30 tahun lalu ke atas, lebih banyak dicekoki berita hoaks berbasis medsos. Akibatnya, pikiran jadi koplak; barang emas dianggap perak, dan  barang perak dielu-elukan sebagai emas 24 karat. Tak bisa menerima kenikmatan dan kemudahan, sehingga firman Allah Swt pun sampai mengulangnya sampai 31 kali, “Nikmat apa lagi yang kamu dustakan? (QS Arrahman ayat 13).

Mengapa generasi milenial tidak lagi doyan jamu warisan leluhur? Kata mereka, minum jamu terasa jadul, seperti orang tua dan kakek nenek. Di samping itu rasanya juga pahit, sehingga tak nyaman di lidah. Padahal sekarang sudah banyak jamu herbal dikemas dalam bentuk kapsul. Tapi bagi mereka lebih praktis makan obat keluaran apotek, yang dikemas rapi, yang bisa diminum tiga kali hari sesendok makan.

Untuk menggalakkan kembali tradisi minum jamu, Menkes Prof Dr dr Nila F Moeloek SpM (K)  pernah mencoba di kementriannya. Dalam setiap rapat atau acara, sudah disediakan minuman herbal berkhasiat mulai dari kunyit asam, beras kencur hingga wedang jahe yang lebih bermanfaat bagi tubuh. Tak jelas, apakah tradisi ini masih berlanjut dan menjadi keseharian di seluruh jajaran Kementrian Kesehatan.

Yang jelas Bu Menteri ini memang luar biasa. Di era pemerintan SBY, dia pernah masuk nominasi sebagai Menkes di KIB (Kabinet Indonesia Bersatu) II. Tapi saat ditest kesehatan tak lolos karena dinilai sangat rentan menghadapi stress tinggi sebagai menteri. Maka dia lalu diganti oleh Endang Rahayu Sedyaningsih. Tapi apa lacur, menjabat Menkes 2,5 tahun meninggal. Sedangkan Nila F Moeloek yang diprediksi rawan kesehatan, justru masih sehat wal afiat hingga kini dan jadi Menkesnya Jokowi. Kenapa tetap sehat, kemungkinan di kala kecil juga suka dicekoki jamu oleh orangtuanya.

Maka anak Jawa cenderung lebih kuat dan sehat ketimbang anak kota. Anak kota tak pakai baju kena masuk angin. Anak desa, ngliga (telanjang dada) seperti Capres Prabowo, dan kena hujan, sehat-sehat saja. Setelah tua, usia 60 tahun masih kiyeng (kuat), lincah dan rosa-rosa seperti Mbah Marijan.

Bagi orang Jawa, jamu memang sangat kental dengan kehidupannya. Ketika melanggar pantangan makan sesuatu, dipermisifkan dengan ungkapan, “Wis ben, nggo jamu (biarkan saja buat obat).” Sastra parikan “suwe ora jamu, jamu pisan godong tela” juga sangat terkenal dalam masyarakat Jawa. Bahkan komponis Anjar Any almarhum menciptakan lagu buat Waljinah berjudul “E jamune”.

Liriknya sederhana, tapi mengena: Ee jamu, jamune, badan sehat awak kuwat yen diombe, mbakyu-mbakyu samang mriki kula tumbasi. Tapi dalam adegan Goro-Goro wayang kulit, dalang suka memplesetkan jadi: mbakyu mbakyu samang mriki kula…..tumpaki. Sembarangan, memangnya ojek? (Cantrik Metaram)

Advertisement