
PENYAKIT Campak (Meseless-Rubella/MR) berdasarkan catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO) selama periode Agustus sampai Januari 2019 saja sudah ditemui lebih dari 153.000 kasus yang tersebar di 10 negara termasuk di Eropa.
Negara-negara yang terpapar akibat virus melalui pernafasan tersebut tercatat Brazil, Filipina, India, Israel, Madagaskar, Pakistan, Thailand, Ukraina, Venezuela dan Yaman.
Sebagai gambaran, di Madagaskar, Afrika, campak yang menjadi epidemi terbesar di negeri pulau itu sejak September tahun lalu, merenggut 1.200 nyawa, sebagian besar anak-anak di bawah usia 15 tahun.
Untuk itu, WHO merekomendasikan cakupan vaksinasi campak minimal 95 persen, namun faktanya, pada tahun pemberian dosis pertama (2017), secara global baru mencakup 85 persen,bahkan pada pemberian dosis kedua (2018) turun menjadi 67 persen.
Presiden Asosiasi Dokter Anak Asia Pasifik Aman Bhakti Pulungan seperti dikutip Kompas (16/4) mengingatkan, selama cakupan vaksinasi belum mencapai 95 persen, wabah penyakit, termasuk campak bisa terjadi kapan pun.
Lebih jauh ia mengatakan, bercermin dari berbagai kajadian di luar negeri, cakupan imunisasi yang rendah bisa menjadi bom waktu terhadap kejadian wabah campak.
“Imunisasi adalah cara paling efektif untuk memutus rantai penularan. Indonesia belum terbebas dari wabah campak, “ ujarnya mengingatkan.
Berdasarkan hasil kampanye nasional imunisasi campak-rubela pada 2018, cakupan imunisasi secara nasional baru mencapai 87,8 persen, namun jika dilihat secara terpisah, walau di Jawa sudah lebih 95 persen, di luar Jawa masih sekitar 75 persen.
Sebelum terlambat, cakupan imunisasi dan tindakan mitigasi lainnya, misalnya memperbaiki mutu gizi masyarakat harus dilakukan. (Kompas/NS)




