JAKARTA – Duta Besar Cina untuk Indonesia Xiao Qian membantah larangan beribadah bagi Muslim dan penghancuran masjid di Xinjiang.
Usai menghadiri agenda buka puasa bersama di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta, Kamis (9/5/2019), dia mengatakan laporan media Barat, khususnya ada yang dari media Eropa, Amerika, dan juga dari negara-negara lainnya adalah tidak benar.
Xiao Qian melanjutkan, berdasarkan Undang-undang Dasar dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Cina, kaum Muslim bisa menikmati kebebasan beragama. “Mereka juga punya kebebasan untuk melakukan ibadahnya,” ujar dia.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj yang mendampingi Xiao Qian berbicara, turut berkomentar. Said mengaku telah menyaksikan sendiri bagaimana Muslim di Cina itu bisa beribadah dengan tenang. Contohnya, saat ia melaksanakan shalat Jumat di Kota Xining.
“(Sebanyak) 20 ribu orang shalat, itu nggak muat masjidnya. Dan imamnya teman saya waktu kuliah di Madinah, bebas sebebas-bebasnya melaksanakan shalat, masjidnya diperluas,” ucap dia.
“Dan di sana imamnya keluaran Libya, saya kenal. Masjid di Beijing di jalan Niujie itu besar sekali dan ada madrasahnya. Saya juga diterima kepala bagian urusan luar negeri, dan ia Muslimah,” ujarnya, dilaporkan Republika.co.id.
Sebelumnya diberitakan jika The Guardian dan portal online investigasi Bellingcat, melaporkan adanya 15 masjid dan dua tempat suci tampaknya telah sepenuhnya atau hampir dihancurkan.
Wisma, kubah, dan menara bangunan telah dihancurkan, berdasarkan analisis citra satelit.
Di antara situs yang hancur total adalah Imam Asim yang menarik ribuan peziarah Uighur setiap tahunnya. Masjid dan bangunan lainnya telah dirobohkan dan hanya makam yang tersisa.





