
MESKIPUN negeri Ngalengka sudah berhasil ditaklukkan dan Prabu Dasamuka penguasa lalim nan otoriter sudah dibinasakan lewat senjata panah Guwa Wijaya, Prabu Rama belum juga merasa puas. Soalnya ada masalah baru datang mengganjel. Di berbagai sudut kota Ngalengka, ditemukan baliho iklan pengusir bau ketek berbunyi: Dulu Sinta sangat benci pada Dasamuka, tapi berkat Ojo Mrono sekarang jadi jatuh cinta.
Ini kan pelecehan dan pembunuhan karakter atas istrinya, Dewi Sinta. Masak Ibu Negara Ayodya sampai berbuat begitu? Tapi bisa juga memang demikian, Sinta sekarang sudah berubah. Maklumlah, sudah tiga kali Lebaran tak ketemu suami, akhirnya dia bertekuk lutut dan berbuka paha untuk penguasa Ngalengka.
“Kurang asem juga jika narasi iklan itu benar. Masak Dewi Sinta berkhianat padaku? Bertahun-tahun aku berjuang untuk merebut kembali dari Prabu Dasamuka, kok hasilnya malah begini.” gumam Prabu Rama.
“Sabar paduka raja, itu kan sekedar bahasa iklan, biasalah selalu bombastis. Iklan real estate kan bilang, 10 menit dari Stasiun Tugu, prakteknya satu jam baru nyampai,” hibur Patih Sugriwa meredakan emosi Prabu Rama junjungannya.
Patih Sugriwa sangat hafal kondisi Yogyakarta, karena sebulan sekali di malam purnama dia ikut main Sendratari Ramayana di Candi Prambanan bersama Anoman dan kawan-kawan. Dari situ jadi tahu bahwa sekarang kemacetan bukan lagi monopoli Jakarta. Naik mobil Yogya-Solo atau sebaliknya, sekarang bisa tiga jam baru sampai tujuan. Untung saja ada KA Pramex Solo – Kutoarjo.
Bersama Patih Sugriwa Prabu Rama siang itu menuju taman Argasoka. Mereka hendak menjemput Dewi Sinta, yang sudah 3 tahun dalam kekuasan Prabu Dasamuka sejak penculikan di hutan Dandaka. Tapi gara-gara iklan deodoran Ojo Mrono, gairah dan rindu Prabu Rama pada istri langsung ngedrop. Ibarat listrik dari 220 Volt turun menjadi 110 Volt seperti PLN jaman Orde Lama. Jangan-jangan istrinya sudah tidak suci lagi, tercemar oleh nafsu dan keangkara-murkaan Prabu Dasamuka.
“Oh kangmas Ramawijaya, akhirnya kita bertemu lagi,” sambut Dewi Sinta ketika bertemu kembali dengan suami. Dia berharap suaminya segera merangkul dan mendekapnya dengan mesra, ternyata tidak. Diajak bersalaman pun sambutan raja Pancawati ini terasa hambar.
“Benarkah iklan ini?” Prabu Rama menunjukkan gambar di HP-nya, tentang baliho Ojo Mrono.
“Itu iklan hoax Kangmas. Cek saja pada Mbak Trijatha….” jawab Dewi Sinta sambil menuding Dewi Trijatha, yang selama ini mengawal dan menemani di taman Argasoka.
Dewi Trijatha adalah putri Gunawan Wibisono. Sebelum diusir sang kakak Prabu Dasamuka dan kemudian bergabung dengan Prabu Rama, Gunawan Wibisono sempat menugaskan Trijatha untuk mengawal Dewi Sinta. Maksudnya, supaya dia pandai-pandai merayu Pakde Dasamuka, agar jangan sampai main kasar apa lagi memperkosa Dewi Sinta. Walhasil Prabu Dasamuka tak pernah berhasil menumpahkan gairah nafsunya pada Dewi Sinta yang diculiknya dulu.
“Dijamin Dewi Sinta masih utuh buntelan plastik, Oom.” Garansi Dewi Trijatha.
“Ah yang bener?” jawab Prabu Rama agak dongkol, wong statusnya raja definitip kok cuma dioom-oom.
Karena sudah lama tak ketemu mestinya Dewi Sinta diajak rendezvous ke hotel Ibis atau Ambarukma Palace Hotel. Tapi taksi online itu malah diarahkan ke Prambanan, menuju tempat pembakaran mayat. Prabu Rama sengaja ingin mengetes kesucian istrinya dengan cara dibakar. Bila Sinta masih suci hama belum pernah disentuh Dasamuka, dia akan selamat. Tapi jika sudah berhasil diajak kempoi oleh raja Ngalengka, pastilah binasa menjadi arang.
“Jangan berbuat konyol Sinuwun Prabu Rama. APBN Pancawati defisit karena terjadi mobilisasi anggaran untuk biaya perang merebut Dewi Sinta. Setelah berhasil kok malah mau dibakar. Kata Rocky Gerung, ini benar-benar di luar akal sehat dan cenderung ke perbuatan dungu!” protes Patih Sugriwa.
“Ini hak prerogratif raja, tahu! Mau saya bakar kek, mau saya rebus kek, itu urusan saya, wong bojo-bojoku dhewe kok padha repot.” Jawab Prabu Rama asal-asalan.
Tiba di rumah pengabuan jenazah, Dewi Sinta langsung dimasukkan ke kamar oven raksasa. Tapi aneh bin ajaib, istri Prabu Rama ini tenang saja, sama sekali tidak menunjukkan kepanikan, apa lagi berontak. Dia punya keyakinan, sepanjang dirinya jujur dan tak pernah dijamah Prabu Dasamuka, niscaya Yamadipati dewa pencabut nyawa itu takkan tega padanya.
Ternyata benar, karena api yang panas menyala-nyala itu di tubuh Dewi Sinta terasa dingin saja, bagaikan di kamar hotel berbintang lima. Bedannya, di sini tak ada bedcover dan bathtub untuk berendam. Apa lagi nasi goreng-telur ceplok untuk sarapan.
“Kenapa api ini tak membakarku, pukulun Sanghyang Yamadipati.” Kata Dewi Sinta pada Sanghyang Yamadipati, saat melihat dewa pancabut nyawa itu datang tiba-tiba.
“Ada yang membisiki saya, katanya kamu masih titisan Betari Widowati, sedang dia itu idola saya sewaktu bujangan dulu. Maka saya kordinasi sama Sanghyang Agni, agar daya panas api dibikin nol drajat celsius,” jawab Sanghyang Yamadipati blak-blakan.
“Oo, begitu. Terima kasih pikulan, eh….. pukulun…!”
Begitu oven dibuka, Prabu Rama kaget tapi sekaligus juga bersyukur. Sebab Dewi Sinta tetap dalam kondisi seperti sedia kala, tak ada sama sekali kulit dan rambutnya yang kebrongos. Karena ternyata Dewi Sinta masih suci hama betul-betul, sang istri pun dipeluk dengan mesra. Keduanya bercucur air mata tanda bahagia.
“Kau memang wanita cantik luar dalam, istriku….!” puji Prabu Rama, sementara Dewi Sinta hidungnya kembang kempis, macam ikan kehabisan oksigin.
Hari itu Prabu Rama hendak memboyong istrinya ke Ayodya negeri asalnya. Tiket pesawat pun segera dipesan untuk rombongan sebanyak 100 orang. Kata pihak agen tiket Traveloka, untuk penerbangan Ngalengka-Ayodya hari Kamis perorang ongkosnya Rp 600.000,- Maka Prabu Rama segera keluarkan cek tunai Rp 60 juta. Semua diurus oleh Kapi Jaya Anggada.
Tapi menjelang hari H tiba-tiba ada penjelasan dari pihak biro perjalanan bahwa harga tiket naik 100 persen karena terjadi kelangkaan pesawat. Hampir seluruh armada Blekok Airlines dicarter Indonesia untuk penerbangan haji ke Mekah. Soalnya untuk memperpendek waiting list yang sampai puluhan tahun, tahun ini sengaja Kemenag kirim sekaligus 2,3 juta jemaah, 10 kali lipat dari biasanya.
“Haduh, APBN jebol lagi nih….,” keluh Prabu Rama sambil tepuk jidat.
“Nanti transit dari Pancawati saja Sinuwun, biar bisa menghemat.” Saran Patih Sugriwa.
Benar juga saran patih Sugriwa ini. Nanti di Pancawati kan bisa jual saham atau BUMN untuk menutup biaya boyongan massal ke Ayodya. Negeri ini sudah lama ditinggalkannya. Sedangkan adiknya, Raden Barata sebagai prabu wakil, asal-asalan mengelola negara. Nyaris tak ada pembangunan, karena adik Prabu Rama ini takut terjebak korupsi dan kemudian diudak-udak KPK. Saking hati-hatinya, Waduk Pluit saja sampai dangkal, karena sampah dan lumpur tak pernah dikeruk.
Tapi ternyata, tarif tiket ke Pancawati hanya turun sedikit menjadi Rp 950.000. Patih Sugriwa lalu buka kalkulator di HP-nya. Wutttt…, dihitung-hitung masih ketemu angka Rp 95 juta, itu belum termasuk bagasinya. Apa akal? Ketimbang gagal pulang ke Ayodya, terpaksa sebagian kera disuruh naik kapal Pelni saja. Sedangkan segenap wayang yang mampu terbang sebagaimana Anoman, Gunawan Wibisono, terpaksa mengalah terbang solo, plek eplekkkkk……
“Kita prihatin dulu, Diajeng….” kata Prabu Rama.
“Nggak apa-apa Kangmas….” Jawab Dewi Sinta.
Maklum di negeri orang. Untuk bisa menambah dana pembelian tiket pesawat, Prabu Rama terpaksa tombok dengan menggadaikan dulu makutha yang biasa bertengger di kepalanya. Maka dalam penerbangan pulang ke Ayodya transit di Pancawati, Prabu Rama kali ini terpaksa hanya pakai kupluk seperti mau kenduri. (Ki Guna Watoncarita)


