
SUHU bumi semakin panas atau terjadi proses “global warming” yang menjadi judul tulisan ini bukanlah film horor Indonesia tahun 1973 karya Ali Shahab yang dibintangi oleh Suzanna dan Dicky Suprapto.
Saat ini suhu bumi global terus memanas dan mencapai rekor tertinggi, begitu pula di Indonesia, diawali musim kemarau sejak Juni lalu yang mengancam kekeringan dan paceklik air untuk keperluan sehari-hari dan pertanian.
Pemanasan global adalah proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi rata-rata 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir ini.
Suhu bumi meningkat 1,7 derajat Celcius dibandingkan 140 tahun lalu, sedangkan suhu di Indonesia Juni lalu tercatat oleh BMKG rata-rata lebih tinggi 1,2 derajat Celcius dibandingkan rata-rata per tahun pada periode antara 1981 – 2010.
Menurut salah seorang Kasubag BMKG Siswanto seperti dikutip Kompas (23/7), kondisi suhu tersebut terpantau di wilayah Sumatera, Jabodetabek, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi berkaitan erat dengan perubahan ikalaim global.
Rekor suhu terpanas Juni lalu juga terekam di Asia, Afrika, Amerika Selatan, Samudera Atlantik dan Pasifik, sementara di Eropah suhu rata-rata harian 10 derajat Celcius lebih panas dari level normal, bahkan di India, suhu mencapai 48 derakat Celcius.
Badan Atmosfir dan Kelautan Nasional AS (NOAA) juga merekam pengecilan 8,5 persen tutupan as di Antartika Juni lalu dibandingkan periode 1981 – 2010.
Penyebab pemanasan global yakni efek rumah kaca a.l. akibat polusi industri atau kebakaran lahan dan hutan, efek umpan balik penguapan air dan akibat perubahan aktivitas matahari yang memanaskan stratosfir.
Sementara BNPB mencatat, sejauh ini ada 1.821 desa di 75 kabupaten yang terdampak kekeringan 55 diantaranya di Jawa Barat, Jawa Timur da NTT telah ditetapkan sebagai status Siaga darurat kekeringan.
Wilayah ibukota dipredisi memasuki musim puncak kemarau antara Agustus atau September yang bisa berakibat terjadinya krisis air bersih di wilayah Jakarta Barat terutama waga yang memanfaatkan sumur dangkal.
Kekeringan di Jawa Barat a.l. ditandai menyusutnya volume air di waduk Darma, Kab. Kuningan yang mengairi sekitar 19.700 Ha lahan pertanian di Kab. Kuningan dan 13.300 Ha di Kab. Cirebon dari 36,5 juta M3 menjadi 31,6 juta M3.
Pemprov Jatim juga menyiapkan sejumlah upaya mitigasi guna menjaga agar produksi beras tetap surplus di tengah ancaman kekeringan dengan menyiapkan benih yang tidak rentan kekurangan air, peralatan serta sarana produksi pertanian.
Bencana alam termasuk musim kemarau tidak bisa dicegah, namun upaya mitigasi untuk menyongsongnya diharapkan dapat menekan risiko dan kerugian yang ditimbulkannya.




