Makin Tidak Jelas, Denuklirisasi Korut

Ilustrasi Kesepakatan terkait denuklirisasi Korut makin menjauh walau Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korut Kim Jong Un telah tiga kali bertemu (di Singapura, Hanoi dan Panmunjom). Korut terus menguji coba nuklir dan rudalnya, sebaliknya AS dan Korsel tetap menggelar latihan militer bersama.

KESEPAKATAN terkait penghentian uji coba nuklir dan peluncuran rudal balistik Korea Utara yang dinanti-nanti dunia cuma heboh di media setiap menjelang pertemuan antara para pihak yang bertikai.

Pertemuan bersejarah pertama Presiden Korsel Moon Jae-in dan Presiden Korut Kim Jong Un di wilayah DMZ Panmunjom, 27 April 2018 menghasilkan deklarasi penghentian permusuhan antara kedua negara serumpun yang berlangsung sejak berakhirnya Perang Korea pada 1953.

Setelah itu, genderang perdamaian seolah-olah ditabuh terus, berlanjut dengan KTT antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Kim Jong Un di P. Santosa, Singapura (12 Juni ’18), disusul pertemuan Hanoi (28 Feb. ’19) dan lagi di Panmunjom (30/6).

AS dalam konflik Korea dalah salah satu pihak yang menentukan, memimpin sekutu di belakang Korsel saat Perang Korea dan sampai saat ini masih menggelar kekuatan militernya termasuk 38.000 tentaranya di Korsel guna menghadapi ancaman Korut.

Ajakan Trump untuk bertemu dengan rivalnya, Kim Jong Un di Panmunjom 30 Juni lalu melambungkan lagi asa ke langit bakal terus menggulirnya proses perdamaian di Semenanjung Korea.

“Ajakan luar biasa (dari Tump-red) dan respons yang berani (oleh Kim-red) tersebut merupakan imajinasi yang menakjubkan melampaui yang bisa dibayangkan dalam tatanan diplomatik, “ tutur Presiden Korsel Moon kepada AFP (2/7).

Rasa takjub Presiden Moon bisa dipahami mengingat pertemuan Trump dan Kim sebelumnya di Hanoi Februari lalu yang semula digadang-gadang bakal menuai hasil kongkret terkait denuklirisasi di kawasan itu, nyatanya nihil alias tidak menuai kesepakatan apa pun.

Namun, belum cukup sebulan setelah pertemuan, di wilayah demiliterisasi Panmunjom, seolah-olah ngledek, Korut kembali berulah, menguji coba lagi dua rudal dari pangkalan Wonsan, pesisir timur negara itu, masing-masing meluncur 430 dan 690 Km pada ketinggian 50 Km.

Kalangan militer Korsel meyakini, kedua rudal yang diuji coba itu berkemampuan jelajah lebih jauh ketimbang dua jenis rudal yang diluncurkan Mei lalu yang hanya menempuh 420 Km dan 270 Km.

Tentu saja militer Korsel cemas, karena umumnya, sulit meningkatkan daya jangkau rudal dalam waktu pendek, sehingga dipertanyakan adanya kemajuan signifikan teknologi persenjataan Korut.

Sedangkan mantan juru runding nuklir Korsel, Kim Hong-kyun menilai, uji coba rudal disertai dengan rilis foto-foto kapal selam yang dimuat media hal yang sudah lazim dilakukan oleh Korut untuk menekan AS.

Hal itu, menurut dia, mengindikasikan bahwa Korut sedang mengembangkan rudal balistik yang bisa diluncurkan dari kapal selam.

Uji coba nuklir atau rudal Korut biasanya juga didasari alasan klasik, karena AS dan Korsel menggelar latihan militer bersama, mereka juga berhak berupaya memperkuat diri menghadapi berbagai ancaman.

Jika kedua pihak tetap saling ngotot, perundingan-perundingan cuma menjadi sekedar seremoni dan santapan media, sementara rakyat kedua Korea yang mendambaikan perdamaian kecele, begitu pula dunia. (AFP/AP/Reuters/NS)

Advertisement