DURNA TUMBAL

Prabu Jokopit sebetulnya ingin menyampaikan rencana dewa di kahyangan, tapi Begawan Durna sudah kabur ke Ngatasangin duluan.

SEBETULNYA hak atas negeri Ngastina ada pada keluarga Pendawa Lima, tapi karena Gendari istri Destarata juga berambisi salah satu putranya jadi penerus dinasti Ngastina, maka diciptakan isyu bahwa yang berhak jadi raja itu harus sudah akil balik dan pernah mimpi basah. Awalnya rakyat Ngastina tak percaya “dalil” itu, tapi begitu dihembuskan lewat “ulama” Begawan Durna, semua jadi percaya.

Maklum, Begawan Durna ini memang tokoh terpandang di Ngastina. Aslinya dia bukan WNA (Warga Negara Astina), karena asalnya dari negeri Ngatasangin. Yang merekrut dulu Prabu Pandu, setelah Begawan Durna bikin perguruan Sokalima Beragama. Maka bila Indonesia baru akan impor rektor-dosen tahun 2020, negeri Ngastina sudah sejak kapan-kapan impor begawan.

“Kenapa Dewi Gendari sampai sebegitunya ingin menguasai negeri Ngastina ya?” begitu pertanyaan masyarakar akar rumput.

“Sebab punya anak sampai 100, itu merupakan bonus demografi yang harus diantisipasi dengan cepat. Jangan sampai anak-anak Kurawa 100 itu jadi pengangguran.” Kata wayang akar rumput yang lain, rupanya suka nguping pendapat pengamat politik di TV swasta.

Demikianlah, dengan merujuk pendapat Begawan Durna, akhirnya putra pertama Kurawa, yakni Jaka Pitono, dijadikan raja Astina. Ada juga LSM yang menolaknya, tapi setelah diberi amplop segepok, lumer dah dia sehingga mendukung Jokopit –begitu dia sering dipanggil– jadi penerus dinasti Astina.

Tapi ternyata Jokopit ini hanya berbadan besar, tapi otak kecil. Dia jadi raja Astina nyaris tak berbuat apa-apa, semua hanya meneruskan program Prabu Pandu, ditambah kata plus, agar keren dan membumi. Misalnya bantuan sembako untuk manula, ditambah kata plus, karena isinya bukan saja beras, minyak goreng, telor dst, tapi ada juga voucher kuota Rp 50.000,-

“Aduh, aduh….., raja kita memang luar biasa. Selain santun juga pemurah. Ini menunjukkan sebuah keberpihakan pada manula,” kata penerima sembako plus.

“Hebat memang Jokopit. PBB pun digratiskan untuk manula.” Kata yang lain.

Syahdan, negeri Astina yang tenang itu mendadak heboh, ketika di medsos rame dipergunjingkan tentang polusi udara di Astina. Berdasarkan aplikasi pemantau udara AirVisual, tingkat polisi udara di Astina mencapai angka 184 standar AQI (Air Quality Index). Ini berdasarkan catatan terakhir, 1 Agustus 2019.

Prabu Jokopit segera menggelar sidang terbatas untuk mengantisipasi kondisi udara di negerinya. Patih Sengkuni memberi laporan, berdasarkan survei di lapangan, kekotoran udara di Astina memburuk akibat banyaknya beroperasi mobil tua, truk angkutan barang, pabrik-pabrik dan makin banyaknya pedagang kue rangi gara-gara meningkatnya angka pengangguran.

“Kesimpulannya, polusi udara terjadi karena asap diproduksi berlebihan.” Kata Patih Sengkuni mengakhiri laporannya.

“Kalau begitu tutup dan istirahatkan semua apa saja yang memproduksi asap.” Jawab Prabu Jokopit seenaknya.

Begawan Durna yang hadir dalam sidang itu menolak solusi Prabu Duryudana. Jika mobil dan motor dibatasi jam operasinya, masih bisa diterima akal sehat. Tapi jika pabrik disuruh tutup, sampai-sampai pedagang kue rangi dilarang beroperasi, ini mah lebai tingkat dewa. Pengangguran bisa berlipat-lipat karenanya.

“Nanti orang bakar sampah dilarang juga. Padahal di Sokalima tiap pagi saya masih suka bedhiyang (mengusir dingin) dengan bakaran sampah.” kata Begawan Durna.

“Warung sate ditutup? Wah, gue nggak bisa makan tengkleng dan tongseng, dong.” Potong Dursosono yang juga gadir dalam pasewakan agung (sidang raja) itu.

Begitulah, para pejabat Astina rata-rata berkeberatan dengan standar kepentingan masing-masing. Padahal mengurus negara bukan mementingkan orang perorang, tapi demi kepentingan bersama. Tapi sebagai raja yang santun, beriman dan mengedepankan keberpihakan, Prabu Jokopit juga tak serta merta menggolkan gagasannya. Belionya masih perlu pertimbangan pihak lain, sehingga keputusannya tak sampai cacat hukum. Apakah Prabu Jokpoit mau ke DPR? Bukan! DPR Astina sih, karena fraksi oposisi kecil sekali, pasti program raja bakalan mulus. Tapi kan……..

Ternyata Prabu Duryudana naik ke sanggar palanggatan (tempat bertapa). Titi sonya madya ratri (tengah malam) saat Satpam keliling kompleks pukul 01.00, baginda raja menerima wangsit atau wisik yang isinya. Memerangi polusi di Astina sangat mudah dan meriah, tidak perlu tutup pabrik, bakul sate dan kue rangi. Cukup ditumbali dengan darah pandita Durna, alias dipotong lehernya, kemudian darah segar itu disiramkan ke pohon beringin kembar di alaun-alun depan Istana Gajahoya.

“Bagaimana dinda Banowati, wangsit dewa kok horor banget ya. Ingsun (saya) harus menyembelih Pendita Durna sebagai tumbal,” bisik Prabu Jokopit pada ibu negara, Dewi Banowati. Takut didengar kawula lain.

“Itu artinya sampeyan diminta berkurban yang lebih spaktakuler. Bukan sapi benggala berat 1 ton, tapi langsung Pendita Durna tokoh nasional di negeri ini. Laksanakan saja, lebih cepat lebih baik.” Tanggapan Banowati seenaknya. Sebab Pendita Durna ini suka lirak-lirik terhadapnya. Matanya penuh nafsu, tapi nggak kewetu (hanya dalam hati).

Jika bocoran ini sampai ke Patih Sengkuni, pastilah dia juga sangat setuju dan mendukung. Tempo hari dia yang mengusut harta kekayaan patih Astina itu, sehingga dicurigai pakai uang korupsi saat membangun Jenar Plaza. Sekarang kena hukum karma, sapa gawe nganggo (yang menanam bakal memanen).

Tapi Prabu Jokopit masih merahasiakan ini, karena pertimbangan demi stabilitas nasional. Di kahyangan, kisah Durna tumbal sebagai wangsit dewa juga sudah jadi trending topic grup WA kalangan dewa, termasuk para bidadari. Padahal, yang namanya bidadari pasti ada nama Betari Wilutama, kekasih lama Begawan Durna.

“Ini informasi A-1. Jika tidak siap, sampeyan harus ambil sikap,” telpon Betari Wilutama kepada Begawan Durna, setelah kirim SMS tentang maklumat dewa itu.

“Iya, iya. Terima kasih mantanku,” jawab Begawan Durna, mendadak gagal fokus. Maklumlah, mendadak nyawanya terancam.

Gara-gara bocoran infomasi tersebut, saat sidang di Istana Gajahoya Begawan Durna memilih absen. Ini memang lebih menguntungkan, karena Prabu Jokopit bisa lebih leluasa membahas keputusan dewa yang sangat solutif tersebut. Begitu diumumkan disaksikan para wartawan medis cetak dan online, semua terbelalak. Yang nampak hepi-hepi hanya Patih Sengkuni.

“Negeri Astina tanpa Begawan Durna tak masalah. Tapi ini off the record lho ya.” Kata Patih Sengkuni pada pers yang mengerumuni.

“Bukankah ini kebijakan berbau dendam pribadi?”

“Bukan salah dendam, tapi demi kepentingan nasional harus dilakukan.” Jawab Patih Sengkuni.

Direncanakan, malam Selasa Kliwon 13 Agustus mendatang Durna hendak diseksekusi, kebetulan masih di hari tasrik kurban. Tapi ketika tim eksekutor dari Astina menuju kediaman Begawan Durna ke Sokalima, ternyata sudah kosong. Kata Satpam, Durna pergi keluar negeri. Katanya ke Ngatasangin bekas negeri leluhurnya.

Patih Sengkuni cek ke bandara Sentanu Airport, ternyata dia memang terbang ke Ngatasangin. Tentu saja Prabu Jokopit kecewa, jika tanpa ditumbali darah Durna, dikhawatirkan polusi udara dinegerinya mendekati angka 500 standar AQI.

“Ya semoga saja Begawan Durna pergi ke negeri leluhurnya untuk selamanya, sehingga Astina aman damai, bebas dari demo berjilid-jilid.” Kata Patih Sengkuni.

Patih Sengkuni memang merasa diuntungkan oleh kebijakan di kahyangan. Dendam pribadinya bisa terbayarkan. Soal polusi di Astina tetap tak tertangani, itu bukan usurannya. Kalau sabar ya tunggu sampai Perang Baratayuda saatnya Prabu Jokopit tewas dalam pertempuran melawan Bima. (Ki Guna Watoncarita)

           

 

 

 

Advertisement