SENGON DEWANDARU

KAHYANGAN Jonggring Salaka Minggu siang itu mestinya menyelenggarakan sidang selapanan terbatas untuk membahas persiapan Idul Adha 1440 H. Sanghyang Betara Guru (SBG) hendak mengetahui sampai di mana persiapan Bethara Narada selaku ketua panitia. Ada sapi berapa ekor, kambing berapa ekor, kemasan daging kurban seperti apa. Semua itu hendak ditanyakan secara detil oleh SBG selaku penguasa kahyangan. SBG tak mau ketanggor (kena batunya) dua kali. Tahun lalu pembagian daging kurban semrawut. Ada yang tak kebagian, ada yang dapat dobel-dobel. Bahkan kepala sapi digelapkan diam-diam.

Semua dewa elit hadir. Ada Sanghyang Bayu, Sanghyang Kamajaya, Sanghyang Sambu, Sanghyang Surya, tentu saja Sanghyang Betara Narada dan SBG. Bertindak sebagai MC Sanghyang Penyarikan, yang selama ini dikenal sebagai Sekretaris Kahyangan. Masih banyak dewa yang lain. Untuk rapat-rapat beginian pasti lengkap, sebab setiap peserta dapat uang transpor Rp 500.000,- Bagi kalangan dewa jujur tak pernah dapat sabetan, jumlah itu sangat berarti.

“Dari sekian dewa di kahyangan, kami laporkan bahwa Sanghyang Betara  Brama tidak hadir, ramanda SBG.” Kata Betara Penyarikan melaporkan.

“Sudah dikontak belum, ke mana dia?” Betara Narada bertanya.

“Lho, seminggu lalu saya lihat di Pasar Tanah sedang nawar kambing dia…” potong Betara Tremboko.

Tiba-tiba pettt…….listrik mati dan gedung Bale Marcakunda gelap gulita, ruangan menjadi panas, karena AC tak berfungsi. Para dewa pun langsung ingat Sanghyang Betara Brama, karena memang dia yang bertanggung jawab atas perlistrikan di kahyangan Jonggring Salaka. SBG juga mencoba kontak dianya, tapi gagal karena HP-nya juga ikut-ikutan lumpuh. Otomatis sidang bahas persiapan kurban jadi gagal.

Ketika listrik mati, semua ingat Betara Brama. Tapi apakah para dewa juga ingat, seperti apa penderitaan dia sebagai Dirut-nya PLN di kahyangan Jonggring Salaka? Seperti kata Sanghyang Brama kepada pers, tetapi dinyatakan off the record, sejak PLN dijadikan BUMN Penugasan, keuangan perusahaan jadi berdarah-darah. Soalnya PLN diminta menggratiskan semua kebutuhan listrik dewa-dewa di kahyangan. Padahal SBG sendiri tak  pernah segera menutup anggaran PLN lewat APBK (Anggaran Pendapatan dan Belanja Kahyangan).

“Rama SBG, kapan dana talangan untuk PLG (Program Listrik Gratis) untuk pelanggan dewa segera diganti?” tanya Betara Brama sekali waktu.

“Sabar kenapa Batara Brama. Dana negara masih dikonsentrasikan untuk membangun jalan tol kahyangan – ngercapada.”

Neraca keuangan PLN kahyangan negatif, tapi para dewa di kahyangan berebut tambah daya. Yang biasanya hanya 2.300 watt, kini minta 5.000 watt, gratis pula. Bahkan Sanghyang Yamadipati paling serakah, minta 10.000 watt. Katanya jika catu dayanya kurang dari itu, tak bisa jabut nyawa malam hari. Padahal operasional Yamadipati itu 24 jam, jabut nyawa kapan saja, tak bisa dari pukul 07.30 sampai 16.00. Memangnya PNS?

Demikianlah, gara-gara listrik mati bersamaan dengan menghilangnya Sanghyang Brama, oglangan (lampu mati) listrik jadi berkepanjangan. Mati sekitar pukul 11.45, sampai sore belum juga nyala. Kahyangan Jonggring Salaka nyaris keos. Jalan-jalan macet akibat lampu bangjo ikut pula tewas. Yang pelihara ikan koi, terpaksa ikannya digrinting (dikeringkan) gara-gara mati kehabisan oksigin. Mesin ATM, minimarket tutup tak ada tranksksi.

“Dari sing belum bisa mandi, air macet.” Keluhg Sanghyang Kuwera.

“Aku sih tenang-tenang saja, wong mandiku hanya saban Suro.” Jawab Betara Tembara yang rupanya penganur aliran kebatinan.

Betara Surya yang ditunjuk sebagai Plt Dirut PLN kahyangan dipanggil ke Bale Marcakunda. Ternyata jawabannya muter-muter nggak jelas, SBG jadi kesal, tanpa banyak cingcong Betara Surya diminta mencari penyebab gangguan listrik di kahyangan tersebut. Dikasih waktu 3 X 24 jam, jika gagal akan dicopot dari jabatan dewa, diturunkan ke bumi agar ikut Adipati Karno anak biologisnya. Biar tahu bagaimana sedihnya nunut (numpang) sama anak.

Sesuai titah paduka SBG, Betara Surya segera menelusuri kabel tegangan tinggi (SUTET) dari kahyangan hingga ngercapada. Semua jaringan kabel dipelototi, sampai cengeng (sakit leher) gara-gara harus mendongak terus. Wayang ngercapada pun pada heran, tumben-tumbenan Betara Surya mau blusukan ke bumi, persiapan Pilkada 2020 kali. Apa dia punya kendaraan politik?  Memangnya partai Karya Peduli Janda banyak pengikutnya?

“Blusukan ke kampung-kampung, cari dukungan ya Pakde?” tanya sesosok wayang yang tak mau disebut namanya.

“Dukungan ndhasmu njeblug! Ini sedang menelusuri jaringan SUTET yang bikin padam listrik di kahyangan, tahu!” jawab Betara Surya agak sewot.

Ketika penelusuran Betara Surya tiba di daerah Gunung Pati, Semarang, terlihatlah sebatang pohon sengon, yang jelas-jelas pucuknya hampir menyentuh kabel SUTET. Jika loncatan listriknya terkena pohon tersebut, bukan saja pohon itu mendadak mranggas (tinggal batangnya saja tanpa daun), tapi juga bisa menyebabkan gangguan ada jaringan listrik secara nasional.

Betara Surya segera pinjam sinso untuk menebang pohon sengon yang warga setempat menyebutnya Sengon Dewandaru. Tapi penduduk keberatan jika pohon itu mau ditebang, sebab belum tua benar. Jika sudah tua betul, bisa menjadi bahan bangunan handal jika direndam pakai air garam.

“Pohon segede ini mau direndem air garam? Habis berapa kwintal garam nanti.” Ujar Betara Surya songong.

“Kan tinggal impor. Masak yang impor rektor dan dosen doang.”

Sanghyang Surya tak peduli atas keberatan warga. Sengon Dewandaru tetap hendak ditebang, tapi ternyata gergaji mesin itu tak mempan, padahal batangnya tak keras-keras amat. Terpaksa Betara Surya kembali ke kahyangan Jonggring Salaka, minta petunjuk Betara SBG bagaimana solusinya. Ternyata dia malah diminta menghubungi Ki Lurah Semar di Karangkebolotan.

Ki Lurah Semar yang menjabat puluhan periode melebihi Pak Harto segera tiba di lokasi Sengon Dewandaru. Melihat sebentar, lalu dikencingi di seputar akar-akarnya, mendadak pohon sengon tersebut dengan mudah disinso. Bersama dengan itu tiba-tiba muncul Betara Brama dari dalam pohon sengon tersebut. Sebetulnya hendak lari, tapi langsung ditangkap Ki Lurah Semaran dan dikentuti tepat pada mukanta, duuuuuut….. langsung Betara Brama pingsan.

“Kamu jangan coba-coba sabotase ya, ketemu Semar baru nyaho!” kata Semar.

“Ampun, kakang Semar, saya kapok!” jawab Betara Brama setelah siuman.

Betara Brama ternyata menjadi otak pemadaman listrik di Jonggring Salaka. Dia segera digelandang ke Bale Marcakundha, untuk disidangkan. Keputusan SBG adalah, dia kena denda Rp 1 triliun, sebab dana itu nantinya untuk kompensasi pelanggan listrik yang terkena oglangan lebih dari enam jam. (Ki Guna Watoncarita)

           

Advertisement